CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MENDENGAR SUARA KHAWATIRNYA


__ADS_3

“Ceritanya bagaimana sih elo bisa pingsan?” tanya Made di kamar yang disiapkan untuk Wayan.


“Gue sendiri nggak tahu. Kok bisa pingsan. Gue sadar sudah ada di kamar ini ditemenin sama bokapnya Mukti. Gue itu tadi ngopi sendirian di kantin belakang,” ucap Wayan.


“Di kantin belakang itu ada CCTV atau enggak?” tanya Made pada Mukti.


“Waktu itu kita bikin CCTV kan hanya ada di ruang pamer, ruang depan saja. Kalau kantin kayaknya kita nggak bikin jalur ke sana,” jawab Mukti.


Maksudnya Made adalah CCTV tambahan yang panitia pasang. Kalau yang dari pengelola gedung tentu beda. Bahkan di parkiran juga ada.


“Tapi tadi elo sudah bilang kan CCTV semuanya nggak boleh diubah apa pun dari pertemuan pertama?” desak Made.


“Iya waktu gua dengar Ayya, bilang Silvana ada sejak pembukaan pameran. Gue tadi sudah bilang rekaman CCTV harus utuh diminta ketua  panitia kalau sampai ada di edit atau apa pun gua akan aduin dia untuk di penjara,” jawab Mukti.


“Semoga kita bisa meminta pengelola rekaman CCTV dari milik mereka kalau kita enggak pasang di sana,” desah Wayan.


Selama ini memang Mukti tak berpikir untuk meminta rekaman CCTV karena merasa tak butuh. Sebab kejadian tragedi itu bukan di pameran. Tapi tadi saat menerima pesan dari Abu bahwa Silvana terlihat sejak pembukaan pameran maka Mukti minta agar rekaman CCTV sejak persiapan pameran harus dilaporkan ke dia besok sehabis acara selesai.


“Apa ya motivasi dia bikin seperti ini? Kita langsung sebut sama Silvana saja deh biar nggak ngomong DIA,” kata Wayan.

__ADS_1


“Gue nggak tahu. Yang gua tahu elo dicariin Silvana saat elo pingsan. Mungkin mau buat alasan seperti waktu dia bilang elo sakit. Jadi elo mau dibawa pergi sama dia, lalu gue ditelepon kasih tahu kalau elo sakit dan ada sama dia. Kalau gua pikir seperti itu karena dia belum bisa langsung dapetin gue,” ucap Mukti merinci dugaannya.


“Itu versi gue yang secara GR, karena tadi kan suster juga bilang elo dicariin sama dia,” ucap Mukti lagi.


“Kok kalian bisa tahu dia cariin gue?”


“Suster antar jacket elo dan lapor ke Made ada ceweq cariin elo. Made kasih lihat ke suster gambar Silvana dan suster bilang betul itu yang nyariin elo dan kayaknya suster bilang orang itu mau langsung nyariin elo ke tempat tinggal elo di sini maksudnya mungkin di mess peserta.”


“Untung tadi Mukti langsung kepikiran ya bawa Wayan ke sini. Kalau Wayan masih di ruang berobat pameran, bisa saja suster kasih Wayan dibawa pulang sama Silvana. Karena dia kan bilang bahwa Silvana adalah keluarganya Wayan,” kata Made.


“Itulah, tadi nggak tahu kenapa tiba-tiba gua punya pikiran lebih baik Wayan di bawa ke rumah gue saja,” jawab Mukti.


Mukti menghampiri Ambar dan mencoleknya minta di speaker. Dia bicara pada Mama nya dengan membuka mulut tanpa suara. Mukti kangen suara Ayya. Ambar mengabulkan permintaan putranya. Dia me-load speaker pembicaraan itu agar Mukti mendengar jelas.


“Ya sudah Ma kalau mereka sudah di rumah. Alhamdulillah. Mas Mukti dan kak Made masih selamat ya Ma. Semoga saja kak Wayan bisa segera pulih,” ucap Ayya.


“Tadi sudah diperiksa dokter kok. Langsung dikasih suntikan penawar obat tidurnya, jadi besok dia bisa aktivitas normal,” balas Ambar.


“Alhamdulillah,” jawab Ayya lagi.

__ADS_1


“Ya sudah ya Ma. Nanti kalau ada apa-apa kabarin saja. HP ini aku off in lagi ya Ma. Aku males dapat terror telepon dari mana-mana. Sekarang ada nomor yang nggak dikenal telepon. Karena nomor Carlo dan Lukas sudah aku blokir Ma. Tapi jadi ada nomor beberapa nomor asing yang suka telepon.”


“Kalau Mama  butuh kamu tengah malam bagaimana? kan Mama  bingung hubungin kamu,” pancing Ambar.


“Aku akan nyalain telepon dua jam sekali untuk ngecek saja Ma. Kalau nggak ada kabar apa pun aku langsung matiin. Yang penting kan sekarang aku sudah tahu mas Mukti aman di rumah Mama,” cetus Ayya.


“Iya Sayang. Dia aman kok. Kamu tenang saja,” kata Ambar. Mukti meneteskan air mata mendengar suara Ayya seperti itu. Masih penuh cinta dan perhatian untuk dirinya walau dia telah jelas-jelas bersalah di mata Ayya.


“Salam buat eyang dan papa ya Ma,” pamit Ayya.


“Iya, nanti Mama  sampaikan. Kamu tidak kirim salam buat Mukti, Made, dan Wayan?” tanya Ambar.


“Nggak Ma. Nggak usah. Nanti malah jadi kepikiran. Assalamu’alaykum Ma.” kata Ayya. Tanpa menunggu jawaban dari Ambar, Ayya langsung mematikan pembicaraan.


“Terima kasih ya Ma, aku bisa dengar suara dia,” kata Mukti. Ambar melihat ada sisa air mata yang belum terhapus dari mata putranya.


‘Cinta mereka berdua sangat besar. Sayang kendalanya selalu ada saja mengganggu kisah mereka. Tidak mulus seperti Sonny dan Adelia.’


‘Apa karena cinta sebelumnya Adelia sudah disakiti oleh Jeffry dan cintanya Sonny ditipu oleh Vio sehingga saat Sonny bertemu Adelia sudah langsung mulus saja?’ pikir Ambar lagi.

__ADS_1


__ADS_2