
“Kamu bikin kopi buat siapa?” Tanya Sri pagi ini di dapur.
“Buat Mas Mukti,” jawab Komang Ayu sambil meracik kopi special.
“Cuma buat dia sendiri?”
“Kalau kopi iya, kalau su5u ini punya eyang Angga. Aku enggak tahu kalau eyang Soetiono karena enggak pernah aku meladeni sebelumnya. Kalau eyang Angga aku sudah biasa bikinkan. Mau bikinkan yang lain aku takut sudah ada yang buat. Nanti saja aku lihat di depan. Kalau belum ada yang buat, aku akan buat buat semua,” jawab Ayya.
”Selain kopi, apalagi yang harus kamu kerjakan buat Pak Mukti?” tanya Sri lagi. Bukan mau menyelidiki, dia bertanya untuk belajar saja.
“Tergantung maunya dia. Kalau di rumah, maksudku di studio atau galeri, dia sering minta sarapan. Aku sudah hafal apa yang dia mau dan tidak inginkan.”
“Kamu enggak perlu takut seperti itu, karena kan nanti kamu sama Bu Adel dan belum tentu ditempatkan menjadi pembantunya. Mungkin aja ditaruh di rumah sakit atau bagaimana lah terserah bu Adel nanti.”
“Iya, aku kan cuma belajar saja. Sini kopinya aku taruh depan,” jawab Sri. Dia akan membantu Komang Ayu.
“Jangan pak Mukti enggak mau minum atau makanannya diantar oleh orang lain. Bahkan oleh pembantunya di studio yang sudah ikut dia 10 tahun. Sejak ada aku tak mau apa yang aku buat diantar oleh siapa pun. Alasannya mungkin yang antar tak suka denganku lalu ditambah bahan yang bikin minuman atau makanan jadi tidak enak agar aku dimarahi.”
“Oh maaf, aku tadi mau bantu aja ternyata enggak boleh ya?”
“Enggak kalau untuk pak Mukti dia enggak mau. Nanti yang kena marah aku. Terlebih sejak aku kecelakaan kemarin.”
__ADS_1
“Kamu belum cerita tentang kecelakaan. Kamu harus ceritakan. Sekarang aku mengerti alasan pak Mukti. Tapi nanti ceritakan ya.”
“Ya, nanti aku ceritakan. Sekarang kamu bantu orang dapur aja siapin sarapan.”
“Oke,” jawab Sri. Dia pun langsung ikut terjun membantu apa yang dia bisa.
“Kamu bikin apa Nduk?” tanya Bude Pras pada Ayya.
“5usu untuk eyang Angga Bude. Eyang Soetiono mau dibikinkan apa?” Ayya menjawab sekaligus bertanya.
“Eyang pagi itu hanya minum teh kental dengan sedikit gula,” jawab bude.
“Sudah biar Bude saja, sudah tanganan Bude. Nanti takut malah salah,” jawab bude Pras. Memang semua diminta bikin sendiri agar pas dengan selera. Vonny bukan tak menyuruh para pembantunya meladeni tamu. Tapi yang punya cita rasa sendiri memang sebaiknya langsung bikin tanpa menunggu tuan rumah. Atau bisa juga request pada pembantu minta dibuatkan apa.
“Njih Bude,” kata Komang Ayu.
“Kalian ngapain ke dapur tanya Bude Pram pada Fahri dan Farhan.
“Aku nyari mbakku,” jawab Fahri.
“Mbakmu baru aja keluar mengantar kopinya Mas Mukti,” balas bude Pram.
__ADS_1
“Matur nuwun Bude,” Fahri dan Farhan langsung keluar. Sri memperhatikan bagaimana Ayu selalu menjadi pujaan dari adik-adiknya Mukti.
‘Sejak dulu dia memang seperti itu, jadi wajar semua mencintainya,’ batin Sri.
“Eyang ini su5unya dan ini ganjal roti dulu ya,” kata Ayu memberikan eyang Angga su5u dan roti bakar isi korned.
“Nah ini, kalau ada kamu tuh pagi-pagi juga sudah dapat su5u dan roti. Enak punya cucu kesayangan,” eyang menerima rotinya dan mulai makan. Dia memang harus ganjal karena menunggu sarapan bisa perih perutnya.
“Eyang modus nih,” Aksa berkomentar tentang ucapan eyang Angga barusan. Ayu hanya tersenyum mendengar candaan Aksa.
“Kamu mau minum apa Dek?” tanya Ayu.
“Nanti aja lah, aku gampang koq,” jawab Aksa.
“Papa sama mama minum apa sih?”
“Biasa kalau papa sih kopi. Kalau mama kan teh manis,” jawab Aksa.
“Ya sudah aku bikinkan dulu beberapa gelas kopi dan teh jadi para pakde dan bude yang mau minum nanti sudah siap,” kata Ayu dia pun langsung meluncur ke belakang.
__ADS_1