CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MENUNGGU PERINTAH MBAK AYU


__ADS_3

Sejak mendapat telepon dari Adelia yang memberitahu bahwa Ayya panik mendapati Mukti sakit, Ambar jadi kalang kabut. Dia menghubungi Ayya tapi tak diangkat. Rupanya ponsel Ayya diletakan di meja tengah dan pemiliknya sibuk mengurusi Mukti.


Ambar berkali-kali menghubungi bu Pinem menanyakan perkembangannya. Telepon pertama bu Pinem sedang membuat teh hangat. Telepon kedua bu Pinem sedang berada di apotek membeli obat yang dipesankan oleh Adelia untuk dikonsumsi oleh Mukti.


Dan barusan ketiga Bu Pinem sedang membuat bubur yang diperintah oleh Ayya untuk makan siang Mukti. Ambar benar-benar kalang kabut


“Mbak Ayu makan dulu, nanti saya dimarahin ibu Ambar. Kalau mbak Ayu nungguin orang sakit, Mbak Ayu-nya harus sehat,” bujuk Bu Pinem.


“Kamu makan dulu ya Yank,’ pinta Mukti pelan dan lambat.


“Ibu aku bisa minta tolong?” kata Ayya.


“Kenapa Mbak?” tanya Bu Pinem.


“Bawakan nasi saya dan buburnya pak Mukti ke sini. Biar saya makan di sini sambil menyuapi Pak Mukti,” jawab Ayya.


“Nasi saya setengah sendok nasi saja.”


“Iya Mbak,” jawab Bu Pinem. Dia tahu porsi makannya Ayya memang sangat sedikit. Terlebih sekarang sedang bingung menghadapi sakitnya pak Mukti.

__ADS_1


“Ayo Mas makan. Aku suapin sambil aku makan. Kalau Mas nggak makan, aku juga nggak makan,” ancam Ayya.


Mukti tersenyum melihat kelicikan tunangannya. Dia pun mengangguk walau sulit.


Ayya meletakkan nampan di atas pahanya, dia duduk di ranjang Mukti. Satu suap Ayya makan, lalu satu suap dia menyuapi bubur dan semur daging untuk Mukti.


“Mas udah cukup ya,” rengek Mukti. Mulutnya terasa pahit. Tak enak menelan makanan yang masuk tenggorokannya.


“Dua suap lagi. Habis itu aku nggak maksa,” ucap Ayya.


Mukti pun mengikuti permintaan Ayya. Dia makan dua suap seperti yang Ayya inginkan. Lalu kembali minum teh yang dibikinkan oleh bu Pinem.


“Aku taruh ini dulu ke dapur ya?” Ayya pamit menaruh piring dan mangkok kotor. Ayya kembali dengan nampan berisi air putih dalam botol juga gelas dan sedotan.


“Kata kak Adel, 2 jam lagi Mas harus minum obat. Sekarang tidur dulu ya,” kata Ayya. Dia mengganti wash lap di dahi Mukti.


“Bisa peluk Mas?” pinta Mukti lirih.


“Ayya membaringkan tubuhnya di sebelah Mukti. Dia memeluk Mukti agar segera terlelap.

__ADS_1


“Terima kasih,” jawab Mukti sebelum dia terjatuh ke alam mimpi. obatnya benar-benar tak mampu dia tahan.


Tanpa sadar Ayya yang juga semalam kurang tidur ikut menemani Mukti ke alam mimpi.


“Mereka sedang tidur Bu, barusan saya intip. Mungkin Mbak Ayu juga terlalu lelah karena sejak semalam dia kan bikin makan untuk pak Mukti dan subuh sudah urusin pak Mukti lagi. Ini barusan saya lihat Mbak Ayu ikut tidur.”


“Pak Mukti masih dikompres dan sudah makan bubur yang diminta oleh Mbak Ayu,” kata bu Pinem melaporkan apa yang ditanya oleh Ambar.


“Tapi Ayu sudah makan kan?” tanya Ambar lagi. Dia takut keduanya sakit.


“Mbak Ayu barusan makan Bu, walau seperti biasa porsinya sedikit. Tapi dia makan. Pak Mukti juga makan enggak habis, tapi lumayan lah 3/4 nya sudah dimakan oleh pak Mukti. Lauknya juga habis banyak,” kata bu Pinem selanjutnya.


“Memang Ayu nyuruh bikin lauk apa?” tanya Ambar.


“Tadi Mbak Ayu minta bubur gurih sama semur daging giling. Karena dia bilag mulut orang sakit itu enggak enak, jadi masakan harus yang teraa gurih dan manisnya.”


“Buat malam buburnya masih ada?” tanya Ambar.


“Bubur untuk malam ada Bu. Mungkin nanti lauknya nunggu perintah dari Mbak Ayu saja. Kadang pak Mukti juga tergantung Mbak Ayu. Kalau kita bikinkan tapi nggak sesuai dengan mbak Ayu,  pak Mukti juga nggak akan makan kok Bu.” jelas bu Pinem.

__ADS_1


“Ya sudah, tinggal lauk malam aja kan yang belum ada?”


“Iya Bu. tinggal lauk malam nunggu perintah dari Mbak Ayu.”


__ADS_2