
Ayya yang mendengar percakapan dua sahabatnya Mukti menjadi sedih.
‘Apa kamu sedepresi itu Mas?’
‘Pasti berat buat mama mengatasi persoalan itu. Aku kasihan sama mama, terlebih kak Adel saat ini sedang hamil. Pasti kak Adel juga akan ikut memikirkan mereka berdua. Aduh. Tapi aku juga nggak bisa begitu saja menerima dia apa pun kondisinya. Tapi aku harus bagaimana ya?’ kata Ayya.
Malam ini di kamar kosnya Ayya membuka nomor lama. Dia ingin tahu siapa saja yang menghubungi selama 3 minggu dia menghilang,
Banyak notifikasi masuk di pada saat dia pergi dari rumah. Sesudah itu tiap hari yang mengirimkan pesan hanya nomornya Ambar tapi Ayya tak buka semua pesan itu.
__ADS_1
Sampai sekarang masih menghubungi lewat telepon hanya nomornya Mukti dan Carlo. Pagi siang malam ada notifikasi bahwa nomor Mukti memanggil nomor Ayya. Kalau nomor Carlo hanya satu kali sehari saja.
Ayya hanya mengamati foto profilnya Mukti yang berubah di aplilasi whats-app. Saat ini foto itu sudah berganti menjadi foto Ayya sendirian tak seperti sebelumnya yaitu foto Mukti berdua dirinya.
Di profil wa-nya tertulis tentang atau aboutnya yaitu aku tak pernah berpaling darimu, tak akan pernah! Tak pernah dan tak akan pernah! Dulu aboutnya itu aku mencintaimu. Itu yang Ayya tahu. Sekarang berubah menjadi seperti demikian.
Ayya hendak kembalo me-non aktifkan nomor tersebut, saat tanpa sengaja panggilan dari Mukti masuk dan dia sedang menggeser kursor sehingga panggilan itu menjadi diterima! Tentu saja Ayya kalang kabut.
“Yank dengar Mas. Jangan pernah tinggalin Mas. Mas nggak melakukan itu dengan kesadaran. Please dengerin Mas dan kita bertemu. Mas pasrah kalau kamu memang nggak mau melanjutkan hubungan kita setelah kamu dengar apa yang terjadi. Tapi jangan begini caranya. Please ya kita ketemu. Sehabis itu kamu mungkin akan kehilangan Mas selamanya. Yang penting Mas sudah ketemu kamu sebelumnya.” Ayya tak menjawab. Dia langsung mematikan pembicaraan itu dan daya ponselnya langsung dia off-kan.
__ADS_1
‘Apa ya maksudnya dia akan menghilang selamanya?’ pikir Ayya. Dia masih gemetaran menerima telepon Mukti.
‘Ah kenapa aku nyalain nomor itu malam-malam, jadi pas dia lagi nelepon aku. Coba aku nyalainnya siang-siang. Kalau siang-siang kan dia nggak bakal telepon. Tapi kalau lihat dari riwayat panggilannya, dia pagi, siang, dan malam nelepon aku kok.’
‘Tapi kan kalau siang aku sibuk kerja. Jadi nggak mungkin pegang HP. Aku jadi bingung kenapa tadi aku iseng ingin tahu. Padahal selama ini aku nggak pernah nyalain nomor itu,’ pikir Ayya lagi.
Ayya pun langsung mengganti nomor tersebut dan mencoba menghubungi Wayan untuk ngobrol. Selama ini hanya Wayan teman dia ngobrol. Wayan di sini tentu Wayan papanya lah. Bukan Wayan sahabat Mukti.
Malam seperti ini biasanya papanya sudah sendirian di rumah, jadi tak ada yang mengganggu kalau mereka ngobrol.
__ADS_1
Tapi panggilan Ayya direject oleh Wayan, artinya Wayan belum siap menerima telepon untuk mengobrol.
‘Kalau sudah bisa terima telepon kabarin aku ya.’ Ayya pun mengerti, dia langsung kirim pesan saja.