
“Mbak, Pak Mukti dari siang tadi belum makan lo,” lapor orang yang bertugas masak di cabang Denpasar, saat itu Ayya ke dapur untuk menaruh gelas kotor bekas minum para teman Mukti tadi.
“Kenapa? bukannya sudah minta disiapkan makanan? tanya Komang Ayu.
“Tadi waktu mau makan siang nyariin Mbak, karena Mbak enggak ada lalu terus dia nggak jadi makan deh. Cuma ngomel dan marah-marah sama semua orang.”
“Maaf ya karena saya pergi, kalian jadi dimarahin pak Mukti,” Ayya jadi tak enak hati karena merugikan karyawan lainnya.
“Nggak apa-apa kok Mbak. Kami mengerti,” pegawai dapur dan semua karyawan tadi melihat pak Mukti langsung memeluk dan mengecup kening Komang ketika gadis ini tiba dan baru turun dari ojek.
Ayya pun segera mengambil sepiring nasi juga lauk dan satu gelas air putih. Saat itu Mukti masih ada kerjaan di ruangannya. Semua temannya sudah pulang, waktu hampir mendekati magrib.
“Aaa …,” Kata Ayya. Mukti melihat satu sendok nasi dan lauk sudah mendekat ke arah mulutnya. Tanpa menolak Mukti pun membuka mulutnya. Tak ada penolakan apalagi protes, terlebih dia memang sangat lapar.
“Mas boleh marah ya sama aku. Aku juga bisa kok marah sama Mas,” kata Ayya.
“Kenapa?” tanya Mukti.
“Kamu sendiri nggak sayang sama tubuhmu, bagaimana mau bilang sayang sama orang lain?” omel Ayya.
“Maksudmu apa sih Yank?” Mukti masih tak mengerti ke mana tujuan arah pembicaraan Ayya.
“Sudah sejak siang tadi nggak makan kan padahal sudah mau magrib. Itu kan artinya nyiksa diri sendiri,” Ayya menjelaskan alasan kemarahannya.
__ADS_1
Merasa ditegur seperti itu Mukti pun tak berani protes.
“Habiskan sendiri ya?” kata Ayya.
“Ya udah cukup kok segitu aja,” jawab Mukti.
“Baru sedikit, masa udahan,” protes Ayya.
“Habis maghrib kita keluar bareng aja makan di luar. Sekalian pulang ke Uluwatu. Sekarang cukup segitu aja. Kalau kamu mau nyuapinnya sampai segitu ya udah Mas berhenti,” jawab Mukti santai.
“Ya nggak gitu juga dong, habiskan dulu,” bujuk Ayya.
“Kalau habiskan, ya selesaikan dulu suapinnya. Baru nanti aku habisin.” kata Mukti tak mau rugi.
“Enggak ngancam cuma ngasih tau aja,” jawab Mukti ambil kembali menerima suapan dari Ayya. Dia pandang wajah manis gadis yang telaah mulai mau memperhatikan dirinya ini.
Saat itu terdengar pintu yang terbuka diketuk padahal sejak tadi memang Ayya tidak menutup pintu. Rupanya seorang pegawai hanya memberi kode bahwa dia tidak langsung nyeluntur aja.
“Masuk,” jawab Mukti sambil kembali menerima suapan terakhir dari Ayya.
“Ini Pak datanya yang tadi Bapak minta.”
Pegawai tersebut melihat bagaimana telatennya Ayya sedang menyuapi Mukti.
__ADS_1
Ayya menyerahkan gelas pada Mukti karena nasi yang diambil tadi sudah habis. Mukti pun langsung meminum dan memberikan gelas kembali ke Ayya.
Ayya langsung keluar ruangan untuk meletakkan piring kotor.
“Ini sudah semuanya?” tanya Mukti.
“Iya Pak, itu sudah semua.”
“Baik, nanti saya cek lagi. tolong data ini juga kamu kirim ke emailnya Bu Komang biar dia check. Karena kami juga mau langsung pulang ke studi,” Mukti minta data dikirim juga selain yanag bentuk fisik.
“Baik Pak, nanti saya kirim ke emailnya Bu Komang.”
“Mbak Komang sudah selesai makannya?” tanya petugas dapur yang tadi melihat Ayya mengambil nasi dan lauk.
“Sudah Bu,” kata Ayya.
“Nggak nambah Mbak?” tanya orang dapur tersebut.
“Cukuplah habis ini kami mau pulang ke Uluwatu karena laptop dan segala pekerjaan saya kan ada di sana.”
“Kirain nginep di sini,” kata orang tersebut.
“Saya tergantung Pak Mukti saja. Kalau Pak Mukti nginep ya saya nginep kalau Pak Muktinya nggak mau bilang apa?” jawab Ayya.
__ADS_1