
“Ya Mas?” Ayya langsung bertanya pada Mukti setelah dia kembali berada bersama Mukti dan Aksa.
“Kamu duduk sini aja perintah,” Mukti dengan tegas. Dia tak mau gadis manis itu duduk bersama orang lain.
“Iya,” jawab Ayya. Dia tak mau ribut saat acara ramah tamah ini kak Adelia dan mas Sonny.
“Kamu kenal sama artis tersebut?” tanya Aksa karena tadi dia lihat Ayu ngobrol bersama Carlo.
“Aku baru dua kali bertemu. Waktu makan malam dengan mas Mukti di Denpasar terus dia datang ke studio di Uluwatu,” jawab Ayu jujur.
“Dia datang khusus kr studio buat ketemu kamu?” tanya Aksa tak percaya.
“Iyalah, masa ketemu aku?” jawab Mukti ketus.
“Dia kenal pertama lalu sering telepon. Dua kali bertemu, tapi pertemuan kedua istimewa. Dia datang kedua langsung nyatakan cinta loh,” sindir Mukti.
“Wow hebat kamu Mbak, jadi dia sekarang pacarmu?” selidik Aksa.
“Enggaklah. Aku tolak dia koq,” jawab Ayu.
“Kenapa enggak terima dia?” tanya Aksa penasaran. Saat gadis lain tergila-gila pada artis, Ayu ditembak malah menolak.
__ADS_1
“Kan aku punya kamu,” goda Ayu santai.
Aksa tertawa terbahak-bahak agak keras sehingga membuat dia ditegur oleh Soetiono.
“Ade, kamu ketawanya kelewatan,” tegur Ayu.
“Aku enggak sadar Mbak,” jawab Aksa sambil menutup mulutnya.
“Kenal Komang di mana?” tanya Sri.
“Waktu di Bali. Dia rupanya kenal dengan manajemen artisku. Waktu di Solo katanya Komang itu sudah diminta jadi bintang film oleh sutradaraku tapi Komang menolak,” jelas Carlo.
“Ya ampun Komang Ayu, segitunya dia berani menolak kesempatan baik,” Sri tak percaya Komang yang pernah hidup sangat susah menolak kesempatan emas jadi artis.
“Kamu menyatakan cinta sama dia?” tanya Sri tak percaya.
“Iya,” jawab Cerlo tanpa malu mengatakan sudah ditolak Komang ayu.
“Enggak mungkin dia menolak,” Sri berkata sambil menggelengkan kepalanya.
“Kalau gadis lain mungkin kamu bisa bilang seperti. Kamu kayak tidak hafal dengan pola pikir sahabatmu saja. Dia tidak menginginkan nama tenar atau mengincar harta,” jawab Carlo.
__ADS_1
“Itu sebabnya aku makin terobsesi. Maaf bukan sombong, kamu pasti bisa membenarkan kalau yang aku katakan adalah benar. Banyak gadis yang ingin jadi pacar aku dan mengejar agar bisa pacaran denganku walau sebentar agar mereka bisa disorot kamera. Tapi Komang tidak bagaimana aku tidak tambah klepek-klepek pada sahabatmu itu?”
“Iya sih, Komang prinsip hidupnya sangat sederhana tidak mau yang neko-neko. Aku baru dengar kalau dia sudah menolak penawaran sutradara juga cintamu karena selama ini dia jarang cerita masalah pribadinya. Dia hanya cerita tentang pekerjaannya, lalu tentang papanya sudah buka toko dan seterusnya.”
“Kalau masalah yang pribadi dia sangat tertutup. Dulu di Jakarta pun dua tahun aku satu kamar dengan dia, Komang tidak mengungkapkan apa pun.”
“Aku juga baru tahu kemarin kalau dia menolak cinta chef kami, karena aku menyukai chef itu. Dia mungkin tak enak sama aku yang menyukai chef tersebut.”
“Mas aku boleh pamit ke Sri enggak?” rengek Ayya.
“Enggak enak kan aku duduk sini terus enggak menemani dia,” lanjut Ayya.
“Enggak usah, biar Sri makan sendiri atau ngapain sendiri kamu tetap sama aku,” balas Mukti.
“Ya sudah aku kirim pesan aja ke Sri ya Mas,” kata Ayu. Tentu tak sopan di pertemua malah sibuk dengan ponsel. Itu sebabnya dia minta izin lebih dulu. Ayya juga tak mau ribut di acara seperti ini.
‘Maaf ya Sri, aku enggak bisa nemani kamu. Kamu makan dan bersosialisasi aja sendiri, karena Mas Mukti melarang aku dekat dengan Carlo,’ Sri membaca pesan yang Komang kirimkan.
‘Mas Mukti tahu Carlo itu ngejar aku. Mungkin Carlo sudah bilang sama kamu.’
‘Kamu ngutang cerita ke aku,’ balas Sri.
__ADS_1
‘Iya nanti malam aku ceritain ke kamu. ‘Kan kamu harus menginap di sini. Sudah ya, aku enggak bisa tulis pesan kelamaan nanti dimarahin lagi.’