
“Mas aku minta nomornya mama Vonny.” pinta Ayya saat mereka sedang perjalanan ke bandara.
“Ini cari sendiri,” dengan senang hati Mukti memberikan ponselnya pada Ayya.
“Aku kan nggak tahu kodenya apa? Dan nama mama Vonny ditulisnya apa. Masa aku harus ngacak-acak teleponmu.” kata Ayya.
“Kuncinya sudah Mas ganti sejak semalam. Begitu pun semua pin ATM Mas,” jawab Mukti.
“Apa kuncinya?” kata Ayya.
“Tanggal hari ini, bulan hari ini, dan tahun hari ini.” jawab Mukti.
“Sudah Mas ganti semua sejak semalam, tapi yang digunakan tanggal hari ini? Memang ada apa?” tanya Ayya. Dia masih tak mengerti apa korelasi antara perubahan semua ATM juga password HP Mukti dengan tanggal hari ini.
“Tanggal hari ini itu pembuktian bahwa Mas benar-benar serius ke kamu. Mas ngelamar kamu secara tidak resmi depan mama. Jadi tanggal hari ini itu tanggal terpenting buat Mas melangkah ke yang lebih serius,” jelas Mukti dengan pasti.
SPEECHLESS.
__ADS_1
Itu yang Ayya rasakan. Dia tak tahu lagi harus bicara apa begitu mengetahui Mukti sangat mementingkan tanggal dan bulan serta tahun hari ini sebagai tanggal bersejarah mereka. Dan itu sudah di persiapkan sejak malam sebelumnya. Bukan spontanitas. Artinya sudah dipertimbangkan secara masak.
“Ini buka sendiri,” kata Mukti.
Ayya melihat foto wallpapernya sudah ganti lagi. Bukan foto Ayya, Ambar dan Mukti. Tapi hanya Ayya dan Ambar tak ada Mukti di wallpapernya ponsel Mukti.
Tapi jangan salah, foto WA-nya adalah foto Mukti sedang mencium pipi Ayya saat acara resepsi pernikahan Sonny dan Adelia. Ayya tentu saja tidak melihat karena baru ganti tadi malam dan dia memang seharian ini tidak memperhatikan PP WA dari Mukti yang sudah berganti foto.
Ayya mencari nomornya Vonny, ternyata namanya di situ adalah dokter Vonny.
Ayya mencari nama dirinya dia dia mencari di huruf A sebagai awal naman Ayya atau Ayu tidak ada. Dia cari di huruf K sesuai dengan namanya Komang Ayu tidak ada. Ayya bingung siapa nama dia tersimpan di ponselnya Mukti.
“Cari di huruf M,” jawab Mukti santai.
‘Kok M sih?’ batin Ayya. Dia sendiri jadi bingung mengapa namanya tersimpannya di M.
Ayya men scroll dari M pertama, setelah menemukan siapa nama dia di situ Ayya hanya bisa memandang Mukti. Mukti balas memandang dan tersenyum manis.
__ADS_1
Ayya mengirim nomor kontaknya Vonny pada nomor tersebut dan dia kembalikan ponselnya.
“Terima kasih,” kata Ayya.
Sekarang bukan speechless lagi tapi double speechless. Benar-benar tak bisa bicara apa pun dengan kode M yang tadi Ayya lihat.
“Sampai Bali aku pulang dulu ke rumah papa ya Mas,” Ayya berpikir ingin menenangkan diri sebentar. Dia ingin cerita semua kisah hidupnya.
“Ya, nanti Mas atur waktu dulu,” jawab Mukti.
“Enggak. Aku ingin pulang sendiri, jangan Mas antar,” pinta Ayya.
“Kenapa enggak boleh ditemani. Mau apa kamu pulang?” Mukti merasa ada sesuatu yang Ayya sembunyikan darinya.
“Aku hanya ingin pulang aja. Satu hari pun enggak apa-apa. Yang penting aku ketemu papa aja,” jelas Ayya.
“Mas enggak larang kamu pulang. Kamu boleh menginap seberapa lama kamu mau. Dengan syarat Mas antar,” balas Ayya.
__ADS_1
“Kalau begitu aku enggak jadi pulang,” tegas Ayya. Gadis ini takut tiba-tiba Mukti langsung bicara pada Wayan, melamarnyanya dan minta disegerakan menikah. Ayya tak siap bila papanya langsung menerima lamaran Mukti. Itu sebabnya dia ingin pulang dan atur strategi lebih dulu agar Wayan tak langsung menerima lamaran Mukti.