
“Pa Saya mau bicara serius,” kata Mukti ketika mereka sudah selesai berbasa-basi.
“Biar nggak keganggu Papa tutup warung dulu ya sebentar. Nggak perlu dikunci yang penting tertutup. Orang lihat bahwa nggak terima pembeli,” kata Wayan. dia langsung ke toko dan menutup kedai walau tidak rapat.
“Ya silakan kalian mau bicara apa?” tanya Wayan.
“Bukan kami sih yang mau bicara, tapi mas Mukti Pa,” kata Ayya.
“Ya silakan, Mukti mau bicara apa?” kata Wayan.
“Saya mau minta maaf ke Papa. Karena saya sudah bertindak lancang,” kata Mukti. Sejak tadi Mukti memanggil Wayan dengan sebutan papa.
“Maksudmu apa?” tanya Wayan seakan dia tidak tahu apa pun.
“Selama ini saya bingung sama Ayya dia selalu menolak saya. Dia menganggap saya tidak serius. Ayya menganggap saya tak pantas untuknya karena saya bossnya sedang dia hanya pegawai saja. Jujur saya sudah putus asa menghadapi sikap Ayya.” Mukti memberitahu latar belakang dia bertindak lancang. Rupanya karena dia sudah sangat putus asa!
“Kemarin saat akan pulang ke Denpasar, saya berlaku sedikit tidak benar. Mengapa saya bilang tidak benar, karena saya melakukan suatu hal yang sangat penting tidak minta izin pada Papa di sini, maupun pada kedua orang tua saya.”
__ADS_1
“Saat itu Ayya sedang bicara dengan papa dan mama saya di kamar. Saya masuk dan langsung di depan kedua orang tua saya, saya bilang bahwa saya serius pada Ayya dan saya memberikan sebuah cincin untuk dipasangkan oleh mama saya. Karena biasanya memang cincin pertunangan itu disematkan oleh ibu dari pasangan kita. Bukan oleh pasangan kita.”
“Itu mengapa saya bilang saya minta maaf. Karena saya belum minta izin pada Papa di sini saya sudah melakukannya di Jakarta.”
“Sekali lagi saya katakan, hal itu saya lakukan semata-mata agar Ayya percaya bahwa saya benar-benar serius pada dia.” jelas Mukti.
“Kalau sudah terjadi seperti itu, Papa mau bilang apa?” tanya Wayan setelah diam sesaat.
“Enggak dimaafkan pun itu sudah terjadi kan?”
“Benar Pa, walaupun tidak dimaafkan sekali pun itu sudah terjadi,” jawab Mukti.
“Tidak akan Pa. Tidak akan pernah. Jujur saya akui, saya bukan pemuda baik-baik. Saya pernah terlibat cinta terlarang sampai ada dua bayi yang dibunuh oleh perempuan yang saya pikir tulus mencintai saya.”
“Itu kesalahan fatal saya dan sejak saya kenal Ayya pun di minggu pertama saya sudah jujur tentang keburukan saya itu karena saya tidak mau dia dengar dari orang lain.”
“Di depan matanya pula perempuan tersebut bunuh diri Pa, tapi saya nggak punya rasa apa pun karena sejak saya tahu motivasi dia mendekati saya, saya sudah membunuh rasa cinta saya pada dia.”
__ADS_1
“Yang perlu Papa dan Ayya ketahui, saya tidak pernah mendua tidak pernah satu kali pun. Walaupun saya berpisah 7 tahun. Saya tidak pernah mendua. Itu prinsip hidup saya. Saya tidak mau ada orang kedua setelah pasangan kita.”
“Saya akui saya terlalu posesif terhadap Ayya, karena saya sangat takut pengkhianatan. Itu kelemahan saya Pa,” kata Mukti.
“Lalu selanjutnya mau bagaimana?” tanya Wayan.
“Saya ingin serius, tetapi Ayya tidak mau cepat-cepat. Kemarin saya ingin ke sini untuk mendesak agar bisa segera menikah. Tapi saya sadar setelah bicara dengan Mama saya.”
“Ayya bilang dia butuh waktu untuk mengikis rasa traumanya karena kisah cinta Papa dan ibu Sukma. Dia sangat takut cinta beda status seperti yang sekarang kami jalani. Untuk itu saya mencoba membuat dia merasa nyaman dulu, baru nanti saya akan persiapkan pernikahan. Selama dia belum merasa nyaman dengan saya, saya tidak akan pernah mendesak dia untuk menikah,” kata Mukti pasti.
‘Wah mas Mukti kok udah beda ya? Kemarin bilang mau segera nikah.’ kata Ayya dalam hatinya. Dia tentu senang Mukti tak akan mendesaknya lagi.
‘Tapi aku kan juga berubah. Tadinya aku nggak mau, begitu dapat omongan dari papa aku langsung mau. Apa jangan-jangan mas Mukti berpikir begitu juga karena omongan mama ya?’ kata Ayya dalam hatinya.
‘Jadi kami berdua sama-sama dipengaruhi hal baik oleh kedua orang tua kami.’
“Papa terima, jadi sekarang kamu sudah setengah resmi berhubungan dengan putri Papa. Seperti tadi Papa bilang, Papa tidak mau dia terluka. Kamu harus menjaga hatinya.”
__ADS_1
“Dan kamu juga harus melaksanakan omonganmu, yaitu tidak akan pernah mendesak Ayya untuk menikah secepatnya. Kamu akan menunggu sampai dia siap lahir batin.”
“Iya Pa, saya akan seperti itu. Saya akan menunggu sampai dia siap lahir batin. Yang penting Papa dan keluarga sudah tahu bahwa saya benar-benar serius pada Ayya. Terima kasih atas penerimaan Papa.”