
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Sehabis makan Komang Ayu minta meja dibersihkan oleh pegawai foodcourt karena mereka akan membahas pekerjaan, Komang Ayu membuka laptopnya.
Sekarang dia duduk bersebelahan dengan Mukti, agar Mukti bisa melihat apa yang dikerjakan oleh Komang Ayu.
“Ini mau masuk file yang mana?” tanya Ayya.
“Ada di draft pameran Solo Ya,” jawab Mukti.
“Ini?” tanya Ayya memastikan.
“Ya betul, kamu bikin lagi tanggal hari ini. Baru catat semua yang kita bicarakan agar tidak terlupa,” jelas Mukti sabar.
“Iya Mas,” jawab Ayu.
Ayu lalu serius memperhatikan semua yang dibicarakan. Tak ada yang dia lewati. Semua poin dia catat dengan teliti. Siapa yang bicara pun dia catat, jadi kalau yang ngomong Wayan dia akan tulis Wayan : baru ditulis apa yang dikatakan. Begitu pun bila Trisno, Silvana atau Mukti, sehingga nanti kalau dia buat notulen tidak akan kesalahan.
“Mas mau tambah sesuatu?” tanya Ayya. Mereka sudah 2 jam bicara.
“Dimsum mau?” tanya Ayya lagi.
“Boleh, dimsum sama kopi ya,” pinta Mukti.
Ayya pun memanggil pramusaji untuk minta dibawakan teh hangat beserta dimsum.
“Kok enggak kopi?” tanya Mukti mendengar apa yang dipesan Ayya.
“Dimsum cocoknya sama teh, kopinya nanti malam aja,” jawab Ayya.
“Tadi saya habis ditegur Eyang harus perhatikan apa yang masuk ke perutmu dan Eyang juga sudah pesan agar saya hubungi Kak Adel minta suplemen vitamin.” Lapor Ayya.
“Kamu kalau sudah sama eyang, mama dan kak Adel pasti aja aku yang jadi korban,” keluh Mukti. Silvana mendengarkan itu, ternyata memang Komang sangat dipercaya oleh keluarga Mukti untuk mengurus lelaki tersebut.
“Saya kan hanya nurutin eyang daripada saya nanti dipecat jadi cucunya,” Mukti terkekeh pelan mendengar candaan Komang Ayu.
“Komang antar aku ke toilet yuk,” ajak Silvana.
__ADS_1
“Maaf saya baru ke toilet setengah jam lalu, kalau anda tidak buta huruf anda bisa baca kok arah toilet,” Komang Ayu malas untuk berjalan berdua dengan Silvana karena dia tahu tujuan Silvana bukan ingin ke toilet tapi ingin bicara berdua dengannya.
“Kalau anda ingin bicara berdua katakan aja di sini tak perlu ada pembicaraan di luar sini, karena saya tidak berhubungan dengan anda secara personal,” kata Komang Ayu to the poin menohok Silvana.
‘*Ini anak katanya cuma SMA, kuliah cuma satu semester. Tapi kenapa pola pikirnya beda banget ya*,’ kata Mukti dalam hatinya mendengar cara Ayya menanggapi serangan pada dirinya.
‘*Diplomasinya kok hebat banget, enggak setingkat anak SMA pada umumnya*,’ pikir Mukti sambil mengambil dimsum yang masih hangat.
Trisno juga kaget mendengar kata-kata Komang Ayu yang langsung menghujam pada jantung Silvana.
Malu karena dikatakan hanya ingin bicara berdua Silvana pun langsung pergi untuk ke toilet sendirian.
“Kamu ketahuan banget ya bencinya sama dia,” Wayan menegur Trisno.
“Aku dan dia sama-sama dari seni tari dan banyak teman aku di Bali Surabaya maupun Jawa Timur pada umumnya tahu siapa Silvana yang tiba-tiba ditunjuk oleh provinsi. Mereka tentu saja marah, jadi aku tahu benar. Aku sepaham dengan teman-teman, enggak suka dengan cara-cara seperti itu,” kata Trisno.
“Emang dia berbuat apa?” tanya Mukti.
“Ya TST lah. Siapa sih yang enggak tahu,” jawab Trisno.
“Ya prestasinya, prestasi, prestasi itu,” jawab Wayan mengulang kata prestasi dengan intonasi negatif.
