CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
JAJAN RUMPUT


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Buat apa beli botol minum untuk kemasan air mineral seperti itu Mbak ?” tanya bu Pinem. Ayya membeli 2 lusin botol kemasan 600 ml. Selain itu Ayya juga membeli botol minum yang lebih bagus berwarna ungu kegemarannya.



“Ini buat hari-hari Bu, untuk tempat juice, takutnya dia taruh di mana atau dia lupa atau dia buang. Nanti kan jadi ada gantinya. Saya akan bikinkan juice taruh aja di sebelahnya.”



“Satu kali bikin kan dalam jumlah banyak  ditaruh di kulkas aja di bekukan. Nanti pagi-pagi saya keluarkan, siang sudah siap diminum saat sedang bekerja,” kata Ayya.



“Jadi enggak setiap kali bikin kalau mau minum ya Mbak?”



“Enggak lah, biasanya kan kita sibuk atau apa, jadi pokoknya sudah ada stock. Makanya tadi saya beli macam-macam buah sekalian.”



Bu Pinem  memuji pemikiran Komang Ayu. Komang Ayu juga banyak membeli thin wall aneka ukuran.



“Buat apa itu Mbak?” tanya bu Pinem lagi.



“Untuk menyimpan ayam, ikan, atau udang, dan lain-lain di kulkas simpan sesuai kebutuhan. jangan satu glundung besar utuh dimasukkan, nanti pas butuh keluarin, dan sisanya lalu masukin lagi. Itu tidak baik. Jadi kalau sudah dibekukan dikeluarkan sesuai kebutuhan saja. Kita masukkan sudah dipotong, lalu masukkan di tempat-tempat kecil seperti ini.”



“Mas. Ini uangnya,” Ayya menyodorkan uang sebesar dua juta pada Mukti.



“Kamu pegang dulu ya, Mas enggak bawa dompet. Dompetnya di kamar, atau kamu taruh di dompet Mas sana,” pinta Mukti. Kembali tanpa menoleh.

__ADS_1



“Enggak mau lah aku ngambil dompet di kamar,” tolak Ayya. Yang biasa membersihkan kamar adalah Ibu Ikhlas. Ayya tak mau masuk kamarnya Mukti.



“Enggak apa-apa, dompetnya ada di laci meja kamar,” jawab Mukti.



“Enggak Mas, nanti saja aku serahin kalau Mas sudah mau masuk kamar pada saat salat dzuhur nanti,” kata Ayya sambil dia masukkan lagi uangnya ke dalam dompet miliknya.



“Kamu beli apa aja tadi?” tanya Mukti tanpa menoleh tapi matanya melihat ke wajah Ayya,



“Cuma beli rumput,” jawab Ayya.



“Rumput buat apa?” tanya Mukti bingung.




“Biar halaman belakang agak baguslah pemandangannya. Tidak gersang. Paling tidak ada rumputnya, nanti aku sirami.”



“Memangnya kamu bisa menanamnya?” ejek Mukti.



“Menanamnya itu seperti menanam padi Mas dan belinya juga lembaran. Nanti ada kok yang tak nanamin.”



“Kamu beli berapa banyak?”


__ADS_1


“Ya cuma beli 2 meter aja, nanti kan dibagi-bagi bisa jadi full untuk halaman belakang. Sudahlah aku sudah tahu kok. Tenang aja,” kata Komang Ayu



“Nanti bapaknya yang antar sekalian dia tanamkan, aku sudah nego harga tanamnya tadi.” lanjut Ayya.



“Kamu bayar pakai uangku kan?” tanya Mukti.



“Enggak, pakai uang aku. Wong aku yang pengin.”



“Ya enggak boleh begitu dong. Harus pakai uang aku,” protes Mukti.



“Enggak bisa lah Mas. Ini kan proyeknya aku. Aku yang kepengen, bukan aku minta izin dan minta uang buat tanam itu. Jadi memang ini jajannya aku,” kata Ayya.



“Ya sudah, berarti uang yang tadi jangan dihitung buat uang operasional, itu uang pengganti beli rumput.”



“Iih Mas sih begitu, rumput itu cuma murah banget. Itu terlalu banyak sisanya.”



“Pokoknya begitu,” kata Mukti. Ayya pun langsung masuk, lebih baik dia bikin juice daripada berdebat dengan Mukti.



Tahu gitu tadi dia enggak usah bilang bahwa dia jajan rumput.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.


__ADS_1


__ADS_2