CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
BUKAN AYU YANG HARUS MENYAMAR


__ADS_3

“Apa yang kamu dapat?” tanya Angga saat Sonny menghubungi mereka di Solo.


“Kami sudah telepon papanya Ayu di Badung dan papanya Ayu sudah siap bila dapat kiriman video Mukti mau pun video Ayu. Yang aneh lagi Sri sudah dapat video itu,” lanjut Angga.


“Lalu kami di sini juga curiga terhadap dua mahasiswi yang tidur bersama Made dan Mukti.”


“Kenapa dengan dua mahasiswi itu Eyang?” tanya Adelia.


“Ternyata mereka tidak mengalami trauma padahal logikanya seorang perempuan yang habis kena musibah seperti itu akan trauma dengan sesuatu yang berhubungan dengan kejadian. Misalnya tempat atau lokasi, atau makanan yang mereka makan sebelumnya atau apa pun yang engingatkan dengan trauma yang baru dialami.”


“Karena Wayan, Made maupun Mukti saja enggan mendatangi cafe tersebut kalau tidak berhubungan untuk mencari rekaman CCTV di sana. Tetapi dua mahasiswi itu tetap sering datang ke cafe tersebut dan makan dengan santai di sana,” kata Angga yang sejak tadi menjadi juru bicara kelompok Solo.


“Kok bisa tahu Eyang?” tanya Adelia.


“Waktu aku menghilang dari keluarga, aku itu menyamar dan aku sering melihat kedua gadis tersebut makan siang di kafe dengan santai. Mereka bahkan menggunjing tentang kak Made dan Mas Mukti bahwa kalau tidak diancam oleh Mas Mukti dan kak Made, mereka ingin menjebak kak Made dan Mas Mukti untuk menikahi mereka.” jelas Ayya.

__ADS_1


“Astagfirullah,” kata Sonny dan Adelia bersamaan.


“Kok kamu bisa nggak ketahuan oleh mereka?” tanya Sonny.


“Itu ceritanya panjang Mas. Aku menyamar, aku duduk di sebelah mereka pun, mereka tidak tahu. Bahkan aku berdiri di belakang Mas Mukti, Mas Mukti juga tidak tahu bahwa itu aku. Jadi selama aku kabur aku tahu kegiatan Mas Mukti. Aku pernah lihat Mas Mukti di rumah sakit satu kali tapi selebihnya aku tidak lihat lagi karena batinku tidak kuat,” jawab Ayya.


Mukti langsung memeluk bahu tunangannya yang mengatakan tak kuat batinnya melihat dia sakit. Itu pertanda Ayya sangat mencintainya.


“Jadi langkah kita sekarang mau bagaimana?” tanya Abu.


“Tadi kan Ayu dan Mukti mau tanya sama Carlo,” ucap Ambar.


“Carlo itu menghubungi aku tiap hari. Bisa dua atau tiga kali SEJAK tragedinya Mas Mukti, Mas. Aku menduga Lukas atau Carlo mendapat video tentang aku dan Lukas sehingga Carlo ingin mengkonfirmasi dengan aku. Mengapa aku tidak menerima cintanya tapi malah bermain kotor dengan Lukas. Itu sebabnya aku dan Mas Mukti ingin bertemu dengan Carlo. Tapi ya kita harus rembukan dulu bagaimana langkah terbaiknya,” ucap Ayya.


“Aneh ya kalau Carlo menghubungi kamu mulai tragedi terjadi. Kalau dia menghubungimu sebelum tragedi itu kita nggak akan berpikir ke sana,” kata Adelia.

__ADS_1


“Benar Kak.  Carlo itu menghubungi aku setelah aku ganti nomor. Artinya setelah tragedi. Kan sebelum tragedi aku nggak ganti nomor. Nomorku selalu aktif, dia tidak pernah menghubungi. Begitu aku ganti nomor sejak kabur dari rumah itu, tiap hari dia menghubungi aku. Jadi aku bisa memastikan bahwa Carlo menghubungi aku sejak kejadian dan aku menduga mungkin dia mendapat videoku dan Lukas tersebut,” jelas Ayya.


“Kalau begitu memang benar kamu harus menghubungi atau bertemu dengan Carlo,” ujar Sonny.


“Baik aku tadi juga sudah bilang Mas. Aku akan bertemu Carlo, pertama aku ingin menyamar dulu,” jelas Ayya.


“Tidak tak perlu kamu menyamar.” kata Sonny.


“Kamu datang sebagai Ayu asli saja. Yang menyamar Mukti, Wayan dan Made. Coba kamu bikin mereka tidak dikenali oleh siapa pun. Jadi Mukti, Wayan dan Made ada di lokasi untuk menjaga kamu kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mukti, Wayan dan Made kan sudah kenal dengan Carlo kalau mereka tidak menyamar bisa bahaya,” jelas Sonny.


“Nah benar itu,” kata Abu.


“Ayu langsung menjadi dirinya sendiri, tiga lelaki ini saja yang menyamar.”


“Baik Pa, nanti aku akan buat sedemikian rupa. Tapi mungkin besok pagi temani aku ke orang yang jual peralatan salon untuk membeli berbagai atribut untuk penyamaran.”

__ADS_1


“Hanya butuh wig saja kan?” kata Ambar.


“Nggak Ma. Nggak hanya wig. Kalau hanya wig gampang temui di beberapa toko aksesoris. Banyak yang harus dibeli seperti krem wajah. Itu yang membuat aku berbeda jauh dengan aslinya. Lalu juga pensil khusus untuk alis dan kumis nanti akan membuat sangat berbeda. Harus beli baru. Nggak mungkin kan kalau rambutnya coklat, kumis dan cambangnya hitam? Itu harus disesuaikan. Jadi mereka nanti tidak berambut hitam semua. Akan aku ubah,” kata Ayya.


__ADS_2