CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ARJUNA GHIFARI


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Komaaaaang!” sapa seorang lelaki muda begitu Komang dan Mukti masuk ke sebuah Mall tempat Mukti janjian dengan teman-temannya. Mukti memang janjian di foodcourt mall tersebut.



“Hai aku kenal wajah kamu, tapi aku lupa namamu,” jawab Komang dengan ramah. Mukti langsung mendengus kesal melihat ada yang memanggil Ayya.



“Aku Arjun. Arjuna Ghifari. Masa kamu lupa?” kata pria tersebut dengan percaya dirinya.



“Astaga Arjun. Tambah ganteng aja,” jawab Komang dengan santai. Memang dia seperti itu di sekolah dulu. Arjun adalah teman SMA nya. Mereka satu tingkat tapi beda jurusan. Ayu di IPS sedang Arjun di IPA.



“Kamu tuh bisa aja, kalau aku tambah ganteng berarti sejak dulu aku ganteng kan? Kalau aku sejak dulu ganteng kenapa kamu enggak mau jadi pacar aku?” tembak Ajun santai. Mereka memang sangat akrab saat SMA.



“Aku enggak mau jadi pacar kamu karena kamu terlalu banyak pacar. Aku takut di selingkuhi,” jawab Komang dengan terkekeh.



“Kan aku sudah janji aku cuma mau kamu, enggak bakalan ada perempuan lain,” jawab Arjun. Komang tak sadar sejak tadi Mukti mendengarkan walau pun dari jarak cukup jauh dan Mukti juga tidak menegurnya karena sengaja ingin mengetahui hubungan mereka berdua.



“Tau ah,” jawab Komang Ayu.



“Eh aku minta nomor teleponmu dong? Kamu memang tinggal di sini?” tanya Arjun.



”Tidak aku tetap tinggal di rumahku di Badung. Di sini sedang kerja ngikutin bos. Jadi nyangkut di Solo sebentar, kemarin habis dari Jakarta. Mungkin minggu depan balik ke Jakarta lagi,” jelas Komang.



“Nanti di Jakarta ketemuan ya? Aku sekarang tinggal di Jakarta,” kata Arjun.



“Mana sini nomor teleponmu,” pinta Arjun lagi.



Komang pun memberikan nomor teleponnya dan Arjun melakukan missedcall.



“Simpan nomorku ya, nanti malam aku hubungi kamu. Sekarang aku keburu-buru,” kata Arjun sambil meninggalkan Komang. Arjun  menepuk lengan atas Komang dengan lembut lalu meninggalkan perempuan itu. Semua itu dilihat oleh Mukti dari layar ponselnya. Walau dia tak menghadap ke Ayya, tapi semua bisa dia lihat dengan jelas.



Komang segera berbalik badan mencari keberadaan Mukti, ternyata Mukti berada beberapa langkah darinya tapi memunggungi dirinya.



“Kita ke mana Pak?” tanya Ayu.



“Ke sana,” Jawab Mukti ketus sambil melangkah menuju ke arah meja yang sudah ada tiga orang temannya, dua lelaki dan satu orang perempuan.



“Lho Bapak kenapa dari tadi enggak ke sana duluan, nanti saya nyusul,” ucap Ayya tanpa merasa bersalah.


__ADS_1


“Kamu begitu ketemu pacarmu langsung memanggil aku Bapak lagi ya,” protes Mukti.



“Dan kamu juga mengusir aku suruh duluan agar bisa berlama-lama dengan pacarmu kan?” Mukti langsung berjalan menghampiri teman-temannya. Dia kesal karena Ayya langsung berubah. Mukti juga bisa melihat keceriaan jiwa muda Ayya begitu bertemu dengan teman masa SMA nya.



Ayya sadar dia salah memanggil Mukti, tapi kan bukan karena bertemu dengan Arjun hanya memang belum terbiasa.



Lalu dia bukan mengusir Mukti, tapi kan ke sini karena memang buat membahas  pekerjaan Mukti. Kenapa jadi harus terhambat dengan pertemuannya dengan Arjun tadi.



“Hallo,” sapa Mukti pada tiga orang temannya.



“Kamu ngapain lama berdiri di sana bukan langsung ke sini?” kata Wayan yang sejak tadi sudah melihat kehadiran Mukti.



“Aku menunggu asistenku. Kenalkan ini asisten pribadiku,” balas Mukti sambil memperkenalkan Komang Ayu pada teman-temannya.



“Wayan,” kata lelaki yang pertama.



“Komang,” jawab Ayya.



“Trisno,” kata seorang teman Mukti lainnya.



“Komang,” jawab Ayya dengan sopaan.




“Saya Komang Kak,” jawab Ayya agak panjanag karena dia pikir sesama perempuan tentu tak apa ramah.



