CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
DUKANYA AKSA


__ADS_3

Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


Abu sudah bicara pada Mukti bahwa orientasi mereka sekarang adalah menghajar Vio dan Imelda serta menemukan Ambar. 



"Sebaiknya kalian berdua langsung aja urus Vio dan Imelda di Jakarta karena kejadiannya kan di sana." Airlangga memberi perintah Abu dan Mukti segera berangkat ke Jakarta agar tak membuang waktu.



"Sebaiknya Mama dan Papa ikut aja," kata Abu.



"Lalu kamu pikir Aksa aman ditinggal sendiri? Dia mau ujian nasional! Bagaimana bila nilainya ambruk?" tanya Menur. 



"Aku lupa tak ada Ambar yang jaga anak-anak bila aku pergi," jawab Abu pelan.



"Kamu baru sadar kan bagaimana besarnya peran Ambar selama ini. Tak pernah dia mengeluhkan hal itu padamu sama sekali." Ungkap Menur.



"Iya Ma, aku salah," jawab Abu selanjutnya.



"Ya sudah kalian bersiap. Kalian urus masalah Vio dan Imelda. Dan kamu Mukti, syarat kembali ke keluarga ini kamu harus buktikan kata-katamu. Kamu harus cabut itu surat kuasa di pengacaranya Vio." titah Airlangga selanjutnya.



"Iya Eyang, pasti aku akan cabut. Aku harus ke Jakarta untuk menandatangani pencabutan surat itu," jawab Mukti dengan pastinya.



Abu dan Mukti pun bersiap untuk ke Jakarta.


__ADS_1


"Kamu cari tiket dulu tiket tercepat apa pun!  Biar Papa urus Aksa dulu agar dia siap ditinggal kita,"  kata Abu pada Mukti.



"Baik Pa," jawab Mukti dia pun langsung menghubungi jasa travel penyedia ticket yang biasa digunakan oleh keluarga Lukito.



"Enggak bisa kalau yang satu jam lagi Mbak terlalu cepat. Kami masih jauh dari bandara minta yang minimal dua atau tiga jam karena jarak tempuh kami itu butuh 45 menit ke bandara," kata Mukti pada petugas travel yang sedang bicara dengannya.



"Oke nggak papa ekonomi enggak apa-apa yang penting kami cepat berangkat," jawab Mukti lagi.



Mukti bergegas ke kamar Aksa untuk memberitahu Abu kalau mereka telah dapat tiket penerbangan terakhir ke Jakarta walau tiket ekonomi bukan kelas bisnis seperti biasa mereka beli.



Baru hendak bicara Mukti mendengar Aksa adiknya bicara tegas pada papanya. Pintu kamar Aksa tak dikunci sehingga suara Aksa terdengar jelas.




"Papa punya anak cuma mas Mukti aja. Bukan aku dan Mas Sonny. Kami berdua bukan anak papa," Mukti pucat pasi mendengar kata-kata Aksa yang tajam seperti ini pada Abu papa mereka. 



"Papa enggak pernah tahu kapan aku pertandingan futsal. Apa Papa tahu kapan jadwal aku ujian semester sebelum ini? Apa Papa tahu berapa nilai hasil ujianku? Enggak pernah kan?" 



"Papa tahu, walau semua itu aku laporkan tapi papa nggak peduli."  



"Apa Papa tahu kapan aku harus ambil rapot nilai bayanganku semester ini padahal itu aku sudah laporkan."


__ADS_1


"Tapi Papa tahu kapan mas Mukti pameran. Papa tahu kapan mas Mukti pergi ke Surabaya. Papa bahkan tahu kapan Mas Mukti harus memperpanjang STNK-nya mobilnya dan mengingatkannya."



"Semua Papa tahu kalau soal mas Mukti tapi soal aku dan Mas Sonny, Papa tak peduli karena kami bukan anak Papa!" 



"Sekarang Papa mau bicara apa?" 



"Papa nanti mau ke Jakarta mau mengurus perusahaan. Papa ingin kamu tetap belajar dengan baik untuk ujianmu," Mukti mendengar Abu menjawab. Sejak tadi Mukti tak mendengar papanya membela diri. Mukti merasa papanya tak membantah semua ucapan anak bungsunya karena semua perkataan anak kecil itu benar adanya.



"Selama ini Papa nggak peduli sama aku walau Papa ada di rumah. Papa tak perlu izin untuk pergi. Aku bukan anak Papa. Setidaknya tak pernah ada aku dan mas Sonny dihati dan pikiran Papa."



"Papa juga nggak pernah tahu kan gimana aku di sekolah? Papa enggak perlu perhatian, walau mama dan mas Sonny entah dimana, mereka selalu ada buatku!"



"Mama dan mas Sonny tetap kasih perhatian sama aku setiap hari! Tiap hari mama dan Mas Sonny telepon ke sekolahku bukan ke ponselku, jadi aku enggak tahu mereka ada dimana." 



"Tapi yang pasti mereka selalu ada jadi nggak usah repot pura-pura ada untukku. Urus aja anak papa sendiri itu."



Mukti Abu mendengar kata-kata itu dengan pedih.



Mereka merasakan sakit yang Aksa rasakan selama ini. Rasa sakit yang dia pendam. Pasti ada dendam yang Aksa rasakan untuk Mukti.



Mukti tak jadi masuk kamar adiknya. Lebih baik dia menunggu diluar kamar  keadaan lebih parah.

__ADS_1


Sambil nunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX-HUSBAND



__ADS_2