CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KEJUTAN SORE HARI


__ADS_3

Eyang Angga datang saat teh sudah siap. Ayya langsung membuat the madu untuknya, mereka berkumpul di teras belakang. Minum teh dengan snack lumpia semarang panas.


“Aku tadi nggak sengaja beli lumpia semarang dan mochi juga,” kata eyang Angga.


“Memang Eyang dari mana?” tanya Ayya.


“Eyang tadi ketemuan berapa rekan. Terus ada banyak yang bawa-bawa dagangan. Ada yang bawa lumpia juga mochi, tapi Eyang kehabisan bandeng prestonya, jadi Eyang beli yang ada saja,” balas eyang Angga sambil menyeruput teh madu buatan Ayya.


“Pantas Papa betah seharian, rupanya ketemu teman-teman lama,” ucap Abu mengomentari info dari Angga biasanya Angga malas kalau keluar rumah.


“Iya dan masing-masing ada yang bawa dagangan. Lumayanlah buat jajan-jajan mereka. Jadi kami juga beli. Kalau yang bawa pakaian atau barang lain sulit laku. Tapi yang bawa makanan semua habis,” ucap Angga.


Mereka duduk berlima santai bertukar cerita. Telepon Mukti yang dia letakkan di meja berbunyi, ada notifikasi pesan masuk panggilan masuk. Mukti mengambil karena takut pesan dari Made atau Wayang yang sedang ke mess kontingen Bali.


“Astagfirullah,” kata Mukti melihat pesan yang dia terima. Dia terbelalak tak percaya melihat pesan itu.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Angga.


“Aku nggak sanggup lihatnya Eyang. Tapi aku yakin ini bukan asli,” jawab Mukti sambil memberikan ponsel itu kepada Abu walau yang bertanya tadi Angga.


“Apa pun yang kamu lihat. Apa pun yang orang katakan, kamu diam dan tak perlu ribut. Mas percaya kamu,” Mukti langsung menghampiri Ayya, memegang tangannya lalu bicara lembut. Dia peluk Ayya dan dia kecup puncak kepala gadis itu.


“Ada apa?” tanya Ambar melihat Mukti memeluk Ayya sedemikian erat seperti takut Ayya terluka.


Abu menjerit melihat pesan yang masuk di ponsel Mukti membuat Angga dan Ambar tambah bingung. Abu langsung mem-forward ke Sonny.


Sesudah itu Abu memberikan ponsel Mukti pada Ambar dan Angga untuk mereka lihat. Dia terduduk lemas.


Ambar menjerit histeris. Dia tak percaya Ayya akan kembali tersakiti.


“Ada apa Mas. Ada apa? kenapa Mama seperti itu, apa kiriman video tentangmu lagi?” tanya Ayya pada Mukti. Dia tak ingin melihat video kotor lagi. Tentu akan menyakiti otaknya.

__ADS_1


“Ayu, Mama yakin itu bukan kamu. Mama yakin dan percaya kamu. Mama percaya kamu,” hanya itu yang diucapkan Ambar berkali-kali setelah dia dalam dekapan Abu.


Angga menutup wajah dengan kedua telapak tangannya dia tak percaya video aneh itu masuk ke nomor Mukti. Sekarang ponsel itu tergeletak di pangkuan Angga.


“Kenapa dengan aku?” tanya Ayya, dia bingung Ambar bilang percaya dengan dirinya dan itu bukan dirinya. Memang video apa yang sekarang masuk ke ponsel Mukti?


“Ayu, Papa boleh pinjam ponselmu? Apa ada pesan masuk juga?” pinta Abu.


“Nggak ada pesan masuk Pa. Ini ponsel aku,” Ayya mengeluarkan ponselnya dari saku. Ponsel itu sudah berisi kartu lamanya. Tak pernah pakai nomor baru lagi sejak dia bersama Mukti sehabis penutupam pameran kemarin.


“Jelas sekarang orang yang mengirim ini pasti sama. Walau nomornya berbeda,” Abu melihat pengirim video ke nomor Ayya beda dengan pengirim yang ada di ponsel Mukti.


“Lihat. Mereka mengadu domba kalian. Yang Mukti dia kirim ke Ayu dan  yang Ayu dia kirim ke Mukti.”


“Maksudnya apa dengan kalimat Papa : YANG AKU?” pekik Ayya bingung dan takut.

__ADS_1


__ADS_2