
“Saya rasa itu saja ya. Saya harus bersiap untuk salat Jumat,” kata Mukti meminta mengakhiri wawancara oleh sebuah stasiun televisi di acara pameran. Topik wawancara adalah tentang pencapaian target setelah pameran berjalan separuh waktu. Dia ditanya bagaimana tentang proses pameran yang sudah berlangsung 3 minggu. Mukti pun memberikan data-data sesuai dengan kondisi yang ada saat itu.
Mukti sangat tersiksa. Kalau tak ada janji dengan televisi ini sejak satu minggu lalu tentu dia tak akan berangkat karena tubuhnya sangat lemah.
“Terima kasih pak Mukti semoga acaranya sukses,” kata reporter tersebut.
“Iya sama-sama,” jawab Mukti. Lalu Mukti mendengar teriakan memanggil namanya.
“Pak Mukti!” Sehabis itu Mukti tak ingat apa-apa lagi.
“Bagaimana bisa terjadi?” tanya Ambar ketika Made menghubunginya.
“Dia sedang diwawancarai Bu. Baru wawancara selesai dia langsung pingsan dan sekarang kami bawa ke rumah sakit Harmoni dekat gedung pameran,” jawab Made memberitahu Ambar. Dia sedang dalam mobil milik Mukti dengan Wayan yang mengendarai sedang dia di belakang bersama Mukti. Mereka tak mau menunggu ambulans.
Ambar langsung memberitahu Abu juga Sonny tentang kondisi Mukti yang pingsan saat sehabis wawancara televisi
Tanpa menunda waktu Ambar langsung minta sopirnya mengantarkan ke rumah sakit Harmoni dia lupa memberitahu Angga. Dia juga lupa mengajak Angga.
__ADS_1
“Pa, maaf tadi aku lupa pas Papa pergi ke salat Jumat.” Ambar menelepon
“Kenapa Mbar?”tanya Angga.
“Aku ke rumah sakit Pa. Mukti pingsan di pameran sehabis wawancara. Ini sudah dekat ke rumah sakit. Dia panas tinggi sama seperti waktu aku ke Bali kemarin,” kata Ambar.
“Ya sudah nanti sehabis makan Papa ke sana. Ini Papa baru mau masuk ke rumah, belum sampai ke dalam,” kata Angga. Dia baru pulang dari masjid bersama Pak Parman.
Pak Parman adalah sopirnya Angga sekarang, selain teman ke mana pun. Tugasnya menemani Angga. Abu tak ingin papanya sendirian keluar rumah walau hanya ke masjid. Sopir Ambar lain lagi tapi Ambar lebih senang bawa mobil sendiri seperti kali ini. Dia ngebut sendiri ke rumah sakit. Kalau pakai sopir tentu belum sampai.
“Kami belum tahu apa diagnosanya Bu. Yang pasti ini suhunya tinggi sekali. Tekanan darahnya sangat rendah, denyut jantung juga sangat lemah,” kata dokter.
“Kami akan melakukan general check up, baik itu jantung mau pun segala macamnya.”
Berita tentang pingsannya Mukti di acara pameran menjadi deadline di beberapa surat kabar maupun berita online. Akhirnya semua orang tahu siapa Lukito Harjomukti atau Mukti yang ternyata adalah anak kedua dari Lukito Prabunagara atau Abu pemilik PT Waskita Prabunegara dan beberapa perusahaan lainnya. Media juga mengungkap siapa ibunya Lukito Harjomukti yaitu Ambarwati Soetiono pemilik banyak villa di Bali juga beberapa perusahaan di Surabaya.
Karenina dan Andri kaget mendengar siapa kedua orang tua pak Mukti.
__ADS_1
“Wah kalau kamu bisa dinikahi dia enak tuh, tinggal ongkang-ongkang saja. Papa dan mamanya super-super tajir. Rupanya dia anak sultan,” ucap Karenina.
“Kamu nggak ingat, begitu aku hubungi dia keluargaku akan hancur karena sultan pasti beda. Dia berani ngomong karena dia punya power. Aku nggak ingin keluargaku hancur cuma karena aku menghubungi ibunya atau bapaknya. Aku yakin ibu atau bapaknya sudah tahu masalah ini.”
“Dengan kejadian Bu Komang Ayu nggak bisa kita hubungi saja itu sudah bukti bahwa Bu Komang pasti marah pada pak Mukti dan sampai sekarang dia nggak pernah ada lagi di pameran. Artinya pasti orang tuanya sudah tahu hubungan mereka hancur. Kalau orang tuanya tahu lalu aku ikut masuk ke situ kamu nggak pikir bagaimana nanti adik-adik aku kalau orang tua kami dibikin hancur oleh keluarganya pak Prabunegara?”
“Iya, sih. Jangan main-main sama keluarga sultan. Bahaya! Yang penting kita sudah pencegahan,” kata Karenina sambil mengenang bagaimana mereka mendapat pil pencegah kehamilan.
“Mbak, bisa minta pil pencegahan kehamilan setelah berhubungan? Teman saya diperkosa dan sekarang terus menangis serta ingin bunuh diri,” ucap Karenina tenang di sebuah apotek saat hari Senin pagi.
“Kejadiannya kapan Mbak. Kalau lewat dari 72 jam harus ke ibu bidan atau dokter kandungan,” jawab penjaga apotek.
“Waduh, teman baru cerita kemarin malam. Dia bilang sing hari Sabtu siang,” jawab Karenina seakan obat itu bukan untuk dia.
Dari penjaga apotek, Karenina dapat pil yang dia cari. Dia beli dua paket. Lalu di apotek lain Andri beli dua paket. Itu langsung mereka minum agar tak hamil.
Mereka minum dua jadi nggak mungkin mereka hamil. Mereka juga tak mau hamil oleh orang yang tidak mau menikahi mereka. Biar bagaimana pun mereka sadar diri mereka bukan perempuan yang dikehendaki oleh pak Mukti maupun Pak Made sebagai istri.
__ADS_1