Mereka bersiap pulang karena pertemuan telah usai.
“Kita ketemu lagi kapan untuk memantapkan program dan mengevaluasi yang sudah kita bicarakan hari ini?” tanya Wayan/ tentu dia juga ingin segera pulang ke Bali.
“Lusa ya, kalau besok kayanya terlalu cepat, besok aku baru mau menelaah yang kita bahas tadi. Enggak mungkin kan malam ini aku telaah karena aku juga masih punya kesibukan lain,” kata Trisno.
”Iya, malam ini aku juga enggak bisa. Kalau besok lusa bisa dan sehabis itu mungkin aku juga harus ke Jakarta lagi karena kakakku lamaran. Jadi aku terakhir adalah 4 hari dari sekarang,” kata Mukti.
“Oke aku putuskan, kita bertemu lusa lalu finishing pertemuan kali ini adalah dua hari sesudah lusa. Sekarang hari Minggu, kita bertemu hari Selasa lalu bertemu terakhir hari Kamis,” kata Wayan.
“Ya betul. Kita bertemu terakhir hari Kamis karena hari Jumat aku harus berangkat ke Jakarta. Kalau pun aku terlambat berangkat hari Jumat, paling telat aku berangkat hari Sabtu dini hari karena lamaran kakakku adalah Sabtu siang,” kata Mukti.
“Aku tidak bisa lagi kalau pertemuan sesudah hari Kamis. Hari Sabtu aku harus di Jakarta. Semoga aja aku bisa berangkat hari Jumat bareng keluarga besarku,” kata Mukti lagi.
__ADS_1
“Harus bisa lah, insya Allah bisa,” kata Trisno.
“Oke, jadi fix ya kita ketemu lagi hari Selasa dan hari Kamis,” jelas Wayan.
“Ya, oke fix,” jawab Mukti. Ayya men shut down laptopnya agar bersiap pulang.
“Mas, nanti mampir ke apotek ya,” kata Ayya sambil membereskan laptop.
“Kenapa?” tanya Mukti, saat itu Silvana sudah kembali ke meja.
“Ini Kak Adel sudah balas suplemen apa yang harus Mas minum tiap hari. Tadi mungkin dia masih sibuk praktik jadi dia enggak bales, dia bales barusan sore,” Ayya memperlihatkan pesan Adelia untuknya. Silvana memperhatikan ponsel yang Komang gunakan ponsel jenis terbaru sama dengan milik Mukti. Punya dia masih kalah mahal.
“Kamu nanti ingetin lagi, aku takutnya enggak lihat atau enggak ingat sudah di rumah baru kamu suruh aku balik lagi ke apotek,” Mukti memanggil pelayan minta bill.
“Masa baru keluar dari sini sudah lupa sih Mas? Nanti kayanya aku bilang ke Adel deh kamu suruh kasih obat anti lupa,” goda Ayya.
“Dia kalau sama kamu enggak bakal lupa kok,” jawab Trisno balik menggoda Komang.
“Apa coba? Kenapa jadi ke aku?” kata Ayya. Saat itu ponselnya Ayya berbunyi.
Ayya melirik ada notifikasi pesan dari nomornya Arjun. Mukti juga melihat nama Arjun terpampang sebagai pengirim pesan tapi tidak Ayu buka. Ayya hanya melihat siapa yang kirim saja. Ayya langsung memasukkan laptop dan menarik ruitsleting untuk menutup ransel.
“Oke sampai ketemu hari Selasa,” jawab Wayan.
“Loh kita ketemu hari Selasa?” kata Silvana.
“Ya kita ketemu hari Selasa dan Kamis,” jawab Wayan.
“Enggak besok?” tanya Silvana.
“Enggak bisa. Kamu aja sendirian yang ketemu aku sudah tetapkan pertemuan hari Selasa dan Kamis di luar itu silakan kalian ketemu sendiri,” kata Mukti tegas.
“Sama, aku juga sudah tetapkan hari Selasa dan Kamis,” Jawab Trisno.
“Di luar itu kalian ketemu sendiri,” mereka langsung bubar. Silvana hanya memandang terpaku pada Trisno dan Mukti yang menjauh dari meja.
Tinggal di situ Wayan dan dirinya karena mereka memang tinggal di satu mess, di asrama mahasiswa Bali.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok.
__ADS_1