Lalu mereka pun duduk, Silvana pindah ke sisi Mukti.



“Kalian belum pesan makan?” tanya Mukti.



“Ini kami baru mau pesan makan,” kata Silvana sambil menggeser kursinya mendekati kursi Mukti.



“Kamu mau makan apa?” Silvana menyodorkan menu makanan pada Mukti dengan menyodorkan badan. Tentu saja semua mengerti apa maksud body language dari Silvana tersebut.



“Aku yang memesankan makanan adalah asistenku, jadi kamu enggak perlu repot. Semua  yang aku pakai, semua yang aku makan itu urusan Komang,” Mukti jelas menolak keberadaan Silvana dengan jawaban yang dia berikan. Ayya mengerti. Mukti langsung pindah tempat duduk di seberangnya Silvana sekarang Mukti duduk di sebelah kirinya Wayan tempat Silvana tadi sebelum Mukti dan Ayya datang..



Ayya menuliskan apa yang dia pesan buat dirinya juga buat Mukti. Padahal dia hanya meraba karena belum terlalu hafal dengan makanan yang Mukti suka di sini, tapi setidaknya dia tahu Mukti suka yang pedas dan tidak pantang apa pun.



“Kenapa kamu pesan tiga minuman?” tanya Silvana melihat Ayya memesan dua lemon tea dan satu juice strawberry.


__ADS_1


“Kami biasa seperti itu,” jawab Komang Ayu.



“Pak Mukti memang minum lemon tea  atau teh tawar sehabis makan.  Tapi dia juga minum jus dan kebetulan hari ini pilihan saya adalah jus strawberry,” jelas Ayya menanggapi protes Silvana.



Silvana menunjukkan wajah tak suka pada Komang Ayu dan sebagai perempuan  Ayya pun sadar Silvana tidak menyukainya.



“Sepertinya dua minggu lalu kamu enggak bawa asisten,apa dia orang baru?” tanya Silvana pada Mukti.



“Saat itu Komang Ayu masih sibuk dengan pekerjaanku di Badung jadi aku tidak ajak. Dan saat itu sebenarnya aku sedang liburan dengan keluargaku di Solo,” jawab Mukti.



“Lama atau sebentar apa berhubungan dengan kinerja saya?” tanya Ayya dengan berani.



Mukti menatap Ayya, dia masih kesal dengan kasus Arjun tadi tapi sekarang dia merasa bahwa Ayya kesal karena ditekan oleh Silvana.



“Benar walau baru satu hari tapi Komang memang bisa mengerjakan semua yang aku inginkan. Jadi bukan soal dia lama atau baru dan soal lama atau baru itu urusan kami berdua. Kamu tidak usah menggubris,” kata Mukti.



“Sudah kita pesan makan aja,” kata Trisno.



“Aku sudah pesan kok,” Wayan memperlihatkan pesanannya.



“Malah kamu yang belum pesan,” ejek Wayan pada Trisno.



“Aku jadi malas makan karena ada orang ribut nyinyir dengan urusan orang lain,” jawab Trisno.



Sejak awal Trisno memang tak suka pada Silvana, karena dia tahu dari Wayan Silvana tiba-tiba ditunjuk oleh provinsi Bali/ Trisno punya banyak teman penari di Bali yang kecewa atas penunjukan Silvana.  Trisno juga dari seni tari jadi hafal teman-teman seni tari di Bali dan banyak teman bercerita tentang Silvana.



Mereka makan dengan basa-basi aja. Tak ada pembicaraan serius karena memang belum bicara masalah program kerja.



“Mas mau nambah ini?” tanya Ayya pada Mukti.



“Rasanya cukup,” jawab Mukti lembut seperti biasa. Mukti sangat ketus pada orang yang dia tak suka.



“Kamu panggil dia Mas?” tanya Silvana tak percaya.



“Kalau berdua, saya panggil Mas. Ada masalah dengan panggilan itu? Kalau bicara untuk orang umum saya pasti akan menyebut Mas Mukti dengan panggilan pak Mukti kok Kak.”



“Bahkan mamanya pun tidak repot kok saya panggil mas pada mas Mukti. Mamanya malah mengharuskan saya panggil dia Mama bukan ibu atau tante. Anda keberatan? Kalau keberatan protes ke mamanya saja,” jawab Komang Ayu dengan beraninya.



“Benar, memang kenapa kalau dia panggil Mas terhadap Mukti? Enggak ada salahnya. Kalau dia panggil Yank atau Love atau apa juga, bukan urusan kamu!” Kata Trisno yang makin memperlihatkan ketidaksukaannya pada Silvana. Wayan juga tahu semua tak ada yang suka terhadap Silvana.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok.



__ADS_2