CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
MINTA DIA JADI MAKMUMKU


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Mas. Mau salat dulu atau makan dulu?” tanya Ayya saat dia mendekati Mukti siang ini.



“Memang sudah adzan?” tanya Mukti.



“Sudah dari tadi.”



“Kamu sudah?”



“Sudah Mas,” jawab Ayya.



“Kenapa enggak salat bareng aku? Kita salat berjamaah,” tegur Mukti.



“Aku takut Mas-nya enggak mau. Jadi aku duluan tadi. Sekarang Mas mau salat dulu atau makan dulu biar aku atur makanan di meja.”



“Aku mandi dan sholat dulu aja deh. Atur aja nanti aku makan di situ selesai salat,” jawab Mukti.



“Baik Mas,” jawab Ayya.



“Mulai nanti sore kita salat berjamaah,” perintah Mukti. ‘*Aku ingin jadi imam dalam rumah tangga kita*.’



“Setuju, dengan catatan begitu aku panggil Mas buat salat, Mas langsung bergerak bukan nunda-nunda,” kata Ayya.



“Ntar kamu langsung bilangin saat adzan, Mas langsung bersiap deh,” janji Mukti.



“Yo wes, aku janji mulai nanti sore akan salat berjamaah,” kata Ayya.



Bu Pinem tidak salat karena dia bukan muslim. Bu Ikhlas kalau sore sudah pulang sehabis salat ashar.



“Kamu selain jajan rumput, jajan apa lagi?” selidik Mukti.



“Enggak beli apa-apa. Cuma pengin rumput aja,” balas Ayya.



“Baju kamu?” tanya Mukti.



“Baju? Enggak kurang kok. Memang salah ya baju aku? Enggak pantas ya?” tanya Ayya serba salah.



“Bukan enggak pantes, kirain kamu belanja aja,” jawab Mukti.

__ADS_1



“Enggaklah, orang masih cukup kok. Tadi memang beli sabun dan segala macam karena di sini aku belum punya peralatan mandi, juga detergen.”



“Kenapa beli detergen? Kan ada di dapur.”



“Aku biasanya habis mandi langsung cuci baju, jadi enggak pernah ada cucian kotor. Enggak pernah numpuk cucian. Kebiasaan waktu di kos dulu. karena bajunya juga ada sedikit, jadi begitu pulang kerja, mandi langsung cuci.” Dengan jujur Ayya menceritakan kondisinya.



‘*Dia memang perempuan tangguh*,’ batin Mukti.



“Ini yang masak bukan kamu kan?”



“Bukan Mas, kan katanya aku enggak boleh masak kalau Bu Pinem sudah masak. Karena bu Pinem kan masak buat seluruh orang di sini,” kata Ayya.



“Iya, bu Pinem masak buat 16 orang saat makan siang dan 7 orang saat makan malam. Kalau kamu yang tangani itu tentu repot dan itu memang tugas dia sejak dulu. Nanti malah dikira kamu mau geser tugas dia bila kamu masak.”



“Iya Mas, enggak akan aku over handle koq tugas masak bu Pinem. Paling nanti aku akan masak kalau Mas nyuruh aku. Misalnya butuh mie atau nasi goreng atau apa pun malam-malam atau tengah malam. Nanti aku bikinkan tadi sudah beli bahan-bahannya kok.”



Dari jauh Mukti memandangi kayu yang sedang dia olah.



“Mas ….” Tak ada jawaban.



“Mas!” kata Ayya lebih keras.




“Bisa enggak kalau makan matanya itu ke piring bukan ke pekerjaan?” pinta Ayya. Dia tak ingin Mukti makan tapi tidak dinikmati.



“Eh maaf,” kata Mukti.



“Aku biasa seperti itu, dari jauh aku lihat lalu aku pikirkan apa yang kurang dan apa yang ingin aku ubah dari konsep awal,” jelas Mukti jujur tentang kebiasaannya saat ini.



“Itu bagus dilakukan bila nasi dan lauk di piring sudah habis Mas. Tapi kalau belum habis, upayakan jangan dilakukan.  Syukuri dan nikmati apa yang kita miliki. Makan dulu habiskan. Baru Mas bisa memandang dari jauh setelah selesai makan. Jangan selagi makan,” Mukti diberi nasihat oleh ibu guru Komang Ayu.



“Ya Bu,” jawab Mukti. Lelaki itu segera menghabiskan makan siangnya.



“Tuh kan aku bilangin kayak gitu, malah *ngenyek* ( mengejek ) aku,” protes Ayya sambil cemberut.



“Ya kan emang benar perkataanmu, maka aku jawab iya kan?” bantah Mukti.



“Tapi kan *ngenyek* dengan kata panggilan IBU.”


__ADS_1


“Siapa yang ngejek, itu penghormatan lho.”



“Enggak kok, aku enggak dengar kata penghormatan, tapi intonasinya ngejek,” jawab Ayya sambil cemberut dia terus makan. Selanjutnya dia makan dalam diam dan menunduk.



‘*Seharusnya aku enggak usah urus soal sepele itu. Tapi buatku enggak sepele. Dia seperti tak mensyukuri hidangan yang tersedia*!’ Ayya malah sibuk berdebat sendiri dalam pikirannya.



“Nambah enggak Mas?” tanya Komang Ayu.



“Cukup kayanya. Nantilah lagi,” jawab Mukti.



“Karena kerjaan kan? Ingin cepat lari ke pekerjaan kan?”



“Kamu tahu aja sih.” balas Mukti.



“Ya tahulah. Kelihatan dari gelagatnya. Mas makan dengan terpaksa pengin cepet-cepet biar bisa langsung memandangi hasil olahannya,” jawab Ayya sambil membuka bungkus obat miliknya untuk dia minum sesuai petunjuk dokter.



“Nanti aku takut lupa konsepnya apa yang barusan terlintas,” balas Mukti.



“Bikin note di ponsel. Tulis semua ide yang tiba-tiba terlintas, jadi nanti enggak akan lupa,” kata Ayya.



“Wah iya, enggak kepikiran sebelumnya. Harusnya seperti itu sejak dulu jadi semua yang terlintas langsung ditulis ya, enggak bakal lupa,” kata Mukti senang.



“Seharusnya seperti itu.”



“Baik bu guru.”



“Tuh kan ngejek lagi.”



“Siapa yang ngejek sih sayank?” kata Mukti dengan lembutnya.



Ayya langsung diam, dia tidak mau membalas lagi. Ayya takut terseret arus. Ini sudah dua kali dalam satu hari ini Mukti menyebutnya sayang.



Ayya langsung membereskan bekas piring kotornya. Mukti masih duduk di situ memandangi proyek yang sedang dia garap sambil minum air putih. Mukti menggerakkan kepalanya untuk mencari sudut pandang yang tepat bagi hasil olahannya. Kadang dia mengukur dengan jarinya dari jarak jauh.



Setelah cukup waktu Mukti langsung kembali ke bahan olahan yang sedang dia kerjakan tadi.



“Loh mbak, enggak usah dicuci,” kata Bu Pinem, karena biasanya yang cuci piring adalah dirinya.



“Enggak apa apa Bu, cuma sedikit,” jawab Ayya. Dia pun langsung mencuci piring bekas makan dirinya dan Mukti.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.



__ADS_2