
“Iya Pa?” kata Mukti saat menjawab telepon dari papanya.
“Pegawai Papa yang akan mendampingi kamu sudah datang?” tanya Abu.
“Sudah Pa, tadi nggak lama dari Pak Pujo datang bawa Wayan. Apa Pak Pujo sudah sampai rumah?”
“Belum Pak Pujo belum sampai. Tadi Mama bawakan tambahan bekal sama minum, sudah kamu terima langsung? Papa pesankan pak Pujo jangan sampai diberikan pada siapa pun,” balas Abu.
“Iya sudah ada di mobil aku. Kayaknya nasinya sih cukup. Paling minumnya yan butuh tambah. Karena kan sekarang Made harus minum sama aku juga,” jawab Mukti.
“Papa sudah panggil dokter, nanti kalau Wayan datang biar dia langsung ditangani dokter,” jalas Abu.
“Papa telepon itu karena Ayu bilang kamu harus hati-hati. Dia barusan telepon lagi dan ketakutan kalau kamu sampai dijebak Silvana. Dia takutnya kali ini kamu akan dijebak untuk bercinta dengan dia, bukan dengan perempuan lain. Sehingga nanti Silvana akan bilang bahwa dia hamil anak kamu. Buktinya kan Saras juga mencoba seperti itu tetapi keburu dia ke jegal sama Ayu. Sehingga Saras marah ke Ayu menyiram kopi. Padahal saat itu Saras sudah hamil kan?”
”Aku nggak bisa ngebayangin bila aku sampai kejebak seperti itu. Sama seperti Papa dulu ya Pa?” ucap Mukti.
“Itulah makanya barusan Ayu takut banget kamu dijebak Silvana. Sebenarnya kalau nggak ada masalah ini, dia itu jelas-jelas banget cinta sama kamu. Tapi untuk kembali bersama mungkin agak lama prosesnya. Karena seperti yang dia bilang dia trauma melihat video tersebut. Makanya mas Sonny mau bawa dia buat hypnoterapi untuk menghapus jejak tersebut. Nanti kalau sudah ketemu semoga saja bisa terjadi,” ucap Abu. Lelaki itu tahu anaknya juga sangat mencintai Ayu, seperti gadis itu mencintai Mukti.
“Aamiiin. Aku berharap seperti itu Pa,” jawab Mukti.
“Ya sudah, sekarang Papa tutup dulu. Yang penting ingat pesannya Ayu. Jangan makan atau minum apa pun dan hati-hati takutnya dijebak oleh asap atau apa. Anak buah Papa pasti akan selalu di sebelah kamu,” ucap Abu lagi.
Ternyata Abu tidak jadi mengirim dua orang tapi empat orang sekaligus. dia sungguh ketakutan begitu tahu Wayan sudah kena jebak.
__ADS_1
“Pasien yang tadi pingsan ke mana ya Suster?” tanya seseorang pada suster di ruang kesehataan pameran.
“Oh dibawa pulang sama keluarganya,” jawab suster yang berjaga.
“Dia kan kontingen dari Bali. Kok bisa dibawa pulang keluarganya?” orang itu tak percaya buruannya hilang.
“Saya nggak tahu. Pokoknya dia dibawa pulang,” jelas suster itu.
‘Sial padahal aku ingin membuat Wayan jadi pancingan buat jebak Mukti malah Wayan nya dibawa pulang. Sialan! Pasti ada di mess kontingen Bali. Aku harus ke sana,” kata orang tersebut.
“Baik. Saya permisi ya Suster. Saya akan ke rumah keluarganya saja,” orang tersebut pamit dengan sopan.
“Silakan,” jawab suster tersebut.
“Oh iya, terima kasih, nanti saya beritahu dia,” kata Made.
“Tadi ada orang yang cari dia Pak. Dia tanya teman Bapak dibawa ke mana?”
“Siapa Suster?” tanya Mukti cepat.
“Seorang perempuan rambut pendek Pak. Putih tinggi, dia nanya Pak Wayan dibawa ke mana?”
Mukti langsung berpandangan dengan Made.
__ADS_1
“Sebentar Suster, saya kasih lihat dulu fotonya,” Made mencari file foto Silvana di media sosialnya melalui ponsel.
“Apa perempuan tadi ini?” tanya Made.
“Iya Pak. Perempuan ini tanya Pak Wayan dibawa ke mana.
jawab suster tersebut.
“Waduh dia benar-benar mencari Wayan. Pasti dia ingin melakukan sesuatu,” ucap Mukti.
“Bisa jadi seperti itu,” jawab Made.
“Ya sudah ayo kita kasih tugas pada setiap divisi. Lalu kita bilang nanti malam kita kontrol lagi. Nanti kita kontrol sama anak buah papa dan papa saja. Sekarang kita mendingan pulang bahaya kalau kita terus di sini,” ajak Mukti merasa tak nyaman.
“Baik,” jawab Made. Mereka makin yakin Silvana ada kaitannya dengan jebakan yang menimpa mereka.
Mukti lalu memanggil semua divisi dan memberi perintah bahwa dia akan mengecek Wayan dulu dan nanti tengah malam dia akan kontrol pekerjaan semuanya apakah sudah selesai atau belum untuk penutupan besok.
“Kalau ada staff dari kantor gubernur, suruh hubungi saya langsung saja,” kata Made.
“Ini nomor yang boleh dihubungi oleh orang dari kantor gubernuran,” Made memberikan nomornya pada penanggung jawab di sana. Bukan nomornya Mukti. Nanti baru Mukti yang bicara bila diperlukan.
__ADS_1