
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
‘Alhamdulillaaaaaah, pameran sukses. Terima kasih atas suppor kalian semua. Lope lope sekebon kalau kata anak alay sekarang seperti Aksa.’ tulis Mukti malam ini. Sudah sangat larut. Jam 02.12 dia kirim pesan itu ke chat keluarga. Tentu saja belum ada yang respons.
Mukti memang baru menutup pameran jam 08 malam WITA atau pukul 19.00 WIB. Tapi sehabis penutupan tentu Mukti makin sibuk melayani semua pembeli juga fans dan terakhir dia sibuk dengan semua crew yang terlibat.
Sampai 3 hari ke depan dia masih akan sibuk. Tapi tentu saja dia puas dengan hasil kerjanya.
__ADS_1
“Baru bangun?” tanya Sonny sehabis salat Subuh dia langsung menghubungi adiknya itu.
“Belum tidur Mas. Ini baru selesai sarapan di villa Ubud. Habis ini mau tidur karena nanti habis salat dzuhur mulai sibuk lagi dengan beres-beres barang pameran dan pembubaran panitia dua hari lagi,” jelas Mukti.
“Maaf kalau ganggu. Selamat ya atas suksesnya pameranmu yang sejak pembukaan mau pun penutupan dihadiri Gubernur dan penutupan malah menteri pariwisata berkenan hadir. I proud of you,” Sonny memberi pujian atas kesuksesan adiknya.
“Matur nuwun Mas. Langkah ku sampai di titik ini semua karena cinta keluarga Lukito terutama mama. Aku hanya ingin mama bangga punya nak aku. Aku tak ingin dia menyesal memelihara anak kucing tanpa prestasi,” jawab Mukti.
“Enggak usah insecure seperti itu. Kamua adalah bagian dari Lukito fams. Mas enggak akan ganggu waktu tidurmu. Mas hanya kasih tahu tante Laksmi akan ke Solo minggu depan karena adik-adik libur. Aku ingin kamu bisa gabung dengan keluarga besar Lukito,” Sonny mengingatkan Mukti.
Diantara ketiga anak Ambar, memang dia yang paling sering mengungkapkan secara langsung cintanya pada Ambar. Mungkin karena jiwa seninya, sehingga dia sangat manis bila merayu dan memuji Ambar. Sedang Sonny dan Aksa lebih memperlihatkan sayang dan cinta pada Ambar dengan perbuatan, bukan dengan kata-kata. Ha ha memang beda ya jiwa seniman dan jiwa pengusaha.
__ADS_1
“Ya sudah, selamat rehat,” Sonny menyudahi percakapan mereka. Dia tahu habis ini Mukti akan mematikan ponselnya dan memasang alarm untuk datang ke pertemuan. Tadi sebelum masuk kamar villa Mukti memang sudah berpesan pada karyawan villa untuk dibangunkan saat adzan dzuhur nanti.
‘Yang alay tu mas Mukti. Betewe congrats ya. Semoga aku dapat traktiran dari hasil pameran,’ itu jawaban Aksa di group chat keluarga sehabis salat subuh.
Angga, Ambar dan Abu juga tak ketinggalan memberikan selamat atas kesuksesan yang Mukti gapai lagi. Ini memang bukan pameran Mukti yang pertama. Mukti sering membuat pameran, baik pameran tunggal mau pun kolaborasi dengan rekan lainnya.
Banyak seniman lain yang sengaja meminta Mukti ikut andil dalam pameran yang dibuat agar nama besar Mukti bisa menjadi penarik konsumen dan peminat seni hadir. Dan selagi sempat, Mukti tak pernah menolak permintaan tolong rekan ju-niornya. Dia memang mengikuti sifat keluarga Lukito yang welas asih.
Tapi seperti biasa, semua chat itu belum Mukti baca karena dia sudah mematikan ponselnya. Dia langsung tidur hingga pintu villa diketuk berkali-kali oleh pegawai villa yang bertugas.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok