CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
PANGGIL SAYA KAKEK


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



“Mukti jangan lupa besok jemput bapak Rustam,” kata Ambar malam ini pada putranya.



“Lho bukannya yang jemput anak-anak rental Ma?” tanya Mukti memperjelas perintah mamanya.



“Oh iya, maksud Mama bukan jemput di bandara karena Mama tahu kamu sibuk untuk pembukaan lusa kan? Maksud Mama besok kamu mulai perhatikan bahwa ada kakek Rustam begitu,” Ambar meralat ucapannya tadi.



“Iya Ma aku akan jadikan dia tamu istimewa. Dia juga sudah disiapkan kamar oleh pihak Villa kok,” jelas Mukti.



“Bagaimana persiapan pameran nya Mas?” tanya Aksa yang sudah masuk SMA.



“Sejauh ini lancar. Semoga saja lusa semuanya benar-benar tak ada halangan lagi,” kata Mukti.



“Doain ya Dek,” pinta Mukti.



“Insya Allah kami semuanya mendoakan kok,” kata Aksa lebih dewasa dari yang lain.



“Iya kami doakan. Sayang kami lagi enggak bisa meluncur,” kata Sonny.



“Aku benar-benar lagi deadline dengan proyek baruku. Jadi mohon maaf ya kita enggak bisa datang,” Sony meminta pengertian Mukti soal ketidak hadiran mereka. Buat Mukti dan Made dukungan orang tua tiap pameran sangat penting.



“Enggak apa apa yang penting doa kalian,” jawab Mukti. Biasanya memang setiap pameran keluarganya datang, setidaknya pasti ada Ambar dan Aksa. Kalau kebetulan Abu dan Sonny berhalangan.



“Doa Eyang juga buatmu Mukti,” kata Angga memberi support pada cucunya.



“Terima kasih ya Eyang. Semoga semua sehat dan berhasil dalam setiap urusannya,” kata Mukti.

__ADS_1



Esoknya orang rental datang menjemput Pak Rustam di bandara lalu mengantar ke villa yang di Ubud tempat Mukti dan rekan-rekannya menginap. Karena ada even pameran maka villa full booked.



“Nanti kalau ada Mister Rustam kabari saya ya, biar saya yang antar dia ke kamarnya,” pinta Mukti pada petugas vila.



“Baik Mas Mukti,” jawab petugas itu



“Mas Mukti, Pak Rustamnya sudah hadir,”  seorang pegawai Villa melapor pada Mukti melalui ponselnya.



“Oh ya sebentar, saya akan kembali ke villa. Suruh tunggu 10 menit ya. Kasih  Welcome Drink  dulu,” kata Mukti.



“Iya Mas akan kami lakukan sesuai dengan perintah perintah Mas Mukti,” pegawai villa cepat melayani pak Rustam karena tamu langsung pemilik villa.



“De, aku pamit sebentar ya,” pamit Mukti pada sahabat kentalnya.




“Aku balik ke Villa sebentar. Ada Pak Rustam yang aku bilang seorang pemahat senior itu. Dia dulu tinggal Surabaya, terus dia tinggal di Bali dan sekarang menetap di Cirebon. Putranya bekerja di Bandung,” kata Mukti.



“Sekarang dia sudah tiba di Villa jadi aku akan terima dia dulu. Papa sudah menyediakan kamar, tapi maksudnya biar aku yang antar dia ke kamar,” jelas Mukti pada Made.



“Owh begitu. Aku pikir kamu ada masalah apa. Baiklah,” kata Made setelah dijelaskan oleh Mukti.



“Kamu enggak mau titip apa-apa buat Pram?” Tanya Mukti.



“Enggak, nanti aji sama biyang ( ibu dan ayah ) mau ke sini mau lihat persiapan pameran ku. Jadi enggak usah lah. Paling Pram juga sedang dipersiapkan tidur agar saat ke sini dia enggak rewel,” kata Made.



“Selamat siang pak Rustam. Saya Mukti yang akan menggelar pameran yang akan Bapak hadiri. Saya putranya Pak Lukito Prabunegara pemilik villa ini,” Mukti memperkenalkan diri padahal tamu.


__ADS_1


“Wah saya mengganggu waktunya nak Mukti ya? Seharusnya sedang bersiap-siap malah jadi menghampiri saya di sini.” Rustam tak enak karena jadi tamu malah disamperin tuan rumah.



“Enggak apa-apa pak Rustam. Saya tidak sibuk kok semua sudah siap lama. Kami sedang menata layout saja dan hari ini kan sudah rampung. Tinggal kita aja sesama seniman. Pembukaan resminya kan besok jam 09.00,” kata Mukti.



“Kalau Bapak tidak lelah Bapak bisa ikut kumpul dengan para seniman hari ini mereka sudah siap di lokasi pameran,” tawar Mukti pada pak Rustam.



“Wah dengan senang hati saya bersedia bertemu dengan seniman muda,” pak Rustam langsung setuju.



“ Oke Bapak silakan taruh saja koper nya. Ayo kita ke kamar yang sudah saya siapkan Mukti membawa koper ke kamar Villa yang berisi satu kamar satu karena yang dua kamar sudah habis.



“Ini kunci kamar Villa Bapak. Kalau butuh apa-apa nanti saya berikan nomor pribadi saya agar kita bisa berkomunikasi,” kata Mukti.



“Silakan Pak,” setelah membukakan pintu Mukti lalu menunggu di luar kamar. Tak butuh waktu lama pak Rustam langsung keluar kamar.



“Ayo Nak,” ajak pak Rustam bersemangat.



“Bapak benaran enggak lelah habis perjalanan jauh?” tanya Mukti.



“Enggak Nak. Bapak semangat kok. Kalau sudah urusan pahat dan lukisan Bapak pasti enggak kenal rasa capek,” jawab Rustam dengan semangat.



‘Wah sama persis dengan aku. Mungkin karena memang aku keturunannya dia.  Sedang Om Ferry tidak menurun dari dia, mungkin dari istrinya.’ batin Mukti



“Silakan pak Rustam,” kata Mukti membuka pintu mobil nya.



“Usia kita terpaut jauh Nak. Bagaimana kalau kamu panggil saya kakek?” pinta pak Rustam. Mukti kaget mendengar permintaan itu.



“Oh iya, iya enggak apa apa kakek. Saya senang kok mempunyai kakek. Ayo kita masuk,” jawab Mukti dengan ter gagap.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok

__ADS_1



__ADS_2