CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TAMU TAK TERDUGA


__ADS_3

“Yank, papa minta kita ke kantornya,” kata Mukti saat bertemu di lobby rumah sakit.


“Kenapa?”


“Entah. Barusan papa telepon Mas. Kita ditunggu di sana segera,” ucap Mukti.


“Oke kalau gitu kita pakai mobil mama saja. Biar kak Made dan kak Wayan pakai mobil pak Parman. Kalau mereka mau pergi-pergi biarin saja pak Parman anter,” Ayya langsung memutuskan.


“Mereka mau ke ruang pamer untuk menyelesaikan administrasi,” jelas Mukti.


“Ya sudah, kita pakai mobil mama, mereka pakai mobil pak Parman,” sekali lagi Ayya menegaskan kendaraan yang akan mereka gunakan.


“Mereka bawa baju ganti kan?”


“Bawa kok. Bawa baju ganti,” jawab Mukti.


“Kalau gitu hapus riasannya di rumah sakit saja. Jadi nanti sampai ruang pameran sudah pakai identitas asli,” saran Ayya.


“Iya. Mas ganti dulu ya,” kata Mukti. Dia pun langsung mengambil pakaian ganti di mobil. Bersama Made dan Wayan mereka akan ganti dulu baru ke tujuan masing-masing.


Ayya dan Mukti memasuki kantor Abu. Banyak yang melirik pasangan tersebut. Mereka tahu siapa Mukti karena sudah beberapa kali melihat Mukti hadir dan lalu keluar bersama Ambar atau bersama Abu tetapi belum ada yang pernah melihat Ayya karena ini kantor baru.

__ADS_1


“Pantas ya pak Mukti itu nggak pernah mau nengok kita-kita. Ternyata istrinya cantik.” ucap seorang karyawati baru dari Solo. Kalau karyawan dari Jakarta tentu tahu Mukti sejak lama.


“Bukannya dia belum nikah ya?” kata karyawan lain.


“Paling tidak calon istrinya lah,” jawab karyawan pertama tadi.


“Aku bilang sih nggak cantik. Dia biasa saja. Sederhana malah. Cuma memang ada inner beauty yang nggak bisa kita tutup. Tapi biasa saja sih standar, nggak cantik,” ungkap karyawan yang lain.


“Ya pokoknya apa pun penilaian kita, tetap saja dia sudah punya calon sehingga kita mau manuver seperti apa dia nggak pernah peduliin kita,” ungkap karyawan pertama.


“Benar dan kata orang-orang dia beda sama pak Sonny.”


“Ya dia lebih ambil sektor itu. Padahal ayah dan ibunya sama-sama pebisnis handal,” ungkap karyawan lain. Mereka sibuk diskusi tentang Mukti.


“Seniman kok rapih dan ganteng kayak gitu ya? Kata orang-orang kalau seniman kan pakaiannya amburadul, semaunya dan biasanya nggak klimis seperti pak Mukti,” ungkap seorang karyawan yang baru ikut bersuara.


“Mungkin karena dia sudah ada yang merawat, sudah ada yang mengatur. Kalau belum ya mungkin berantakanlah,” kata orang yang lain lagi.


“Sudah kerja nanti kalau kedengeran bos malah kita dimarahin,” saran seorang pegawai yang cepat sadar mereka dalam posisi melingkar untuk ngerumpi.


“Bos mah emang suka marah-marah, beda sama big boss. Kalau big boss dia lebih lembut,” ungkap seorang karyawan.

__ADS_1


Bos yang dimaksud pegawai adalah kepala HRD, sedang big boss adalah Abu.


“Jangan salah. Kalau lihat apa-apa jangan dari kulit luarnya. Bos memang tukang marah-marah tapi dia lebih penuh pertimbangan. Dia marah karena itu tugas dia agar dia tak ditegur big boss. Kalau big boss dia lembut tapi sekali menikam tak ada ampun,” kata seorang yang baru lewat.


“Iya juga ya. Semua lawan bisnisnya juga bilang begitu.”


Ayya dan Mukti tiba di ruangannya Ambar karena tadi sebelum mereka tiba di kantor, Abu bilang mereka bertemu di ruangannya Ambar bukan di ruangan Abu.


“Masuk,” jawab Ambar ketika Ayya mengetuk pintu ruangan tersebut. Ayya membuka pintu dan ternyata di ruangan tersebut ada Abu, Angga, Ambar dan satu tamu istimewa : Sonny!


Tentu saja Mukti dan Ayya kaget ada Sonny di Jogja.


“Yah kamu sudah ganti kostum saja padahal Mas ingin lihat kamu secara langsung dengan kostummu tadi,” Sonny sedikit kecewa Mukti sudah kembali normal.


“Nanti orang akan curiga kalau aku jalan dengan kostum tadi bersama Ayya, sedangkan tadi kami pura-pura nggak kenal,” kata Mukti sambil memeluk kakaknya.


“Benar, Mas saja nggak ngenalin. Jujur nggak ngenalin kalau nggak lihat kalian tadi foto berempat.”


“Mas Mukti juga enggak kenalin aku padahal aku berdiri di belakangnya atau di sampingnya waktu aku nyamar dulu,” kata Ayya sambil tersenyum. Mukti langsung merengkuh bahu Ayya dan mencium kening ruangannya di depan semua keluarganya tanpa malu atau ragu. Ayya juga terbiasa dengan perlakuan Mukti seperti itu. Beda dengan Sonny yang kalau di depan orang malu bersikap mesra pada istrinya.


“Kamu memang the best honey,” kata Mukti. Dia malu kalau mengingat tak mengenali Ayya yang selalu ada di sekitarnya saat Ayya menghilang kemarin.

__ADS_1


__ADS_2