
Ambar memperhatikan putranya dengan kemeja batik kembaran dengan gaun yang digunakan oleh Ayya dia tahu itu bukan batik murah. Dia bangga melihat Mukti menjadi ketua panitia dan akan membuka pameran bersama dengan Bapak Menteri
“Nggak menyangka ya anak kita seperti itu,” kata Abu bangga memperhatikan putranya sedang mendampingi pak menteri untuk membuka pameran event nasional karena Mukti adalah ketua panitia yang mendampingi pak menteri. Rupanya Abu juga sepemikiran dengan Ambar.
Sehabis acara pengguntingan pita Mukti minta Ayya selalu ada di sebelahnya. Semua tahu siapa Ayya buat Mukti, melihat bagaimana interaksi mereka juga melihat pakaian yang mereka gunakan saat itu.
Mukti memperkenalkan Ayya pada semua orang sebagai tunangannya. Sudah resmi sudah diproklamirkan bahwa Ayya adalah tunangannya. Saat wawancara dengan sebuah stasiun televisi Ayya juga mendampingi.
“Ketua panitianya cakep ya,” kata seorang gadis berambut pendek.
“Cakep, muda dan pastinya kaya. Aku yakin banyak yang menggemarinya. Tapi sayangnya dia sudah punya tunangan, itu yang di sebelah dan pakai baju kembaran adalah tunangannya. Bahkan pada pak menteri pun diperkenalkan sebagai calon istrinya. Jadi nggak usah lah kita mengharap dia,” kata teman bicaranya yang berambut sebahu.
“Biarpun jelek dan miskin jangan mau kita jadi pelakor. Itu perbuatan tercela dan nista,” kata si rambut pendek. Mereka adalah mahasiswi dari sebuah universitas seni di Jogja dan mereka sedang menyusun skripsi karena itu mereka terjun langsung ke lapangan di acara pameran nasional ini.
Gadis yang pertama berambut pendek bernama Karenina dan yang lain rambut sebahu bernama Ellyandri
“Mas sudah makan belum?” tanya Ayya. Saat ini sudah jam 08.00 malam tadi pembukaan jam 05.00 sore. Memang waktunya aneh untuk memulai sebuah acara. Tapi waktu pak menteri hanya jam segitu, karena dia punya jadwal lain. Begitulah birokrasi, sehingga tidak bisa sesuai dengan keinginan kita. Harus sesuai dengan yang ditentukan oleh kantornya pak menteri. Padahal awalnya jadwal sejak bulan lalu pembukaan adalah jam 1 siang dilanjut makan prasmanan. Kalau hari ini tak ada jadwal makan dan ramah tamah.
__ADS_1
“Belum Yank. Dari tadi belum makan,” jawab Mukti.
“Mas duduk diam sini. Aku ambilin makan ya. Jangan ke mana-mana. Kalau ada yang ngajak ngobrol ya Mas tetap harus di sini. Biarin orang yang datangin Mas,” Ayya mewanti-wanti Mukti. Dia tak mau kebingungan mencari sosok super sibuk itu sambil membawa piring makan.
“Iya Sayank, Mas akan di sini,” jawab Mukti yang sudah langsung bicara dengan Wayan yang menghampirinya.
Ayya langsung mengambilkan menu untuk makan malamnya Mukti. dia juga mengambilkan air minum dan minta tolong seorang dengan seragam gedung membawakannya karena dia bawa piring makan untuk dirinya sendiri.
Saat Ayya kembali Mukti sedang didampingi oleh seorang perempuan cukup umur sebaya dengan Ambar.
“Kalau menurut saya silakan saja lihat di lapangan Bu. tidak perlu harus tergantung saya. Saya memang beberapa saat akan stand by tapi tidak bisa menjadi narasumber yang bisa terus-menerus mendampingi mahasiswa Ibu,” demikian perkataan Mukti yang Ayya dengar.
“Ini dosen dari universitas seni di Jogja. Dia minta tolong Mas untuk menjadi narasumber para mahasiswinya. Katanya ada 4 mahasiswi yang diterjunkan di pameran ini,” kata Mukti memperkenalkan Ayya.
“Ibu perkenalkan ini calon istri saya,” jelas Mukti. Ayya meletakkan piring makannya di kursi. Demikian juga makanan Mukti.
“Kenapa Mas nggak mau jadi narasumber?” pancing Ayya setelah berkenalan dengan Ibu Suwarni dosen dari universitas seni itu.
__ADS_1
“Mas kan nggak setiap saat ada di tempat Yank. Kasihan nanti mahasiswanya harus janjian sama Mas. Kalau lewat kamu nanti kamu tambah ribet banyak kerjaannya. Jadi biar pakai yang lain saja. Tugas Mas sebagai ketua panitia ini sudah sangat berat,” kata Mukti.
“Kalau Mas nggak bersedia aku mau bilang apa?” jawab Ayya.
“Enggak bisa tolongin saya tho Mbak?” pinta dosen tersebut.
“Yang jadi narasumber kan bukan saya Bu. Kalau Pak Mukti-nya nggak bisa bantu saya mau bilang apa? Tapi kalau mau janjian sesekali bisa melalui saya. Nanti akan saya atur waktunya,” jawab Ayya diplomatis.
“Terima kasih bantuannya Mbak Komang Ayu,” kata dosen tersebut. Tentu saja dia senang mendapat janji dari Ayya.
“Silakan Ibu catat saja nomor ponsel Ibu di sini, nanti janjian dengan saya.” Ayya memberikan ponselnya.
Dosen tersebut menuliskan nama Suwarni di ponselnya Ayya dan memasukkan sederet angka.
“Nanti kalau saya butuh bantuannya bisa ya Mbak?”
“Saya pastikan bantuan dari saya bisa. Tapi kalau soal bertemu dengan pak Mukti itu saya tidak bisa pastikan Bu. Karena tergantung waktunya beliau.”
__ADS_1
“Iya Mbak saya mengerti,” jawab dosen tersebut yang langsung pamit. Sang dosen langsung memberitahu pada mahasiswinya mereka akan dibantu tunangan ketua panitia yang sangat ramah. Ke-4 mahasiswi tentu berterima kasih pada Ayya walau belum bertemu. Tadi mereka melihat saja dari jauh.