CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
ADELIA TAHU DARI TELEVISI


__ADS_3

‘Coba kamu lihat TV atau cari di berita online atau cari di mana pun. Papa nggak berani telepon kamu karena Papa nggak tahu kamu ada di mana. Papa barusan lihat di televisi, Mukti pingsan dan dibawa ke rumah sakit saat selesai wawancara. Saat itu masih live jadi jelas sat dia enggak sadar,’ tulis Wayan.


‘Semoga kamu sehat. Khabari Papa kamu ada di mana.’ Wayan menulis pesan tersebut karena dia tak mau ada orang mendengar dia bicara dengan Ayya.


‘Aku sudah lihat sebelum Papa kirim pesan. Kebetulan aku sedang makan di rumah makan dan ada acara tersebut. Terima kasih Papa sudah kasih info ke aku. Kalau aku nggak lihat langsung, pasti info tersebut sangat berguna buat aku. Terima kasih ya Pa,’ balas Ayya.


‘Kamu di mana?’ tanya Wayan lagi.


‘Aku di tempat yang aman Pa. Papa nggak usah khawatir.’ jawab Ayya. Dia tak mau mengatakannya lewat tulisan. Bisa di forward siapa pun. Yang terima pesan belum tentu Wayan. Untuk itulah Ayya sangat berhati-hati.


“Mas, Mukti kenapa?” tanya Adelia. Dia langsung menghubungi Sonny di kantornya.

__ADS_1


“Ada apa Yank?” tanya Sonny seakan dia tidak tahu berita dari Ambar soal Mukti masuk rumah sakit saat sedang on air wawancara.


“Mas lihat di TV. Itu adik kita viral karena pingsan saat selesai wawancara,” kata Adelia.


‘Wah kalau seperti ini tentu aku tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi dari Adelia. Aku harus mempersiapkan dirinya untuk menerima kenyataan apa yang terjadi pada Mukti.’


“Aku belum lihat beritanya. Aku baru pulang dari masjid. Nanti aku tanya mama ya. Sebentar lagi aku ke rumah sakit. Kamu tunggu di situ ya. Sebentar lagi aku on the way,” kata Sonny.


“Enggaklah. Enggak ada rapat. Habis jumatan Mas mau pulang cepat saja.” kata Sonny lagi. Dia tak ingin Adelia mendengar cerita dari siapa pun tanpa dia beri penjelasan lebih dulu. Dia yakin Ambar juga nggak akan cerita masalah Mukti karena tahu Adelia harus diberi persiapan mental terlebih dahulu sebelum mendengar fakta soal Mukti dan Ayu.


“Ya wis, aku tungguin di sini. Mampir ke supermarket buah ya belikan aku anggur yang merah dan hijau. Juga beli mayonaise.”

__ADS_1


“Iya nanti Mas belikan,” kata Sonny. Memang dari kantornya ke rumah sakit milik mereka ada supermarket buah dan biasanya Adelia suka anggur utuh atau di belah dua tanpa tambahaan buah apa pun lalu diberi mayonaise. Hanya itu yang Adelia makan pada saat ingin cemilan.


Sonny langsung masuk ke ruangan Adelia. Di rumah sakit ini Sonny juga ada ruangan untuk dirinya karena dia juga mempunyai jabatan di sini yaitu wakil CEO dari rumah sakit ini. Tapi dia memang jarang datang. Sama seperti di rumah sakit Jakarta. Suami istri menjabat CEO dan wakil CEO. Hanya di rumah sakit ini terbalik dengan rumah sakitnya Ariel. Sonny yang wakil, sedang di rumah sakit Ariel wakilnya adalah Vonny.


“Yank, Mas mau bicara,” kata Sonny. Dia tak bisa lagi menutupi hal ini. Terlebih kalau dia harus lari ke Jogja mengurus masalah Mukti, pasti nanti Adelia akan dia tinggal. Dia tidak mau Adelia terlalu capek dia bawa bolak-balik Jogja ~ Solo saat kondisi kehamilan awal. Adelia lebih aman di rumah bersama beberapa pembantu yang nanti akan dia suruh untuk menjaga Adelia saat dia pergi atau beberapa perawat yang disuruh menginap untuk menemani Adelia.


“Ada apa Mas?” tanya Adelia sambil mulai mengunyah anggur yang telah dia letakkan di mangkok dan sudah dia beri mayonaise.


“Mas minta kamu kuat. Ini tidak apa-apa. Nanti akan selesai pada waktunya. Memang saat ini terlihat persoalan ini sangat pelik dan tak berujung.”


“Ada apa sih?” tanya Adelia mulai serius dan bingung mendengar kalimat Sonny yang terdengar menyeramkan.

__ADS_1


__ADS_2