CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BIAR BALANCE!


__ADS_3

“ Mas  magriban yuk.” ajak Ayya. Gadis itu sengaja menyentuh lengan Mukti agar lelaki itu sadar.


“Eh, kenapa Yank?” tanya Mukti kaget. Ayya tersenyum manis dan mengusap keringat di dahi Mukti dengan tissue.


“Berhenti dulu ini, sudah magrib,” ajak Ayya, Mukti melihat sekeliling ternyata memang hari sudah mulai gelap dan lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Kalau sedang bekerja memang dia tak melihat sekeliling sama sekali.


“Tadi Lukas pamit,  Mas nggak dengar, jadi aku biarin aja dia pulang. Dia titip salam buat Mas.”


“Aduh bilangin ya, Mas minta maaf. Mas sama sekali nggak dengar dia pamit,” keluh Mukti dengan penuh penyesalan.


“Dia ngertiin kok. Malah dia bilang salam buat Mas. Dan semoga pamerannya di Solo nanti sukses kata Lukas tadi.”


“Aamiiin. Terima kasih doanya dan terima kasih support kamu ya Yank. Mohon maaf sekali lagi. Mas benar-benar bukan mau cuekin dia, Mas jadi nggak enak kalau kamu nanti yang dianggap nggak baik buat nemenin tamu.”


‘Ini benar-benar bukan Mukti yang selama ini aku kenal,’ kata Ayya dalam hatinya.


‘Apa ini memang Mukti yang asli? Kemarin dia bersikap seperti itu karena dia belum punya kepastian tentang hubungan kami. Aku belum kasih kepastian bahwa aku terima dia sehingga sikapnya jadi jutek dan pemarah?’


“Sudah sekarang Mas istirahat dulu ya. Wudhu, aku tungguin. Habis itu makan dulu, istirahat baru Mas mulai kerja lagi sehabis salat isya.” dengan sabar Ayya mengajak Mukti masuk.

__ADS_1


“Ya Sayank, Mas akan berhenti kok. Tungguin ya,” kata Mukti. Dia pun mencuci tangannya sebelum  masuk padahal habis itu juga akan mandi tapi tetap panjang itu sudah kebiasaannya dia.


Ayya membawa botol-botol air putih dan jus juga mangkok salad ke dalam rumah.


“Bu Pinem, makan malamnya boleh disiapin? Biar habis salat magrib Mas  Mukti nya langsung makan nggak usah nunggu habis salat isya. Dari tadi dia berdiri dan makannya nggak benar,” Ayya meminta agar bu Pinem mensegerakan atur makan malam.


“Iya Mbak Komang, saya siapin. Nanti begitu selesai salat makanannya udah siap kok,” kata Bu Pinem.


“Maaf ya Bu, seharian ini saya sama sekali nggak bantu di dapur.” ujar Ayya.


“Kan memang bukan tugas Mbak bukan di dapur. Mbak kan memang tugasnya di usaha. Sudah nggak usah punya rasa kayak gitu,” kata Bu Pinem Dia sangat salut pada calon istri bosnya,  masih saja memikirkan orang lain padahal pekerjaannya aja banyak. Belum lagi harus mengurus bayi besar yang memang benar-benar semua pun tahu selama ini Mukti tak ada yang memperhatikan. Memang sesekali mamanya telepon, tapi kan kalau hanya ditelepon tetap saja beda.


Tadi Bu Pinem berapa kali melihat Komang menghampiri Mukti dan menyuapi kue atau pun minum baik air putih mau pun juice.


“Mas kita makan dulu, salat isyanya belakangan ya. Jangan buang waktu. Mas  sudah terlalu capek sejak tadi berdiri dan duduk aja. Maaf ya sekarang kita makan dulu,” ajak Ayya.  Mukti memandangi wajah yang bening di depannya dia tak percaya Tuhan benar-benar sayang pada dirinya. Setelah mendapatkan Vio yang begitu culas dan curang ternyata dia mendapatkan  Ayya.


“Ada berita apa lagi?” tanya Mukti seakan dia baru keluar dari semedi di goa, tak tahu perkembangan dunia luar.


“Nggak ada apa-apa. Cuma mama aja tadi ngomel, dia tanya kenapa aku nggak hubungi mama. Aku bilang aku lagi super sibuk. Aku ceritain ada tiga cabang yang laporan, ada tamu juga bolak-balik ngeliatin Mas yang sama sekali nggak mau berhenti kerja.”

__ADS_1


“Kok kamu malah laporin Mas kayak gitu sih Yank?” protes Mukti.


“Nggak ngelaporin Mas, itu kan kenyataan. Mama sampai bilangin jangan lupa makannya Mas. Aku bilang dari tadi udah aku suapin tanpa mama suruh. Mama langsung ketawa aja denger aku bolak-balik nyuapin kue atau kasih minum jus.”


“Yank,  Mas pengen banget buntil loh waktu, di Surabaya dulu sering makan buntil,” kata Mukti sambil mengambil sayur lagi.


“Buntil apa Mas? Ada buntil daun singkong, ada daun talas, ada daun pepaya. Tapi ada lagi buntil dari pare bukan dari daun,” jelas Ayya.


“Wah Mas belum pernah coba tuh yang dari pare Yank.”


“Besok aku bikinin ya,” kata Ayya.


“Benar ya, kalau ada sama yang daun pepaya,” pinta Mukti.


“Koq suka yang pahit-pahit gitu sih? Kalau daun singkong sama daun talas nggak mau.”


“Buntil daun singkong Mas nggak terlalu suka, kalau daun talas Mas suka cuma nyari bahan bakunya kadang susah. Jadi nanti kamu repot. Mendingan daun pepaya aja sama buntil pare yang mau kamu buat.”


“Oke besok aku bikinin itu,” kata Ayya.

__ADS_1


“Alasan minta buntil dari bahan pahit itu satu Yank : BIAR BALANCE!


Ayya : ???


__ADS_2