
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Akhirnya Mukti pun mengalah dia mengikuti Ayya untuk ke pendopo.
“Mas enggak usah nanya ini pasti buatanmu kan?” kata Mukti melihat nasi goreng seafood yang dihidangkan.
“Berarti aku enggak perlu jawab ‘kan?” balas Ayya.
“Kok cuma satu piring?”
“Apa segitu enggak cukup kenyang? Nanti dibikinkan lagi kalau kurang,” ujar Ayya.
“Loh, buat Mas ya kenyang, tapi buat kamu mana? Kamu enggak makan?” tanya Mukti.
“Nanti aku makan, tenang saja. Sekarang Mas makan dulu.”
Tanpa menunda Mukti-pun makan nasi goreng seafood yang sangat nikmat. Sebelumnya dia foto dulu lalu dia kirim ke group keluarga.
\*‘@Aksa. Pasti kamu akan ngiri kalau aku bilang hari gini aku sudah disiapin nasi goreng seafood oleh putri tercintanya mama,’ \*goda Mukti pada Aksa.
‘*Wow, di sini belum ada yang mateng*,’ tulis Ambar.
‘*Aku kerja dari jam 03.00 Ma. Begitu habis salat subuh, Ayu langsung bikinin ini. Kami tadi seperti biasa salat berjamaah*.’ balas Mukti.
“Mas kalau makan jangan sambil pegang HP,” perintah Ayya.
“Eh maaf ya,” jawab Mukti. Memang dia biasa makan sambil pegang HP atau memandang hasil kerjaannya. Dan itu sudah dilarang oleh Ayya.
“Mas waktu kemarin mama telepon, Mas inget enggak Arjun telepon aku?” kata Ayya.
“Iya lalu kenapa?” tanya Mukti. Dia yakin pasti yang barusan diucap Ayya adalah hanya prolog.
“Dia ngomel. Mas dengar waktu masuk ke kamar itu dia nelpon. Aku bilang aku sedang terima telepon. Dia enggak percaya karena nada yang dia dengar adalah nada sambung, bukan nada sibuk, aku bilang aku pakai telepon lain bukan teleponku sehingga nada di ponselku tetap nyambung. Tapi dia enggak mau terima. Terus dia marah.”
__ADS_1
“Ya sudah aku taruh aja ponsel di kamar sekalian di charge, dan kita kan juga salat Isya. Ketika aku masuk kamar maku tidur, aku lihat ada panggilan tak terjawab dan beberapa pesan. Tapi pesan terakhir dia kasih lihat tiket karena aku tidak bersedia bicara atau balas pesan dia. Dia langsung berangkat hari ini.”
“Berangkat ke mana?” tanya Mukti pura-pura bodoh.
“Ya ke Bali lah Mas,” balas Ayya sewot.
“Mau ngapain?”
“Mau meng-clearkan masalah kami,” jawab Ayya,
“Kenapa kamu lapor ke Mas? Hubungannya sama Mas apa?”
“Kalau dia minta ketemu, aku boleh izin keluar?”
“Enggak boleh. Kamu terima tamu di sini aja, mau seharian di sini pun Mas enggak peduli. Yang penting kamu tidak keluar karena nanti kalau ada telepon masuk atau pekerjaan lain Mas bingung cari kamu. Wong ke Solo aja yang jelas-jelas ke rumah keluarga enggak boleh. lebih-lebih keluar hanya untuk masalah pribadi.”
“Jadi kalau kamu mau terima tamu silakan, tapi di sini.”
“Sekarang Mas boleh minta sesuatu enggak?” tanya Mukti.
“Minta apa?” jawab Ayya.
“Mas kepengennya tiap sarapan kamu yang bikin,” jawab Mukti sambil menatap mata bening gadis yang duduk menemaninya sarapan.
“Aku sih enggak problem, tapi kan enggak enak sama Bu Pinem. Kecuali sarapannya jam segini aku masih bisa alasan. Nah kalau jam sarapannya bareng aku ya enggak mungkin lah.”
Mukti pun menyadari, memang benar kalau dia minta sarapannya beda pasti bu Pinem tersinggung.
“Atau dari malam Mas bilang sama Bu Pinem, besok sarapan yang buat Mas enggak usah dibuatkan dia, Mas minta Aku tapi ngomongya pas enggak ada aku. Mungkin itu enak,” kata Ayya.
“Ya nanti Mas yang ngatur.”
__ADS_1
“Oh ya Mas lupa mau bilang sesuatu sama kamu,” ujar Mukti sambil tersenyum.
“Apa Mas?” tanya Ayya.
“Kamu bilang kan kemarin Mas ini kompetitor makan kepala ikan?”
“Benar.”
“Kompetitormu bukan cuma Mas.”
“Memangnya siapa lagi?” tanya Ayya antusias.
“Semua.”
“Semua itu siapa aja?”
“Kak Adel, Aksa dan Mas Sonny.”
“Ya ampun, aku pikir kalian tuh semua pada jaim. Kalian kan anak orang kaya ngapain juga sih nyaingin aku?” protes Ayya.
“Eh urusan makan kepala ikan mah enggak ada kaitannya dengan anak orang kaya,” kata Mukti.
“Kalau kepala ayam?”
“Kepala ayam Aksa biangnya, aku suka tapi enggak terlalu. Maksudnya enggak kegilaan seperti Aksa dan kak Adel. Mas dan mas Sonny suka tapi enggak segila Aksa.”
“Aku benar-benar enggak percaya lho, kalian anak orang kaya suka makanan kayak gitu.”
“Kan sudah Mas bilang kayak gitu tuh enggak ada kaitannya dengan kekayaan orang tua.”
Mukti pun langsung minum vitamin yang sudah disiapkan oleh Ayya. Setelah istirahat sebentar dia langsung kembali ke bahan produksi.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK yok.
__ADS_1