
Ayya menyibakkan selimut dan membiarkan Mukti masuk lebih dulu Mukti tidur di pinggir kasur sebelah kiri, sangat di pinggir.
“Ke tengah sini aja Mas. Nggak apa-apa kok. Jangan seperti itulah. Katanya pengin nyaman,” kata Ayya. Dia menarik tangan Mukti untuk agak ke tengah sedikit. Walau ragu Mukti melakukan perintah Ayya, dia menggeser tubuhnya agak ke tengah.
Ayya mengusap rambut di kening Mukti pelan agar Mukti cepat terlelap. Pria itu sudah sangat depresi, jadi tak baik dia berkeras dengan semua egonya. Dia usap alis Mukti seperti kebiasaannya menidurkan anak kecil. Mukti yang sudah sangat terbebani dengan banyak persoalan, sudah plong karena pameran yang dia pimpin akhirnya sukses dan sekarang pun dia plong karena bertemu dengan Ayya akhirnya tertidur lebih dulu. benar-benar dia bisa tidur tanpa bayang-bayang takut gagal lagi.
Ayya pun langsung berupaya untuk terpejam, dia memeluk tubuh Mukti. Bukan tanpa sadar! Dia sadar sepenuhnya melakukan itu. Dia sungguh iba terhadap lelaki yang terlihat di luarnya sangat keras dan kuat. Padahal jiwanya sangat rapuh. Mungkin faktor dari bawaan saat dia dikandung atau apalah. Yang pasti jiwa Mukti memang sangat rapuh beda dengan Sonny dan Aksa.
“Yank,” panggil Mukti. Dia sudah tidur tapi belum lelap. Jadi saat merasa ada pelukan dia sadar dan meresponnya.
“Ya? Sudah tidur aja ya. Nggak apa-apa kok. Aku memang sadar aku peluk Mas kok,” bisik Ayya.
“Aku melakukannya bukan tanpa sadar.” Ayya tambah mendekatkan dirinya pada Mukti. Dia cium pipi lelaki tersebut, lalu dia pun berupaya tidur. Mukti akhirnya menaruh lengannya di leher Ayya agar Ayya bisa berbantal lengannya. Dia peluk orang bahu Ayya sehingga akhirnya Ayya berbaring di d4da Mukti. Mukti menciumi kening dan puncak kepala Ayya sebelum kembali terlelap.
Sampai siang mereka benar-benar tertidur dalam pelukan hangat pasangannya.
__ADS_1
Ambar ingin memanggil Ayya untuk makan siang. sudah jam 11.00, tapi dia kaget melihat anak dan calon menantunya tidur bawa pelukan dan kamar Ayya tak dikunci.
Dia memang belum masuk kamarnya Mukti. Kalau Mukti boleh masuk kamar Ayya berarti itu memang bukan paksaan, pasti kalau tidak boleh Ayya sudah mengusir sejak Mukti masuk kamar. Ambar tak mau mengganggu keduanya, dia pun keluar kamar Ayya.
“Bu, nanti kalau Mas Mukti dan mbak Ayu bangun atau Wayan dan Made bangun biarkan mereka suruh makan sendiri aja. Nggak usah saling tunggu,” kata Ambar. Hari ini Angga pergi entah ke mana sejak tadi dengan pak Parman.
“Kalau papa datang untuk makan siang ya siapkan aja papa sendiri seperti biasa. Papa juga nggak perlu nunggu yang lain, karena anak-anak rasanya terlalu lelah untuk bangun cepat-cepat.”
“Saya mau ke kantor dan makan dengan pak Abu.” Ambar saat itu memang sudah siap akan berangkat ke kantor Abu. Banyak kerjaan yang harus dia handle di kantor, selain juga menangani masalah kantor Surabaya. Semua memang dilakukan Ambar di kantor Abu. Dia punya ruangan khusus di sana.
“Saya minta makan siang saya diantar ke ruangan saya aja ya. Menunya saya akan kirim melalui pesan,” kata Ambar di mobil saat dia menghubungi Sri untuk pesan menu makan kali ini.
Sri langsung minta dua chef-nya menyiapkan pesanan Bu Ambar.
“Pak Made, kalau mau makan langsung makan saja. Sudah saya siapkan di meja makan. Nggak usah nunggu yang lain. Kata Bu Ambar tadi nggak usah nunggu pak Wayan terlebih Mas Mukti,” bu Parman menyampaikan pesan Ambar pada Made yang telah keluar kamar.
__ADS_1
“Oh gitu,” kata Made. Dia lihat rumah besar ini sangat sepi.
“Baik saya salat dulu, nanti habis itu saya makan,” jawab Made. Saat dia salat Wayan bangun jadi akhirnya Wayan dan Made makan berdua tidak menunggu Mukti.
“Dari tadi ponsel kita bunyi loh,” kata Made.
“Nah itu. Kita bagaimana? Apa kita berangkat aja ke lapangan tanpa Mukti?” tanya Wayan.
“Kita salah nggak sama pak Abu? Masalahnya takutnya kalau kita nggak lapor pak Abu, nanti kita salah. Karena tidak dijaga oleh bodyguard-nya,” jawab Made.
“Iya juga ya,” kata Wayan.
“Nggak mungkin kan bangunkan Mukti?” lanjut Wayan.
“Memang kenapa nggak mungkin? Tinggal kita ketuk kamarnya aja,” balas Made.
__ADS_1
“Dia tidur di kamarnya Komang,” jawab Wayan.
“Oh, ya nggak enak kalau dia tidur dengan Komang. Kita mau bangunin gimana?” Mereka pun terus makan dan akhirnya memutuskan menunggu Mukti untuk berangkat ke lapangan. Karena takut kesalahan kemarin pesannya pak Abu mereka boleh berangkat kapan pun tapi dengan pengawalan.