CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BERTEMU AYAH DAN KAKEK BERSAMAAN


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Mah itu kakek Rustam, kita kenalan dulu yuk,” kata Mukti saat melihat Rustam masuk bersama pengunjung lainnya.



“Oh ya ayo, Mama suka kok kenalan dengan beliau,” Ambar tentu sangat senang berkenalan dengan kakek biologis nya Mukti walau tak ada yang tahu.



“Kek, kenal kan, ini Mama saya. Beliau datang ke sini karena papa kebetulan harus ke departemen perindustrian di sini,” kata Mukti memperkenalkan Ambar pada Rustam.



\*‘Wajah kakek Rustam benar-benar persis Mukti. Ini Mukti versi usia tua. Sedang kalau Ferry tidak seperti ini,’ \*batin Ambar. Karena dia sudah lihat foto Ferry saat muda juga saat sekarang.



“Wah kalau enggak salah anak saya juga akan datang, dia tiba-tiba ditugaskan ke sini. sebentar lagi dia tiba, sedang dalam perjalanan,” kata Rustam.



“Anak Kakek ada berapa?” tanya Ambar.



“Saya hanya punya satu anak laki-laki namanya Ferry Hermawan.” kata Rustam.



“Dia bekerja di Bandung dan kebetulan hari ini kembali ditugaskan di  Bali sehingga saya bisa ketemu dia. Mungkin kita bisa berkenalan dengan dia,’ kata kakek Rustam


__ADS_1


“Nah itu dia,” Rustam langsung melambaikan tangan pada seorang lelaki yang baru masuk arena pameran.



Mukti kaget melihat wajah ayah kandungnya tak terduga di pameran seperti ini. Mukti bisa melihat bagaimana wujud ayah kandungnya walau dia tak ingin mengakui.



“Fer ini anak dan istri dari temanmu yang kamu bilang berikan ayah vila gratis. Ini ibu Ambar istri pemilik villa,” Rustam memperkenalkan Ambar pada Ferry.



“Apa khabar Bu? Salam kenal,” sapa Ferry dengan sopannya.



Ambar ingin menitikkan air mata melihat ayah biologis dari putra yang selama ini dia gendong sejak lahir.



“Salam kenal juga Pak Ferry, kebetulan ada pekerjaan di sini?” tanya Ambar ramah.




“Ini anak saya yang punya gawe,” kata Ambar.



“Selamat siang, selamat datang Om,” sapa Mukti. Ambar mengetahui ada getar di suara anaknya. Ambar memeluk pundak sang anak memberi dukungan agar putranya kuat.



“Ayo kita bikin foto. Made tolong bikin kan foto kami berempat dan nanti foto para lelaki ini bertiga,” kata Ambar memberikan ponselnya pada Made yang mendekati Mukti untuk memberitahu pembukaan acara bisa dimulai.


__ADS_1


Mereka pun berfoto berempat dengan beberapa kali ganti posisi.



Dari foto itu jelas terlihat wajah Mukti jauh sekali berbeda dengan wajahnya Ferry. Mukti sangat mirip dengan Rustam. Ambar langsung memeluk Mukti dengan erat.



Ambar tahu bagaimana kacaunya hati putra.



“I love you. Enggak usah bingung, Mama dan Papa selalu mencintaimu seperti biasa,” bisik Ambar menguatkan batin putranya tercinta.



“Thanks Ma. Mama yang terbaik buatku dan tak ada yang bisa menggantikan Papa Abu. Tak akan ada yang bisa Ma tak akan ada,” balas Mukti juga sambil berbisik dan terbata.



“Do the best. Tenang aja. Mama keliling ya kamu temani mereka atau mau buka acara?” Ambar pamit pada Mukti.



“I will Ma. Aku akan lakukan yang terbaik buat Mama dan Papa. Aku ingin kalian bangga padaku. Aku akan buka pameran lebih dulu,” jawab Mukti tanpa malu mengecup pipi mamanya padahal banyak kamera selalu tertuju ke arahnya.



Acara dimulai dengan banyak kata sambutan. Baik dari utusan pengganti menteri Pariwisata maupun langsung dari Gubernur. Saat sambutan ketua panitia dengan bangga Mukti memanggil mamanya untuk naik ke panggung.



“Dia perempuan terhebat dalam hidup saya. Ambarwati Sutiono,” sebut Mukti. Di pintu Abu melihat bagaimana Mukti selalu berupaya mengangkat Ambar terlebih setelah tahu dia bukan siapa-siapa Ambar.



Sehabis acara seremonial, Mukti, Abu dan Ambar ngobrol bareng dengan Rustam dan Ferry.  Mereka ngobrol tentang semua hal, baik tentang pahat, pameran mau pun kondisi Bali saat ini.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok



__ADS_2