
“Aku bikin sambalnya nggak jadi sambal penyet Mas. Ini sambal terasi biasa aku goreng mateng. Kalau Mas mau pakai sambal, karena tadi Mas bilang kan ayam nanasnya manis.”
“Tapi kalau mau sayur pedas ini tadi aku minta Bu Ikhlas masak tumis daun pepaya, rupanya dia tambah udang tapi tetap super pedas.”
Mukti mencicipi ayam masak nanas, dia yakin yang meracik bumbu ini pasti Ayya. Begitu pun sambal juga tumis daun pepayanya. Rupanya kekasihnya itu pintar. Dia tidak masak tapi dia meracik bumbunya. Sehingga tetap rasanya adalah olahan dia. Mukti bahagia ternyata calon makmumnya itu tidak melawan perintah imam karena memang itu yang seharusnya.
“Kamu tadi nyuruh Bu Pinem dan Bu Ikhlas kasih makan para tukang?” tanya Mukti.
“Iya Mas. Apa aku salah?” tanya Ayya karena dia lupa tidak minta izin dulu pada pemilik rumah.
“Nggak. Kamu enggak salah Yank. Aku yang malah lupa. Aku mau minta maaf karena teledor,” jawab Mukti. Untung Ayya menyuruh bu Pinem. Kalau tidak kan kasihan para tukang itu.
“Aku lupa minta izin dulu Mas. Maaf ya,” kata Ayya.
“Nggak, kamu sudah benar kok. Memang seharusnya ya kita kasih makan, walau tetap kita bayarkan uang makannya. Tadi Mas bilang pada mereka kalian makan saja yang sudah disiapkan, uang makan kalian tidak saya potong. Itu yang aku katakan. Biar itu jadi berkah buat anak dan istrinya. Sama seperti pegawai di sini. Semua tetap dapat uang makan, tapi mereka juga makan bersama hasil masakan Bu Pinem,” jelas Mukti.
“Iya Mas. Kita memberi sedikit, tapi kita dapatnya super banyak. Kita kasih nasi dan sayur bening, tapi kita mendapat puluhan doa dari mereka. Itu yang tak bisa terbayarkan dengan apa pun,” kata Ayya sambil menyerahkan piring nasi dan lauk pada Mukti.
“Terima kasih ya Yank, kamu sejalan dengan aku,” kata Mukti dengan senyum manis. Dia terima piring dari calon istri tercinta.
__ADS_1
“Ya semoga rezeki yang kita berikan itu berkah,” ucap Ayya.
“Aamiiin,” jawab Mukti.
‘Dulu boro-boro Vio mau memberi. Saat kami makan ada orang menghampiri untuk minta sesuatu saja Vio langsung menepis dan mengusirnya. Dia bilang mengganggu nafsu makannya. Bahkan sejak SMA Vio sama sekali tak suka berbagi pada pengemis.
“Mau tambah lagi?” tanya Ayya. Sejak tadi dia sudah selesai makan. Hanya Mukti masih asyik dengan makan ayam masak nanas tanpa nasi.
“Cukup Yank. Super kenyang. Untung kamu tadi nggak jadi makan jam 10.00. Kalau kamu kasih makan Mas jam 10.00, lalu makan siang seperti ini lagi mungkin perut Mas nggak cukup,” ucap Mukti menyudahi ngemil ayam.
Ayya hanya tersenyum saja. Besok mereka rencananya akan ke rumah Wayan untuk menginap di sana dua hari dan untuk makan siang Ayya sudah bilang sama Wayan dia yang akan bawa makanan. Ayya berencana kembali masak ayam nanas.
“Siapa Bu?” tanya Mukti.
“Pak Made dan pak Wayan. Tapi bersama empat orang lain,” lanjut bu Ikhlas.
“Suruh masuk saja Bu dan buatkan minum serta kasih snack ya,” kata Ayya. Untung mereka sudah selesai makan. Ayya menyodorkan tissue basah pada Mukti. Tapi lelaki itu tak mau menerimanya. Akhirnya Ayya tahu apa maksudnya Mukti. Dia lap mulut Mukti, lalu kedua tangan Mukti dan membiarkan Mukti berjalan ke depan untuk menerima tamu di teras studio.
Ayya sendiri juga melakukan hal yang sama membasuh mulutnya dengan tissue basah dan mencuci tangannya dengan air yang diberi perasan kulit jeruk limo agar tangannya tak bau amis.
__ADS_1
“Bu Pinem, sore jadi bikin serawut?” kata Ayya.
“Jadi. kenapa Mbak?”
“Bisa bikin agak banyak nggak? Bahannya pakai semua saja tidak dibagi tiga seperti biasa.”
“Ada apa ya?” tanya Bu Pinem. Karena jumlah stock bahan yang ada sangat banyak. Kalau harus dibikin sekaligus sangat banyak lalu buat apa?
“Nanti bawakan para tukang serawut yang sudah matang atau mungkin bungkus kecil-kecil dengan daun, sajikan buat mereka ngopi sore, juga semua pegawai,” kata Ayya.
“Kalau hanya itu, setengahnya saja cukup Mbak. Jangan semua. Nanti terlalu banyak. Yang separuh bahan bisa buat olahan lainnya besok atau lusa.”
“Oh ya sudah kalau setengah dari bahan cukup. Aku kira bahannya cuma sedikit.”
“Enggak Mbak. Cukup. Berarti saya bikin sekarang saja. Biar bisa mereka ikut makan saat ngopi sore.” sahut bu Pinem yang sedang membereskan piring motor bekas makan. Sedang Bu Ikhlas langsung membuat minum untuk para tamunya yang entah siapa karena Made dan Wayan datang bersama empat orang lainnya. Kalau hanya Made dan Wayan tentu mereka akan langsung masuk. Tak hanya duduk di teras depan.
“Kalau memang cukup nanti bawakan pak Made dan pak Wayan untuk bawa pulang ya Bu. Bawakan dalam thin wall yang agak besar,” pesan Ayya selanjutnya.
“Iya Mbak Ayya. Akan saya buat sekarang juga,” kata Bu Pinem sambil berjalan ke dapur mengambil singkong untuk mulai dia kupas.
__ADS_1