
“Komang jawab dong?” desak Sri membuyarkan lamunan Ayya.
“Jawab apa?”
“Apa benar pak Mukti pernah menyatakan sayang sama kamu?”
“ Ya itu tadi waktu kami pulang dari ruang meeting kami bertengkar hebat dan dia bilang semua yang dilakukan, dia melarang-larang aku itu karena rasa sayang dia kepadaku. Aku langsung berpikir jauh, kami baru bertemu belum satu bulan saat itu. Tapi dia sudah bilang sayang sama aku. Oke lah pertemuan kami memang intens 18 hingga 20jam per hari. Kami memang berinteraksi bersama. Ke mana ada Mas Mukti pasti aku ada. Tapi kan enggak semudah itu juga dia bilang cinta sama aku.”
“Dia melarang aku memanggilnya PAK, dia minta sebutan MAS. Padahal pegawai lama semua memanggil dia pak.”
__ADS_1
“Lalu yang berikutnya adalah ketika kasusnya Saras. Aku disiram 5 cangkir kopi mendidih, jatuh ke d4da aku. Di situ aku memang merasakan betapa dia mencintai aku. Tapi tetap aku enggak berani menerimanya. Aku takut aku nanti seperti papa dan ibuku. Papa adalah majikan dan ibuku adalah pembantunya. Apakah aku akan sama nasibnya seperti ibu? Tentu aku tak mau hal itu terjadi.”
“Tapi ibumu kan istri siri, sedangkan pak Mukti kan enggak punya istri. Jadi kamu nanti istri pertama dan satu-satunya,” Sri berupaya menerangkan perbedaan antara Komang Ayu dan Sukma.
“Tetap saja status itu tak bisa aku hilangkan, majikan dan pembantu. Aku enggak mau itu terjadi padaku, tak akan pernah,” kata Komang Ayu sambil menggeleng. Menegaskan betapa dia tak ingin semua itu menimpanya.
“Kamu tadi bilang merasakan cinta pak Mukti waktu kecelakaan itu, bagaimana maksudnya?” pancing Sri.
“Aku masih kepanasan. Aku kena luka bakar di bagian d4da. Saat itu di mobil pak Mukti mengucapkan kata-kata yang tak akan pernah aku lupa. Please kamu harus bertahan untuk aku. Kalau kamu sedih seperti ini aku seperti kehilangan separuh nyawa aku. Kamu semangat hidup aku, bertahanlah buat aku. Aku cuma sayang sama kamu. Enggak ada orang lain lagi. Itu kata-kata manis pak Mukti saat itu di mobil.”
__ADS_1
“Aku bisa merasakan dia gemetar memelukku. Mungkin dia marah dan terluka karena aku mengalami kecelakaan seperti itu. Aku juga melihat ada air mata di pelupuk mata Mas Mukti saat dia mencium kening aku pertama kali. Dia menciumi pipiku dan mata serta keningku tak berhenti-henti sampai kami tiba di rumah sakit.”
“Alhamdulillah dia tidak mencium bibirku sih. Tapi aku merasakan betapa dia sangat ketakutan kehilangan aku. Aku takut. Aku takut sekali kalau sampai dia tak bisa menepis rasa sayangnya untuk aku. Karena aku tak akan pernah bisa menerima cinta dia. Dia bukan untuk aku sama sekali.”
“Lalu kamu mau sama siapa? Kalau kamu punya pacar seperti Arjun, kamu bisa menghindari pak Mukti. Tapi kalau enggak, kan enggak mungkin.”
“Aku mau pulang aja sih, aku mau pulang. Aku enggak ingin kerja di tempat siapa pun lagi seperti ini,” tegas Komang Ayu.
“Sekarang papa sudah ada toko. Kami bukan pengejar kekayaan. Aku dan papa tentu akan cukup hidup hanya dengan hasil toko saja. Kalau kamu mau bertugas di Bali, mungkin aku bisa usulkan kamu yang jadi penggantiku nanti,” jelas Ayya.
__ADS_1
“Kalau soal pekerjaan aku tak keberatan, tapi dasar pak Mukti mempekerjakanmu kan berbeda. Kamu tak akan mungkin bisa digantikan oleh siapa pun.”