
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Paman bisa minta nomor ponselmu?” tanya sang Paman.
“Oh boleh Paman,” jawab Komang memberikan nomor teleponnya pada Jidan.
“Kalau ada apa-apa biar kamu kabari ini nomor Paman,” kata Jidan yang langsung misscall ke nomor ponsel Komang.
“Inggih Paman,” jawab Komang.
“Ya sudah, Paman hanya ingin tanya ketegasan tentang khabar ibumu. Ini ada sedikit rezeki untukmu,” Jidan memberikan amplop kecil pada Komang.
“Jangan Paman biar buat adik-adik saja,” Komang tak mau menerima kebaikan pamannya.
“Tidak kamu tak pernah merepotkan kami. Ini uang dari bibimu, bukan dari Paman. Jadi ini tidak sembunyi-sembunyi, memang Bibi memberikan buat kamu,” Jidan tahu Komang tak enak pada istrinya.
“Mohon maaf Paman, apa bisa Paman kasih ke nomor rekening Pakde Saino saja biar buat ibu langsung? Aku cukup dengan yang ada saja. Ibu lebih penting buatku,” dengan tulus Komang minta Jidan berikan langsung ke rekening pakde Saino saja.
Jidan meneteskan air mata, dia ingat bagaimana Sukma sejak kecil berkorban bekerja di Bali untuk membantu orang tua mereka agar dirinya dan mas Halim kakaknya bisa sekolah. Ternyata Sukma dan Wayan serta Komang itu satu visi mereka memang sangat mencintai keluarganya.
__ADS_1
“Baik Paman akan bilang pada bibimu, kalau menurut kamu lebih baik uang itu diberikan pada ibumu melalui Pakde Saino saja,” jawab Jidan.
“Iya Paman ini nomornya pakde Saino dan ini nomor rekeningnya,” Komang menuliskan nomor rekening di selembar kertas diberikan kepada pamannya,
“Nanti kamu tuliskan pesan aja nomor rekeningnya, nomor ponsel mas Saino sudah Paman save. Paman takut kertas ini hilang ini walau pun sekarang Paman terima biar nanti Bibi yang urus ya,” Kata Jidan.
“Iya Paman. Terima kasih, bukan saya menolak rezeki tapi Paman mengerti itu lebih dibutuhkan oleh ibu daripada untuk saya di sini,” kata Komang.
“Iya Nak Paman ngerti, kamu memang yang terbaik buat ibu dan papamu,” kata Jidan. Tak mau mengganggu waktu kerja keponakannya, Jidan pun langsung meninggalkan kafe itu.
\*\*\*
Komang tak malu meminjam uang bila demi sang ibu. Hidupnya memang hanya untuk ibunya.
\*\*\*
“Komang, ada rombongan seniman yang request kopi buatanmu,” Dadang memanggil Komang di ruang cuci piring.
Memang para seniman ini pernah satu kali dibuatkan kopi oleh Komang saat semua sedang sibuk, jadi Komang membantu karena saat itu sedang full order.
__ADS_1
Entah bagaimana ada yang suka dengan racikan Komang, maka setiap mereka ngumpul, mereka selalu minta Komang yang membuatkan kopi untuk mereka.
“Baik,” jawab Komang yang segera membersihkan tangannya dari sabun.
“Kopinya berapa gelas?” bisik Komang pada Kusno yang mengerjakan pesanan makanan.
“Meja 7 kopi hitam 4 dan cappuchino 3,” jawab Kusno melihat daftar pesanan meja 7.
Tanpa menjawab lagi Komang membuatkan pesanan kopi meja 7 dan membawakannya kedepan.
“Mukti gimana sih? Dia yang ngajak ketemuan malah membatalkan diri,” Komang mendengar para seniman itu ada yang kesal karena satu temannya tak bisa hadir.
“Neneknya sakit dan papanya harus pulang ke Bali, jadi dia ikut. Papanya sih nyuruh dia tetap disini aja tapi dia enggak tega jadi dia ikut pulang,” jawab yang lainnya.
“Ada kurang minumannya?” tanya Komang.
“Sementara cukup,” jawab seorang dari 7 orang dimeja itu.
“Baik silakan dinikmati. Terima kasih,” Komang langsung mundur dari meja itu.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok
__ADS_1