
“Habis salat ashar nanti kita langsung bersiap aja ya. Acara memang mulai habis maghrib. Tapi kita bersiap aja. Lalu nanti salat magribnya kita jamak takhir saja. Bagaimana? Kita lakukan sehabis acara selesai. Jadi kita sekalian sama salat isya nanti,” kata Made. Karena mereka dari mulai magrib harus bersiap menyambut para tamu undangan. Penutupan pukul 19.00, tapi kan sejak jam 06.00 pasti mereka sudah mulai harus berdiri di podium. Paling tidak mereka menyambut kedatangan tamu-tamu karena Mukti adalah ketua panitia dan Made adalah wakilnya.
“Iyalah nggak apa-apa. Toh tidak tiap hari dan memang kalau kita salat magrib dulu agak keburu-buru lebih tidak fokus kita. Salatnya kita tarik aja di jamak takhir,” ujar Mukti setuju dengan saran Made.
“Kalian salat saja nggak apa-apa. Aku yang jaga saat kalian salat,” kata Wayan yang sangat tolerans terhadap agama kedua sahabatnya itu.
“Toh salatnya nggak sampai setengah jam. Paling lama kalian 15 menit. Masih keburu kok, tenang aja,” kata Wayan selanjutnya.
“Oke baiklah kalau seperti itu,” jawab Mukti.
“Tapi kamu beneran aman sendirian?” Mukti khawatir keselamatan Wayan.
“Aku kan enggak sendirian, tapi dijaga oleh dua orang anak buah papamu. Karena yang empat nanti jaga kalian berdua di mushola. Sudah nggak apa-apa. Aku yakin nggak apa-apa,” kata Wayan. dia sudah bertekad tidak mau minum apa pun. Apalagi rokok dan segala macamnya.
“Oke, baiklah,” Kata Mukti dan Made hampir bersamaan.
__ADS_1
Pukul 18.30 Ambar dan Abu datang. Mereka berangkat sehabis salat magrib.
Para tamu sudah datang begitu pun staff gubernur. Sebentar lagi gubernur hadir dan Mukti akan memberikan kata sambutan sebelum akhirnya pameran ditutup oleh gubernur. Mukti sudah berdiri di podium dia bersiap akan bicara. MC belum membuka acara jadi Mukti masih mengatur-atur sesuatu di podium.
Tentu saja jalan dari depan pintu masuk pameran sampai ke podium sudah ada karpet merah. Karena untuk tempat jalannya gubernur. Mukti memperhatikan semuanya.
Tiba-tiba dari depan Mukti melihat sosok yang sangat dia rindukan Mukti hampir tak percaya sosok itu berjalan dengan sangat percaya diri mendekatinya dan berjalan dengan penuh senyum. Rasanya Mukti ingin berlari tapi takut itu hanya halusinasi semata. dia memperhatikan setiap langkah sosok tersebut.
Ambar yang melihat kekakuan wajah putranya langsung menoleh mencari apa yang dilihat oleh putranya mengapa putranya sampai pucat pasti seperti itu.
“Kenapa Ma?” tanya Abu heran.
“Itu di sana lihat,” kata Ambar.
Abu pun menoleh arah yang ditunjukkan Ambar dengan dagunya, memang Ambar tak menunjuk dengan jari.
__ADS_1
Sama seperti Ambar, apalagi Mukti. Abu juga terkesima melihat sosok yang datang.
Semua orang melihat dan pegawainya Abu juga jelas melihat. Agak ke depan sedikit Silvana jalan dengan penuh percaya diri. dia tidak mengira bahwa dia sudah dinanti-nanti oleh anak buahnya Abu. Di belakang Silvana banyak orang yang juga masuk. Itulah yang membuat Mukti Ambar maupun Abu tak bisa percaya. Silvaba berani terang-terangan datang.
Bahkan sampai saat ini Mukti masih merasa itu hanya halusinasinya saja sosok tersebut terus berjalan dengan pasti tak ada keraguan dia berjalan langsung menuju podium tak menengok kanan kiri karena tujuannya ingin menghampiri Mukti.
“Maaf Mbak, tidak boleh ke podium,” pengawalnya Abu langsung mencekal.
“Lho kenapa? Kan belum acara penutupan. Lagian saya mau ke podium juga nggak mau ngapa-ngapain kok. Cuma mau menyapa teman saya yang kebetulan jadi ketua panitia,” ucap Silvana.
“Iya Mbak maaf. Tidak bisa. Anda sudah ada dalam daftar kami. Tak boleh mendekati pak Mukti sama sekali,” tentu saja Silvana kaget karena dua orang perempuan mencekal tangannya.
Anehnya sosok di belakang Silvana dibiarkan melaju ke podium tak ada larangan apa pun.
“Kenapa dia boleh kenapa saya enggak?” protes Silvana.
__ADS_1