
“Iya Ma,” jawab Ayu menerima telepon dari Ambar.
“Kamu di mana sayang?”
“Dari tadi aku di kamar Ma, sama Sri,” jawab Ayu.
“Ingat ya, jam 05.00 sore ini kita sudah siap di kamar rias,” Ambar memberitahu jadwal rias mereka.
“Aku enggak lupa Ma. Aku bahkan sudah pasang alarm kok. Enggak akan
telat.” jelas Ayu.
“Kamu enggak boleh lapar, ganjal perut dulu sebelum di rias. Mama bawa roti banyak sama snack basah tadi Bude Pras beli snack basah,” jelas Ambar.
“Iya Ma. nanti saat didandanin aku akan makan dulu,” jawab Ayu. Sri mendengarkan semuanya. Walau tidak pakai speaker tapi terdengar jelas apa yang Ambar katakan.
“Ya sudah, jangan terlalu capek ya,” pesan Ambar.
“Enggak Ma. Aku enggak capek kok. Dari tadi aku cuma tidur-tiduran sambil ngobrol sama Sri,” jelas Ayu.
“Mama kira kamu ikut brenang dengan Mas mu dan Aksa serta Farhan dan Fahri. Ya sudah ya.”
__ADS_1
‘Mas Mukti berenang? Kayaknya dia enggak bawa celana renang saat dari Bali. Apa beli di bawah bareng Aksa?’
“Sebegitu perhatiannya mamanya Pak Mukti. Kamu sangat beruntung dapat calon mertua seperti itu,” Sri mengomentari percakapan Ambar dan Komang Ayu.
“Keluarga ini perhatian pada semua orang kok. kamu jangan berpikir sempit bahwa dia hanya perhatian pada aku,” bantah Ayya.
“Kamu tuh memang harusnya dicolokin matanya ya,” kata Sri kesal.
“Kenapa sih kamu kok keqi kayak gitu?”
“Aku bukan keqi, aku kesel sama kamu!”
“Memang aku salah apa Sri?” Ayya merasa tak bersalah.
Ayya semakin diam di ceramahin oleh Sri.
“Aku penasaran sama Arjun,” kata Sri setelah cukup lama ada jeda. Komang Ayu memikirkan kata-kata terakhir Sri kalau Ambar dan Abu menyayangi dirinya karena mereka menganggap dia adalah calon menantu mereka.
“Dia ganteng, dia anak orang kaya. Sejak di SMA dia itu bintang kelas juga bintang di lapangan, selain tentu saja bintang di antara para gadis.”
“Tapi saat itu kami langsung mundur teratur. Arjupunya sahabat masa kecil yang memang akrab. Gadis miskin itu berteman dengan Arjun sejak mereka SD. Dia anak yatim piatu sangat miskin. Kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia punya dua adik dan seorang nenek yang bekerja sebagai buruh cuci. Ternyata tanpa diminta dan tanpa diketahui siapa pun Arjun sering menopang ekonomi teman kami itu.”
__ADS_1
“Suatu hari tabungannya ketahuan kosong oleh mamanya. Mamanya langsung menyelidiki kemana uang tabungan Arjun selama ini. Begitu taju mamanya melabrak teman sekolah kami itu.”
“Sejak itulah kita-kita di sekolah tak ada yang berani dekat Arjun, takut kita dilabrak oleh mamanya Arjun.”
“Sejak SMA Arjun sudah mengatakan cinta sama kamu?”
“Dia sudah menyatakan suka, bukan cinta sih. Dia suka sama aku tapi aku tak berani ambil resiko karena aku juga hanya seorang anak penjual kue. Aku tak ingin ibuku di labrak. Cukup sudah penderitaan ibu jauh dari papa.”
“Aku bertemu lagi kemarin di Solo dia sudah sarjana dan bekerja di grosir batik terkenal dari Solo tapi berposisi di Jakarta. Dia langsung menyatakan keseriusan dan ingin langsung melamar ke papa.”
“Kenapa dia kerja di tempat orang? Papanya kan punya perusahaan dan dia anak tunggal.”
“Dia bilang dia ingin merasakan menjadi pegawai dulu, sebelum menjadi penanggung jawab perusahaannya.”
“Dia tak mungkin bekerja dari bawah di perusahaan papanya. Karena itu dia jadi supervisor marketing di batik tersebut. Tidak ada yang tahu bagaimana ekonomi Arjun sebenarnya. Di Jakarta orang hanya tahu dia adalah pemuda perantau dari Bali yang kost.”
“Di Jakarta, Arjun juga tak pakai mobil mewah. Dia hanya pakai motor matic bukan motor besar baru seperti milik dia di Badung sana. Di Badung dia punya motor besar yang bagus dan juga mobil sport. Di Jakarta Arjun benar-benar menjadi dirinya sendiri tak ada campur tangan dari orang tuanya itu yang kaya.”
“Sebenarnya kalau tak ada masalah dengan ibunya, pasti kamu mau ya dilamar dia.” tanya Sri.
“Pasti mau lah. Wong dia mapan dan pekerja keras tak perlu harta warisannya. Tapi karena ibunya seperti itu, tentu aku enggak mau.”
__ADS_1