
“Nanti siang baru akan ada perkembangan lagi Ma, Pa. Jadi tunggu saja nanti siang. Tapi setidaknya itulah poin yang kita dapatkan pagi ini. Karena aku minta mereka segera mendalami tentang Silvana dan Saraswati. Ini kalau sudah dapat bukti fix, baru kita bergerak lagi. Karena belum tentu Silvana dan Saraswati yang berperan. Kemungkinan juga Carlo dan temannya,” kata Sonny sebelum mereka mengakhiri pembicaraan.
“Oke, kami tunggu info lanjutannya,” jawab Abu.
Ayya, penanggung jawab cafe dan dua koki sudah selesai melakukan pembicaraan untuk membuat daftar menu 2 minggu ke depan. Sekarang mereka bersiap makan siang lebih dulu sebelum pulang. Mereka langsung bergerak membuat masakan dadakan yaitu mie goreng dan juga pecel karena banyak sayuran yang mereka bisa pilih digunakan lebih dulu sebelum hari Senin, daripada nanti sayuran tersebut busuk. Bumbu pecel sudah dibuat minggu lalu dalam jumlah sangat banyak tinggal mencairkan sesuai kebutuhan saja.
Ayya bagian mencairkan bumbu pecel, bagian rebus-rebus sayuran adalah penanggung jawab rumah makan. Sedang yang bikin mie goreng adalah dua koki temannya Ayya.
“Yeaaay. Mari kita makan,” kata seorang koki.
“Benar. Ayo, kita makan dulu sebelum kita pulang,” kata penanggung jawab rumah makan itu.
Ayya kaget mendapat pesan dari Ambar atas permintaan Mukti. Ambar bilang, Mukti minta bertemu satu kali saja untuk pamit. Tentu itu sangat menakutkan buat dirinya. Pesan itu dikirim kemarin tak lama sehabis mereka bertemu. Mungkin Ambar langsung bicara dengan Mukti dan Mukti minta bertemu.
“Semoga mama nggak keceplosan kemeja itu dari aku,” kata Ayya sambil menyolok-kan HP-nya yang sudah lowbat. Dia baca lagi pesan berikut. Dia memang baru mengganti nomor.
Dan tumben hari ini ada pesan dari Sonny. Dua pesan yang sama berulang. Mungkin Sonny ragu bila pesan itu tak terkirim, maka dikirim ulang.
*‘Hubungi Mas segera. Mas punya sosok kemungkinan tersangka, siapa yang membuat video tersebut.’ *demikian pesan yang Sonny kirimkan.
Ayya ragu apakah dia akan menghubungi Sonny atau tidak. Niatnya membuka nomor ini adalah dia ingin mengetes sesuatu.
“Assalamualaikum Komang. Halo …, halo. Komang apa kabar?” kata suara di ujung sana.
__ADS_1
Ayya kaget bagaimana mungkin Lukas mengatakan assalamualaikum dan tadi bukan suara Lucas melainkan suara Carlo!
“Mengapa ponselnya Lukas, Carlo yang pegang dan Carlo yang angkat. Padahal setiap hari Carlo menghubungi aku?” Ayya jadi tambah bingung apa maksud semua ini.
Ayya segera memblokir Lukas. Dia tak ingin nomor itu menghubungi. Saat dia akan bicara dulu dengan Mas Sonny.
“Wa’alaykum salam Mas,” jawab Ayya, karena Sonny lebih dulu memberi salam padanya ketika panggilan terhubung.
“Kamu apa kabar Yu?” tanya Sonny lembut seperti biasa.
“Baik Mas. Sangat baik,” jawab Ayya.
“Maaf Mas. Bisa cepat? Aku tidak bisa terlalu lama menyalakan nomor ini. Tolong Mas bicara langsung saja ke poinnya,” pinta Ayya.
“Iya Ayu, tadi Mas juga sudah bicara dengan mama dan papa. Tentu tidak dengan Mukti. Mas takut mengganggu konsentrasi dia untuk penutupan acara pameran besok. Mas sudah dapat petunjuk kalau orang yang mengirim nomor ke kamu itu belum terlacak karena dia menggunakan KTP orang yang sudah meninggal dan kemudian data KTP tersebut diambil dari tempat sampah fotocopy di DUKCAPIL.”
“Lalu satu lagi yang Mas dapatkan info, ternyata Silvana dan Saras itu kakak adik kandung. Kamu ingat Silvana?” tanya Sonny.
“Aku nggak kenal dan nggak ingat Mas,” balas Ayya.
“Penari yang pernah akan menjebak Mukti, waktu kamu sedang rapat di Solo. Pertama kali kamu ikut Mukti meeting,” kata Sonny mengingatkan siapa sosok Silvana.
“Oh iya, aku ingat Mas. Aku lupa namanya tapi aku ingat sosoknya,” jawab Ayya.
__ADS_1
“Dia itu kakak kandungnya Saras,” jelas Sonny.
“Dia itu datang waktu pembukaan pameran Mas. Aku lihat dengan jelas Silvana datang saat pembukaan dan beberapa kali pameran di ada,” kata Ayya mengagetkan Sonny.
“Astagfirullah! Kamu kenapa nggak bilang?” kata Sonny. Tak sadar dia kalau Ayya tak tahu Silvana ada sangkut paut dengan tragedi cafe.
“Mana aku tahu Mas? Aku kan nggak tahu kalau dia terhubung dengan kasus ini.”
“Mas bisa minta waktu kamu sebentar?” tanya Sonny cepat mengetahui perkembangan baru ini.
“Kenapa Mas?” jawab Ayya gelisah. Dia memikirkan Mukti di pameran saat ini.
“Kita bikin pembicaraan ini tambah dengan papa juga mama serta Mukti boleh?” tanya Sonny.
“Bagaimana kalau nggak pakai Mas Mukti, Mas?” tawar Ayya.
“Yah nggak bisa. Kan dia tokoh utamanya,” jawab Sonny.
“Nggak bisa Mas. Kalau dengan Mas Mukti aku tidak mau. Kalau dengan mama papa atau eyang Angga aku akan bicara,” kata Ayya tegas.
Akhirnya dengan berat hati Sonny pun menyetujui permintaan Ayya dia mulai menghubungi Ambar, Abu, dan Angga agar masuk di pembicaraan mereka.
__ADS_1