CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KEMBALI HANGAT


__ADS_3

“Alhamdulillah kalian sudah bangun,” kata Ambar melihat Ayya dan Mukti keluar kamar


“Iya Ma, aku bangun duluan,” kata Ayya.


“Mas mau teh?” tanya Ayya lembut.


“Boleh minta kopi nggak Yank? Mas puyeng, pengen ngopi,” tawar Mukti.


“Ya sebentar aku buatkan. Ada yang mau buat kopi lagi? Biar sekalian aku bikin,” kata Ayya.


“Kamu itu baru sadar. Nggak usah repot,” tegur Abu pada putri terkasih istrinya.


“Aku nggak repot Pa, cuma bikinin Mas Mukti kopi, karena aku hafal komposisi kopinya Mas Mukti. Nggak akan aku ngapa-ngapain lagi kok. Aku bikin racikannya saja,” jawab Ayya ngebantah Abu.


“Janji ya kamu cuma bikin racikan kopi saja kata Angga. Dia juga tak mau Ayya sakit.


“Eyang, aku kan nggak sakit dan aku nggak ngerasa apa-apa kok. Walau masih ngerasa super ngantuk. Mungkin karena obatnya saja. Tapi aku nggak apa-apa. Nggak pusing atau apa pun. Jadi nggak perlu dikhawatirin seperti itu. Habis ini kita langsung bicara. Aku tahu kalian semua nungguin aku bicara kan? Sebentar aku bikin kopi dulu. Kak Made kak Wayan mau kopi?” tawar Ayya.

__ADS_1


“Mau,” jawab Made cepat.


“Aku nggak nolak,” balas Wayan sambil mengangguk.


“Kalau gitu Papa juga mau,” kata Abu.


“Oke tunggu sebentar. Aku akan buatkan kopinya. Mama mau tambah teh panas?”


Ambar hanya menggeleng. Walau dia jawab tak mau, Ambar yakin putrinya akan membuatkan sesuatu untuk dirinya.


“Oke siap. Habis ini tolong siapkan uang cash. Aku tidak terima pembayaran menggunakan credit card,” kata Ayya sambil berlalu. Mukti hanya tersenyum bahagia dia sudah sangat yakin Ayya tak akan meninggalkan dirinya.


“Lho mbak Ayu mau apa?” tanya Bu Parman melihat Ayya langsung memasak air panas untuk bikin kopi.


“Aku mau bikin kopi Mas Mukti Bu. Dan minta cangkir kopi lainnya selain yang buat Mas,” pinta Ayya. Gelasnya Mukti di rumah ini mau pun di villa Uluwatu dan di studio memang khusus walau tak sama. Sejak SMA Mukti tak mau minum kopi dengan gelas yang sama dengan yang lain. Jadi di tiap rumah dia sediakan cangkir kopi yang dia beli sendiri.


Bu Parman langsung mengeluarkan kopi, krimer, gula dan cangkir kopi. Tentu saja ada satu cangkir khusus milik Mukti yang memang ada di rumah ini tak boleh bercampur dengan cangkir lainnya.

__ADS_1


Ayya juga membuatkan su5u jahe untuk Angga dan untuk dirinya dia buat su5u coklat panas begitu pun untuk Ambar.


Bu Parman seperti niatnya tadi, dia langsung menggoreng lumpia semarang, juga ubi untuk tambahan cemilan diskusi sore ini.


“Bu ini sudah aku racik. Tinggal dituang air mendidih. Tadi eyang sama papa sudah bilang aku nggak boleh kelamaan di dapur. Jadi tinggal seduh semuanya ya Bu. Semuanya sudah aku racik kok. Jadi nggak mungkin salah terlebih yang buat Mas Mukti,” kata Ayya.


“Iya Mbak, saya mengerti kok. Pasti Mas Mukti nggak akan mau kalau bukan buat racikannya Mbak Ayu. Dia bisa bedain. Aneh padahal kalau menurut Ibu sih sama saja,” jawab bu Parman.


“Beda memang komposisinya. Ini juga su5u jahenya eyang tinggal seduh. Pokoknya semua tinggal seduh saja,” kata Ayya. Dia pun langsung bergegas meninggalkan dapur daripada ditegur oleh Abu atau Angga atau bahkan disusul oleh Mukti.


Di ruang tengah Ambar sudah menghubungi Sonny dan Adelia. Dia bilang 15 menit lagi akan mulai diskusi agar kedua anaknya di Jogja bersiap-siap untuk ikut zoom meeting bila mereka waktunya bisa.


Angga senang Ayya sudah langsung kembali dari dapur tanpa membawa apa pun. Artinya Ayya memang menurut dengan saran Abu dan dirinya yaitu Ayya tidak boleh terlalu lama di dapur.


“Sudah selesai Yank?” tanya Mukti melihat tunangannya sudah kembali.


“Sudah Mas. Aku sudah racik semuanya. Nanti begitu air mendidih Bu Parman tinggal tuang,” jawab Ayya sambil duduk merapat dengan Mukti. Mukti memeluk bahu perempuan itu dan mengecup keningnya. Ambar tentu sangat bahagia melihat bagaimana keduanya kembali hangat seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2