CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SEHARIAN MENUNGGU JUGA BETAH


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Apa kabar pak Mukti?” tanya Arjun. Satu jam sejak Arjun telepon dia tiba di studionya Mukti. Seorang pegawai mengantar ke dalam untuk bertemu dengan Mukti.



“Eh silakan duduk di pendopo saja, kabar baik,” jawab Mukti menerima uluran tangan Arjun.



“Sudah ketemu dengan Ay … Komang?”



“Belum Pak, tadi pegawainya antar saya buat menemui Bapak dulu,” jawab Arjun.



“Silakan, silakan, saya sedang kerja jadi Anda berhubungan langsung dengan Komang Ayu saja,” dengan halus Mukti mengusir Arjun dengan sangat sopan. Dia tentu malas ngobrol dengan kompetitornya itu.



Arjun langsung mundur dari hadapan Mukti. Arjun masuk ke dalam pendopo studio, dia memang melihat Komang Ayu sedang sibuk dengan laptopnya juga ada telepon portable rumah dan dua handphone di meja tersebut.



“Apa kabar?” tanya Arjun mengulurkan tangannya.



“Alhamdulillah baik, silakan duduk. Sebentar aku balas email dari cabang dulu kata Komang Ayu menerima uluran tangan Arjun.



“Mbak Komang itu ada orang dari Gianyar yang datang,” seorang pegawai memberitahu Ayya ada orang dari galeri Mukti yang di Gianyar.



“Suruh masuk saja Pak,” balas Komang tanpa mengangkat wajah dari laptopnya sambil mencocokkan data di laptop dengan data di telepon milik Mukti yang nomor usaha.



“Silahkan duduk Jun. Koq berdiri aja? Maaf ya aku sambi. Soalnya ini bukan jam liburku jadi aku tetap harus profesional kerja. Nanti aku temani setelah tamu selesai baru aku bisa ngobrol sama kamu.”



Cukup lama orang dari Gianyar berdiskusi tentang invoice yang akan dikirim ke Jepang.

__ADS_1



“Kelengkapan untuk karantinanya sudah kan?”



“Sudah siap di packing sih Bu Komang, tinggal tanda tangan Ibu sama minta tanda tangan Mbak Sita di kuitansi pembayaran,” jawab orang tersebut. Sita yang lebih senior dan lebih tua mereka berani panggil mbak, tapi pada Komang mereka menyebut ibu.



“Sesudah ini baru kami langsung ke karantina.”



“Oke ini sudah saya tanda tangani, silakan diproses jangan sampai terlambat.”



“Iya Bu Komang terima kasih. Pamit kan pada Pak Mukti kami enggak berani ganggu kalau bapak sedang seperti itu. Dia bisa ngamuk kalau terganggu,” ujar sanga pegawai.



“Namanya seniman kan seperti itu. Kamu kayak baru kerja satu atau dua hari saja sama Pak Mukti. Kalau enggak ngertiin dia ya mending tak usah kerja sama dia,” jawab Komang Ayu sambil tersenyum.



\*‘Pantas tadi dia tak mau aku ganggu,’ \*batin Arjun.




“Iya.”



“Sambil nunggu Mbak Komang, silakan diminum Mas, kata bu Pinem. Dia membawakan minuman sirup dan singkong goreng yang masih hangat.



“Bu Pinem tolong ya juice yang sudah saya keluarkan sejak pagi kasihkan ke Pak Mukti, sudah cair kayaknya siap diminum. Sama singkongnya bawakan tapi jangan taruh piring, taruh kotak yang ada tutupnya biar tidak kena debu, cuma sementara jangan ditutup rapat dulu karena masih panas,” pinta Ayya pada bu Pinem.



“Baik Mbak,” sahut bu Pinem.



“Kamu mau ngomong apa Arjun? Aku enggak bisa lama-lama. Kami sedang deadline,” ucap Ayya sambil mengambil singkong goreng.


__ADS_1


“Aku tuh enggak tahu kenapa kamu marah ….” belum selesai Arjun bicara Ayya sudah memotongnya.



“Maaf, tunggu sebentar ada telepon masuk,” potong Ayya.



Ayya langsung menerima telepon dari cabang Denpasar cukup lama dia bicara masalah teknis.



“Wah enggak bisa kalau langsung bicara dengan Bapak. Kamu tahu kan dia lagi kerja, nanti bisa saya yang kena marah. Sudah kamu bicarain aja sama saya, nanti saya tulis semua yang kamu minta,” ucap Ayya.



“Sepertinya ini bukan produksinya Bapak loh bu Komang, yang cabang kami minta ini produksi anak-anak studio. Jadi bisa langsung lihat di daftar stock studio saja sih.”



“Lho kenapa tadi minta bicara sama Bapak?” tanya Komang Ayu.



“Maksud saya, saya mau minta buat ditambahin jumlah tersebut. Dibanyakin jenis kecil itu karena barang itu yang cepat terjual di sini,” jelas lawan bicara Ayya.



“Kalau jenis massal kan bukan dari tangan Bapak? Dari semua pengrajin di sini,” jawab Ayya.



“Benar Bu. Kami mau ajukan supaya jumlahnya diperbanyak,” pinta orang galery itu selanjutnya.



“Yang jadi pertanyaan bisa tidak para pengrajin disini  produksi barang itu dalam jumlah banyak dan tempo yang singkat karena minggu depan harus dikirim. Nanti saya tanyakan ke ketua pengrajin agar saya tidak asal jawab. Mereka yang lebih tahu. Takutnya mereka sudah menjanjikan cabang lain dengan produk yang berbeda dengan kebutuhan cabang Anda,” jelas Komang Ayu. Arjun memperhatikan saja semua itu dengan saksama. Dia tak bosan atau marah menunggu Komang bekerja. Seharian pun dia akan rela memandangi wajah cantik pujaan hatinya itu.



“Iya Bu gitu aja sih. Nanti saya telepon lagi ya kalau memang masih ada yang kurang atau kalau enggak saya datang ke situ deh.”



“Kayanya kalau datang ke sini lebih enak deh, saya tunggu ya,” kata Komang Ayu.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.


__ADS_1


__ADS_2