
“Kita mampir dulu ke supermarket situ ya,” kata Mukti. Yang menjadi sopir mobil pagi ini Wayan.
“Ada perlu apa?” tanya Made. karena mereka memang bertiga dari rumah Mukti tadi. Sementara Wayan tak banyak komen, dia langsung mengarahkan mobilnya ke mini market yang Mukti tunjuk.
“Aku butuh roti isi daging atau isi bakso untuk ganjel sebelum waktu makan siang karena aku harus minum obat. Aku juga butuh minuman isotonik dan air mineral botol kecil-kecil yang bisa aku masukkan saku. Aku tidak berani minum sembarangan. Takut seperti air mineral di kamar waktu aku terjebak itu. Sepertinya air masih utuh, masih segelan ternyata begitu minum aku langsung tak sadar diri. Padahal aku berniat ke kamar mandi dan langsung keluar kamar mencari kalian dan pulang. Andai tak minum pasti aku bisa pulang siang itu. Tak ada kejadian menginap yang bikin aku berantakan seperti sekarang.”
“Iya aku juga seperti itu,” kata Made.
__ADS_1
“Aku mau ke kamar mandi, saat aku bangun aku sudah di tempat tidur lagi. Kan aneh. Padahal aku ingat, aku baru minum air yang terletak di meja dan masih segelan,” kata Made.
“Itu yang membuat aku tak berani minum air sembarangan di mana pun,” ucap Mukti.
‘Kok badannya mirip banget sama Ayya ya? Tapi hanya proporsi badannya saja. Wajah, rambut dan bagian lainnya tidak. Tapi semua geraknya mirip Ayya,’ batin Mukti melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari supermarket tersebut. Gadis dengan rambut pendek, wajah coklat tua, hidung super mancung, bibirnya tebal dengan gaya tomboy. Sesekali saat membalikkan badan atau menggoyangkan kepala sangat mirip dengan gerakan kebiasaan Ayya.
‘Tapi nggak mungkin kan rambut Ayya kan nggak pendek kayak begitu. Kalau orang rambut pendek lalu pakai wig panjang bisa. Kalau rambut panjang pakai wig pendek tentu repot. Lagi kulitnya eksotik banget seperti kulit istrinya Rudolf sahabat Wayan papa Ayya asli yang asli Belgia dan punya istri Cynthia asli Afrika. Yang pernah jadi langganan di galeriku. Ya gadis itu lebih Cynthia, berarti bukan Ayya,’ batin Mukti. Tapi dia melihat langkahnya memang sangat mirip dengan gaya langkah Ayya.
__ADS_1
Di lain pihak Ayya langsung berlari karena kaget melihat Mukti, Wayan dan Made ada di depannya padahal tanpa berlari pun tak ada yang mengenali dirinya. Tapi biar bagaimanapun tentu saja Ayya deg-degan karena Mukti sempat memperhatikan dirinya dengan saksama.
‘Waduh tadi aku kenapa harus mampir ke sini sih? Gara-gara aku butuh pembalut dan lupa beli di pasar, jadi aku mampir ke sini, sebelum aku ke rumah makan tempatku bekerja,' ucap Ayya.
Padahal hari ini hari libur cuma bos Ayya tadi bilang suruh datang karena ingin menyusun menu untuk seminggu ke depan.
Ayya segera naik angkot yang tujuan ke tempat kerjanya, beberapa kali dia menengok supermarket tersebut tapi ternyata tidak diikuti. Rupanya dia aman.
__ADS_1
Tempat kost Ayya itu terletak di belakang tempat kerjanya dia tadi pagi memang pergi ke pasar untuk belanja beberapa keperluan pribadinya. Saat sudah di tengah jalan baru dia ingat belum beli pembalut, sehingga dia berhenti di supermarket tersebut. Baru dia balik lagi naik angkot ke tempat kerjaan sekaligus dekat tempat kost nya.