
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Setelah Komang selesai belanja alat mandi dan make up dasar, Mukti membawa Komang ke toko khusus laptop. Mukti membelikan sebuah laptop terbaik dengan isi sesuai dengan kebutuhan yang Komang akan gunakan. Mukti melengkapi laptop dengan lampu juga mouse. Mukti juga membelikan HP baru buat Komang.
“Ponsel saya masih ada kok Pak,” tolak Komang Ayu.
“Pak lagi kan!” proses Mukti.
“Eh maaf Mas, aku terbiasa kalau Mas adalah bos aku, maaf,” Komang Ayu menyadari kesalahannya.
“Benar ponsel kamu masih ada, saya juga tidak menghina. Tapi kalau saya sedang bekerja, saya butuh kamu lakukan dokumentasi. Dengan HP yang sekarang kamu gunakan itu nanti hasil fotonya kurang baik sehingga saya yang rugi. Saya belikan HP ini buat menunjang pekerjaan saya juga,” jelas Mukti.
“Nanti kamu juga harus belajar menggunakan camera untuk mendokumentasikan kerja saya. Sebelum itu ya pakai ponsel dulu saja,” lanjut Mukti.
“Saya mengerti Pak eh Mas. Baik saya akan gunakan sebaik mungkin alat yang dibelikan untuk penunjang kerja,” Komang mengerti alasan yang Mukti katakan.
“Nanti kamu pindah semua data di ponsel lamamu dulu baru kamu bisa jual ponsel itu,” kata Mukti.
“Entahlah akan saya jual atau enggak. Yang penting nanti saya pindahkan dulu datanya sesuai dengan petunjuk dari Mas Mukti,” Komang Ayu tak mengerti di mana dia harus jual dan berapa harga ponsel jadul tanpa kotak dan pelengkap lainnya.
“Ini laptop yang akan kamu gunakan untuk bekerja, nanti kita bahas program apa yang perlu kamu buat di sini,” Mukti menyerahkan laptop yang sudah dia bayar juga ponselnya pada Komang Ayu.
“Baik Mas saya akan perhatikan. Ajari saya ya,” pinta Komang dengan jujur.
“Hhmm,” jawab Mukti.
“Kita makan malam di luar aja sebelum pulang ya,” Mukti menawarkan pilihan pada Komang Ayu.
__ADS_1
“Terserah aja mau makan di manapun. Tapi kalau saya kok lebih senang makan di warung pinggir jalan ya daripada makan di resto,” ujar Komang.
“Iya kita makan cari yang di pinggir jalan yuk,” ajak Mukti.
Mukti mengajak Komang ke deretan pedagang tenda makanan. Setelah meneliti deretan tenda yang ada Mukti memilih makan sate kambing.
Komang memesan nasi goreng kambing, sedang Mukti memesan nasi dan sate juga tongseng.
“Mas pantangannya apa?” tanya Komang.
“Saya harus tahu, kalau tidak nanti saya banyak salah.”
“Aku enggak punya pantangan. Kalau untuk makanan semua aku suka
“Pedas?” tanya Komang.
“Suka, malah kalau enggak pedas rasanya kurang sedap,” jawab Mukti.
“Baik,” jawab Komang lagi. Dia catat semua dalam memori otaknya.
“Yang paling aku enggak suka itu bohong dan tidak tepat waktu!” Mukti memberitahu apa yang dia tidak suka.
“Lho kita kan lagi bicara tentang makanan, kenapa jadi nyasar ke tempat lain?” tanya Komang.
“Ya enggak apa apa, yang penting jangan pernah bohong dan tidak tepat waktu. Kejujuran yang menyakitkan itu lebih baik daripada kebohongan manis karena nantinya kebohongan itu menyakitkan!” Mukti malah menegaskan sesuatu yang sangat dalam. Entah kesal pada siapa yang telah memberinya kebohongan manis yang akhirnya menyakitkan ketika fakta terkuak.
__ADS_1
“Baik Mas, akan saya ingat itu semua,” Komang Ayu hanya mengiyakan. Dia belum tahu karakter emosional Mukti jadi tak ingin salah ucap.
“Besok bantu kasih pendapat tentang desain undangannya Mas Sonny sama Adelia yang ada di laptop saya ya. Kita bahas di luar aja,” kata Mukti begitu mereka selasai makan malam.
“Besok kita ke mana kok bahas di luar?” Komang tak habis pikir Mukti tak mau bekerja di rumah bu Adelia saja padahal siang semua kerja kecuali bu Ambar dan pak Angga.
“Ke cafe yang ada wi-fi-nya sehingga bisa kerja dari pagi sampai malam tanpa diganggu,” jelas Mukti sambil berjalan menuju mobil.
“Kenapa enggak di rumah aja? Di rumah kan juga enggak diganggu Mas?”
“Enggak bisa kalau di rumah pasti aja ada yang ganggu konsentrasi saya. Kalau undangan sudah selesai draftnya kita langsung pulang ke Solo,” jelas Mukti. Masih banyak pekerjaan organisasi yang harus dia lakukan di Solo.
“Banyak pekerjaan yang harus saya buat di Solo, nanti saya akan bilang pada mama di mana kamu bisa tinggal, karena kami sedang bangun rumah. Sekarang kami sewa rumah kecil buat berteduh. Dulu rumah kami kan di Bali. Karena gonjang-ganjing kemarin mama sudah tak mau lagi tinggal di Bali. Hasil rapat keluarga, kami memutuskan pindah ke Solo.”
“Baik Mas, saya ikut saja buat ngejalanin tugas,” jawab Mukti sambil memasang seat belt.
“Nanti di Solo kamu bisa belanja pakaian lagi. Ada motor, kamu bisa pergi sendiri. Atau bisa pergi dengan bu Parman. Dia sudah hafal area Solo,” jelas Mukti.
“Ya Mas, saya akan ingat itu,” jawab Komang Ayu.
Malam itu mereka pulang sudah kenyang, jadi tak perlu makan lagi di rumah keluarga Ariel.
“Ingat besok sarapan dan itu kita jalan bekerja, sesudah sarapan,” Mukti mengingatkan Komang Ayu saat mereka turun dari mobil di rumah keluarga Sjahrir.
“Baik Mas, saya akan ingat itu,” jawab Ayu sambil membawa semua belanjaan yang dibeli tadi. Semua miliknya jadi semua dia yang harus bawa.
Malam itu Ayu masih tinggal di kamar belakang tapi sudah sendirian tidak ada teman satu kamarnya yang lain sudah pulang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok
__ADS_1