
“Kamu di mana Yank? paling enggak kan kamu dengerin dulu penjelasan aku. Nggak begini saja” ucap Murti pelan, dia mulai menyuap bubur sumsum kegemaran Ayya dan Adelia. Dia lihat lintasan saat Ayya dan Adelia makan bubur pagi itu saat Adelia datang ke Solo. Secara perlahan dia coba habiskan bubur itu. Dia tak ingin kondisi tubuhnya semakin buruk walau kondisi batinnya sangat hancur. Mukti tak sadar Aksa melihat air matayang terjatuh saat dia memandang bubur di mangkuk.
Aksa makin sadar Mukti sangat mencintai Ayu. Tapi sekarang apayang dia bisa bantu? Kalau bertemu penyebab Mukti dan Ayu seperti ini, mau rasanya Aksa menukar kebebasannya asal oknum itu mati. Aksa tak peduli dia harus mendekam di penjara sekali pun asal bisa membalas dendam pada orang itu.
‘Aku harus datang saat penutupan. Walau mungkin bukan akuyang menutup. Setidaknya aku tak mau lepas tangan begitu saja. Tapi aku yakin, aku bisa nutup koq. Aku pasti kuat,’ tekad Mukti.
‘Lusa aku akan ke pameran. Aku tidak mau di rumah saja kayak begini. Aku harus bergerak agar tak mati di tempat,’ lanjut Mukti lagi.
Mukti sudah bertekad dia akan berupaya bangkit untuk kehidupan normal di luar Ayya. Dia tak mau menjadi beban keluarga Lukito apa pun yang terjadi.
“Lho Kamu mau ke mana?” tanya Ambar. Saat itu hanya tinggal Ambar dan Angga di rumah. Hari ini hari Senin, jadi Abu ke kantor dan Aksa tentu ke sekolah.
“Ke pameran Ma,” jawab Mukti. Saat itu dia memang ingin salim pada sang mama, makanya Ambar bertanya.
“Kamu sudah kuat?”
__ADS_1
“Sudahlah, aku nggak apa-apa kok. Tenang saja. Aku kuat kok Ma. Aku juga bisa bawa mobil. Nggak akan apa-apa,” kata Mukti sambil tersenyum berupaya meyakinkan Ambar kalau dia mampu.
“Kalau begitu nggak perlu bawa mobil lah. Kamu bisa pakai pak Parman atau diantar sopir mamamu,” timpal Angga. Dia masih khawatir Mukti melamun saat mengendarai mobil.
“Enggak Eyang. Aku bisa berangkat sendiri. Nanti kalau pergi-pergi ke mana-mana ada Wayan atau Made yang bawa mobil tenang saja. Aku bisa memperhitungkan semuanya. Kalau aku enggak sanggup, seperti saat akan berangkat ke kantor papa, ketika itu aku naik taksi online koq,” jelas Mukti. Dia menjelaskan pada Angga dia mampu.
Angga ingat, memang demikian yang terjadi. Karena saat itu dia dan Mukti pulang bersama menggunakan mobil Ambar. Sedang ambar masuk ke mobil Abu.
“Iya Tante. Aku akan jaga Mukti di pameran. Aku akan langsung bilang Wayan agar segera berangkay. Wayan lagi mandi,” Made kaget mendapat telepon dari Ambar kalau Mukti meluncur ke pameran mereka tak dapat kabar apa pun dari Mukti.
“Ya sudah tante titip dia ya. Jangan lupa ingetin makan. Semoga dia bawa obatnya. Ingetin minum obat,” kata Ambar. Buatnya semua anaknya adalah anak kecil.
Tapi setidaknya itu akan mengurangi kegalauan karena kalau bengong akan lebih banyak galaunya.
Made juga sudah tidak pernah bertemu dengan Karenina dan Andri lagi mereka sudah mulai menyelesaikan tugas lainnya. Jadi tak pernah bertemu Made.
__ADS_1
Setelah kejadian itu Made masih bertemu empat kali dengan para mahasiswa itu. Tapi dia tetap sesuai dengan jalur. Hanya memberi materi tanpa melibatkan perasaan apa pun. Lebih-lebih terhadap Karenina. Itu bukan tipenya sama sekali. Tapi kalau memang gadis itu jodohnya dia juga nggak nolak yang penting bisa klop dengan Pram anaknya. Hanya itu saja. Karena hidupnya hanya untuk Pram.
“Lho, pak Mukti sudah sehat?” tanya beberapa panitia saat melihat Mukti masuk arena pameran.
“Alhamdulillah sehat. Tenang saja. Nggak apa-apa kok,” balas Mukti dengan senyum.
“Saya minta evaluasi 1 minggu terakhir dong saat saya tidak bisa hadir.
Maka beberapa panitia langsung memberikan laporannya pada Mukti. Tetap Mukti tak mau melepaskan tugas dan nanti pun penutupan dia tetap akan pegang daripada dia terpuruk di rumah sendirian tanpa aktivitas apa pun.
‘Rupanya dia sudah keluar dari rumah sakit. Tapi kok kayak begitu ya? Tubuhnya lemah dan sorot matanya sayu tak ada sinar kehidupan lagi di matanya. Aku nggak bisa ngebayangin untuk selanjutnya dia hidup bagaimana,’ kata Ayya yang hari ini tumben ingin datang ke pameran setelah 10 hari tak datang. Terakhir dia datang hari Jumat pagi sebelum Mukti pingsan dan dia bahkan tak melihat Mukti saat itu.
“Dia akan jadi robot hidup hanya badannya saja yang bergerak tapi otaknya sudah beku. Aku yakin habis ini kalau pun dia masih beraktivitas untuk memahat pasti hasilnya adalah pahatan luka,” kata suara yang Ayya yakin dikeluarkan dari mulut Made.
“Yang penting kita dampingi dia selama kita masih di Solo. Nanti kalau sesudah pameran dia kembali ke Bali, kita dampingi dia di sana tapi kalau dia tetap di Solo biar orang tua saja yang mendampingi,” ucap lawan bicaranya. Ayya yakin itu suara Wayan.
__ADS_1
“Aku berharap dia tetap di sini. Didampingi oleh keluarganya agar selalu dalam lingkungan cinta. Kalau dia di sana sendirian, kita kan nggak bisa full jaga dia. Kita masing-masing punya keluarga sendiri. Kita punya kehidupan sendiri,” kata Made.
“Iya, sih. Di Bali kita nggak bisa temani dia sepanjang hari juga,” jawab Wayan.