
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Mukti bengong melihat Ayya langsung turun dengan kesal begitu tiba di rumah baru.
“Kok jadi dia yang marah?” Kata Mukti tak habis pikir.
“Ya sudahlah, aku balik ke rumah lama aja,” Mukti langsung melajukan mobilnya tanpa pamit pada Ayya.
“Aku kenapa ya kok rasanya keqi banget kalau Ayya punya pacar, padahal kan dia bukan apa-apanya aku,” kata Mukti sambil memikirkan reaksi dirinya pada Ayya.
Sesampai di rumah lama, Mukti lalu membereskan barang-barangnya. Setelah barangnya yang hanya sedikit beres, semua barang dia bereskan agar nanti kalau mau diangkut-angkut dia tidak repot. Tapi yang bisa diangkut dia angkat dan dimasukkan ke mobil agar bisa membantu meringankan orang tuanya. Mukti tahu dia tidak punya banyak waktu membantu mamanya. Maka sebisa mungkin tiap kesempatan walau hanya kecil tak ada artinya, dia tetap berupaya ada peran serta.
Mukti lalu mandi dan berbaring, dia terlalu lelah. Bukan hanya lelah fisik tapi juga lelah pikiran.
“Kenapa?” tanya Mukti begitu mengangkat telepon yang baru saja masuk saat dia hendak tidur.
“Ini, Wayan sakit vertigo sehingga tak bisa bangkit, kamu bisa datang enggak?” tanya Silvana.
“Kalian tinggal di mana?” tanya Mukti cepat.
__ADS_1
“Di mess asrama mahasiswa Bali,” kata Silvana sambil menyebutkan alamat asrama yang dia tempati.
“Baik tunggu aja di situ,” jawab Mukti lalu dia memutus sambungan telepon.
“Kamu kenapa menghubungi pengurus mess?” protes Silvana geram pada Mukti ketika panggilan teleponnya di angkat kembali oleh Mukti.
“Dia lebih cepat bertindak daripada saya yang harus datang dari sini kan? Dan kalau memang Wayan benar sakit dia lebih cepat dibawa ke rumah sakit. Tidak butuh saya untuk menanganinya, jadi anda tidak perlu menghubungi saya atau Trisno.”
“Lain kali kalau butuh pertolongan darurat itu hubungi orang sekitar yang ada, bukan orang dibelahan dunia lain. Trik seperti itu mungkin bisa anada terapkan pada banyak lelaki bodoh di luar sana. Tapi tidak buat saya!” kata Mukti ketus.
“Padahal aku hanya ingin menjebaknya!”
“Kenapa?” tanya Mukti begitu mendapat telepon dari Wayan.
“Kamu sakit?” tanya Mukti selanjutnya padahal pertanyaan pertama belum Wayan jawab.
“Aku enggak sakit. Justru aku bingung ada pengurus mess yang datang mencariku dan mau membawaku ke dokter. Katanya kamu lapor aku sakit. Kamu meninggalkan nomor ponselmu bila dia butuh dana buat rumah sakit,” jelas Wayan.
__ADS_1
“Rupanya ulat bulu itu ingin menjebakku. Dia memintaku datang dengan mengatakan kamu sakit dan butuh pertolongan, sehingga aku langsung menghubungi pengurus mess. Aku berpikir pengurus mess lebih cepat bertindak dari aku. Aku tak mau dijebak, aku sudah mikir pasti kamu akan menghubungiku bila butuh bantuan. Bukan lewat dia,” jelas Mukti mengapa dia minta bantuan pengurus mess.
“Kurang ajar, dia menjual namaku,” Wayan geram mengetahui Silvana menggunakan namanya untuk menjebak Mukti.
“Hati-hati, bisa aja kamu yang dijebak diberi minuman atau makanan lain lalu kamu dibikin video sedang berdua dengan dia. Nanti video dibikin untuk menjebakmu atau menekanmu. Hati-hati sudah jelaskan bahwa barusan dia ingin menjebakku dengan menjual namamu,” Mukti meminta Wayan berhati-hati karena dia yang lebih sering bersama dengan telur busuk itu.
“Selama ini aku masih baik padahal kamu dan Trisno sudah sangat benci dia. Sekarang orang-orang di provinsi harus tahu tentang hal ini. Mereka harus tahu Silvana ingin menjebakmu dengan menjual namaku,” kata Wayan berapi-api.
“Memang harus kamu yang lapor karena kamu yang jadi korban. Dan laporkan pasa banyak pengurus perempuan. Kalau pada pengurus laki-laki takiutnya mereka sudah kena jerat laba-labanya Silvana,” jawab Mukti.
“Aku juga akan laporkan pada teman-teman agar berhati-hati terhadap Silvana,” Mukti yang bukan sosok usil sekarang jadi ingin menyebarkan hal itu agar tak ada lagi korban dari Silvana.
Mukti tadi memang menghubungi pengurus mess asrama. Dia berpikir pengurus lebih dekat dengan posisi Wayan dan lebih cepat bergerak daripada dirinya yang jauh.
Sehabis menutup telepon Silvana, Mukti langsung mencari mess yang Silvana sebut berikut alamat lengkap di mbah gugel. Dari mbah gugel lah Mukti dapat nomor telepom pengurus mess asrama.
“Iya ada apa Pak?” tanya seorang di ujung sana.
“Saya dapat info katanya teman saya yang bernama Wayan Suwarta sedang sakit kepala. Tolong carikan dia obat dan kalau memang dia terlalu parah bawa saja ke dokter nanti semua uangnya saya yang tanggung. Hubungi nomor telepon saya ini bila butuh biaya,” itu yang Mukti katakan pada orang tersebut, lalu dia tutup telepon setelah orang tersebut menyanggupi akan mengurus Wayan.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1