CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TERLAMBAT!


__ADS_3

“Terlambat!” kata Made saat Mukti memberitahu info dari Ayya.


“Maksudmu apa?” tanya Mukti.


“Wayan sedang pingsan, aku lagi cari kamu untuk memberitahu kondisi Wayan,” balas Made.


“Bagaimana bisa?” Mukti tak percaya mereka telah kecolongan.


“Entah, dia menghisap rokok dari siapa atau minum apa. Tiba-tiba dia pingsan dan seseorang memberitahu aku,” jawab Made. Kalau sedang seperti ini mereka lebih sering menggunakan aku kamu, entah kalau sedang suasana bagaimana mereka menggunakan gue elo.


“Astagfirullah, ayo kita langsung bawa ke mobil saja, jangan sampai dia dimanfaatkan dengan orang lain dan ingat kamu jangan minum apa pun selain dari yang aku bawa. Kalau mau minum atau makan ambil yang di mobilku saja,” kata Mukti


Mereka segera menghampiri tempat Wayan yang sedang ditolong oleh dokter di ruang kesehatan yang memang disediakan oleh panitia. Ada ruang kesehatan khusus juga satu ambulans yang memang selalu standby selama pameran. Berjaga-jaga bila ada yang terluka atau sakit baik pengunjung maupun peserta.


“Kamu yakin ada Silvana?” tanya Mukti.

__ADS_1


“Aku lihat sekelebat tadi memang dia ada. Tapi sekarang entah di mana,” jawab Made.


“Ya sudah kita temani terus Wayan. Jangan sampai dia malah dikasih obat yang macam-macam tanpa sepengetahuan suster yang menjaganya,” kata Mukti lagi.


“Apa lebih baik kita bawa pulang saja atau bagaimana? Masalahnya kita harus jaga di stand by di sini,” ucap Made.


“Aku telepon mama dulu untuk laporan dan biar nanti Wayan dibawa pulang sama Pak Pujo saja ke rumahku. Kalian nginep di rumahku malam ini.” putus Mukti.


“Astagfirullah,” kata Abu mendengar Wayan malah sudah pingsan duluan dan mungkin dibuat oleh seseorang yang kembali ingin menjadikan Mukti sasaran.


“Kok bisa begitu Pa?” tanya Ayya. Ayya langsung menelepon Abu setelah membaca pesan itu. Ternyata nomor lamanya selalu aktif. Dia sudah memblokir nomor Carlo dan tidak akan menerima telepon atau pesan dari nomor yang tidak dia save. Ayya takut ada perkembangan baru dia sulit dihubungi. Itu sebabnya dia menggunakan nomor itu lagi.


“Iya tadi Mama kan telepon Mukti, lalu Mukti cari Made dan Wayan ternyata Made sedang cari dirinya karena Wayan sudah pingsan. Sekarang mama mau suruh Pak Pujo bawa Wayan pulang ke rumah ini. Takutnya dia malah dikasih obat oleh seseorang saat suster tidak melihatnya,” ujar Abu.


“Bagaimana Mas Mukti Pa apa dia aman?” tanya Ayya cemas.

__ADS_1


“Papa sudah bilang sama dia, jangan makan apa pun lagi atau minum apa pun lagi selain yang dia bawa dari rumah. Made pun sudah tahu hal seperti itu karena takutnya ada percobaan lagi menjelang penutupan. Kalau sampai Mukti tidak bisa hadir di penutupan pasti akan bahaya.”


“Baiklah Pa, aku tunggu beritanya. Nomor ini memang sejak tadi aku nyalakan takut ada info baru. Jadi nggak apa apa Papa langsung kasih berita ke nomor ini saja.”


“Okay kamu tenang saja, Mukti akan aman. Papa sudah minta dua orang pegawai Papa meluncur ke pameran untuk menjaga Mukti dari dekat. Mereka akan terus ada di sebelah Mukti untuk berjaga-jaga kalau dia diberi sesuatu yang bisa membahayakan.”


“Iya Pa, tolong jagain Mas Mukti. Kasihan kalau dia jadi korban lagi. Aku takutnya sekarang bukan orang lain yang jadi perempuan yang ditiduri mas Mukti, tapi langsung Silvana!” Ayya mulai terisak.


“Sehingga dia langsung bisa menekan Mas Mukti untuk menikahinya. Saras ternyata sedang hamil saat akan menjebak Mas Mukti. Pasti itu tujuan mereka. Aku takutnya seperti itu Pa. Mas Mukti dijebak untuk menikahi Silvana karena dia sedang hamil,” ucap Ayya dengan suara bergetar.


Papa akan minta pegawai Papa benar-benar jagain dia. Kamu tenang saja dan Papa juga minta Mukti untuk segera pulang bila memang sudah tidak terlalu penting dia berada di sana. Walau tak mungkin dia tidak penting stand by. Waktu mau pembukaan saja dia sampai 20 jam di lokasi.”


“Itu lah Pa, yang aku khawatirkan. Ya sudah Pa, aku tunggu kabar beritanya. Assalamu’alaykum.”


__ADS_1


__ADS_2