CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAK INGIN AMBIL RESIKO


__ADS_3

Hari ini Mukti sedang sibuk super sibuk dia merubah kamar Ayya menjadi kamar mereka. Barang miliknya sudah dipindahkan ke kamar  Ayya dan dia mereposisi semuanya. Mereposisi lukisan, letak lemari, letak tempat tidur, pokoknya semuanya.


“Kan sekarang dan besok kamu masih tidur di sebelah Mas. Kenapa sih sudah dipindahin semua barang-barangmu?” protes Ayya.


“Nggak apa-apa Honey, nanti kalau kita ke sini lagi aku nggak ingin kita baru sibuk ngatur barang dan aku juga nggak ingin orang lain yang mindahin karena bukan seleraku,” jawab Mukti.


“Soal aku, kan bisa tidur di kamar lamaku atau tidur sini juga enggak apa-apa kan dalam dua hari ini?”


“Mas nggak ingin kasurnya diganti yang king size saja. Ini kan cuma queen size,” jawab Ayya tak peduli niat Mukti mau tidur di kamar ini.


“Kalau boleh ganti, Mas mau ganti,” jawab Mukti sambil melihat berkeliling mau mengira-ira yang mana lagi yang harus dia obah.


“Memang siapa yang nggak boleh ganti?” kata Ayya.


“Pasti kamulah,” jawab Mukti.

__ADS_1


“Aku sih nggak apa-apa, ganti saja. Ruangannya masih cukup kok kalau ganti dengan king size,” jawab Ayya santai.


“Aku nggak mau ganti pakai king size,” balas Mukti.


“Lho kok begitu? Ya percuma kalau diganti queen size juga. Nggak ada gunanya.” ucap Ayya.


“Aku mau ganti sama yang ranjang nomor tiga,” jawab Mukti dengan senyum jahilnya.


“Maksudnya apa?” tanya Ayya polos.


“Kok jadi malah kecil begitu wong kita jadi berdua?” kata Ayya. Dia masih tidak menangkap maksud jahilnya Mukti.


“Justru itu, karena kita berdua maka kasurnya harus lebih kecil. Jadi kamu nggak bisa ngambek lari ke ujung kasur. Hanya bisa diam di tempat yang super kecil. Jadi bisa aku peluk setiap saat nggak bisa kabur kalau ngambeg,” ucap Mukti yang langsung meringis.


“Ih usil banget,” kata Ayya  sambil mencubit perut tunangannya membuat Mukti meringis. Dia baru sadar mengapa Mukti ingin mengganti kasur menjadi tempat yang lebih kecil.

__ADS_1


“Kirain kita pulang dua hari lebih lama dari kak Wayan dan kak Made, kita mau jalan-jalan atau mau ngapain. Malah bongkar kamar,” kata Ayya.


“Kamu mau jalan ke mana lagi Yank? Masih belum puas jalan kemarin sama Made dan Wayan?”


“Aku mana pernah nggak puas sih? Walau kepengen jalan berdua tapi jalan berempat atau ingin jalan rame-rame tapi cuma jalan berdua. Aku sih nggak pernah kecewa. Aku terima saja semuanya. Cuma aku berpikirnya begitu. Mas tuh sengaja nunda pulang karena ingin jalan berdua,”jelas Ayya.


“Nggak sih. Mas cuma ingin lebih lama sama mama dan papa saja,” kata Mukti.


Mukti dan Ayya sudah diskusi tempat tinggal mereka tetap di studio. Mereka tidak ingin pindah rumah karena di situlah jiwanya Mukti. Hanya mungkin beberapa akan dimodifikasi juga penggabungan kamar Mukti dan Ayya agar kamar mereka menjadi luas, dan pembuatan kamar lainnya untuk kamar anak dan kamar tamu.


Yang pasti Ayya tetap tidak ingin pindah. dia lebih suka tinggal di studio saja. Padahal Ambar menyuruh tinggal di rumah yang menjadi homestay. Tapi Ayya tidak mau, karena tetap saja nanti Mukti akan susah untuk bekerja. Malah jadi wira-wiri, Ayya merasa inilah jiwa Mukti. Kalau ini jiwa suaminya, mengapa dia harus menjauh?


Kalau menjauh akan membuat celah! Bisa jadi Mukti pergi ke mana-mana. Itu yang Ayya ingin hindari. Karena bila mereka berjauhan pasti ada sesuatu hal yang tak diinginkan terjadi.


Misal mereka tinggal di homestay lalu Mukti kerja di studio bisa saja kan ada tamu ke studio yang menggoda atau bisa saja kan dalam perjalanan pulang Mukti kecantol seseorang? Bukan kecantol dengan sengaja tapi dibuat oleh orang.

__ADS_1


Ayya tidak mau mengambil resiko itu!


__ADS_2