CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
SILVANA YANG MANA?


__ADS_3

“Kamu itu awalnya bagaimana, koq bisa pingsan?” tanya Abu.


“Saya nggak ngerti Om. Saya cuma minum kopi di cafe belakang pameran karena Made sedang sibuk melayani kontingen dari Jawa Timur yang bertanya tentang jadwal kepulangan sehabis penutupan pameran esok.” balas Wayan.


“Saya bangun sudah di sini. Saya nggak tahu kalau seperti yang Om bilang bahwa saya dibawa ke bagian kesehatan pameran. Saya juga nggak tahu dibawa ke mobil Om. Sadar ya sudah di sini barusan.”


“Jadi kamu ngopi sendirian?” tanya Abu.


“Ya Om. Sendirian saya ngopinya. Mukti sibuk dengan para tamu.”


“Oke nanti sebentar lagi Mukti dan Made pulang dulu. Mereka memutuskan stay di rumah saja.”


“Kita diskusi dulu karena barusan malah Mukti telepon memberitahu kamu dicari oleh Silvana. Entah untuk tujuan apa. Mungkin Silvana berpikir kamu ada di mess kontingen Bali sehingga dia mungkin menyusul ke sana.”


“Silvana? Silvana mana ya Om?” Wayan tak tahu ada hubungan apa Silvana dengan pingsannya barusan.


“Katanya dia dulu pernah ikut kontingen Bali waktu meeting di Solo. Dia dari cabang penari bukan dari pahat atau lukisan,” jelas Abu.

__ADS_1


“Wah saya malah lupa. Tapi karena Om bilang saya jadi ingat Silvana itu. Dia pernah bilang ke Mukti bahwa saya sakit, dan dia minta Mukti untuk datang ke tempat menginap saya di mess.”


“Ya dia mencari kamu kata suster yang lapor ke Made. Maka Made dan Mukti langsung memutuskan pulang saja.”


“Ada apa ya dengan Silvana dan kenapa saya bisa pingsan?” kata Wayan bingung. Dia sendiri tak tahu. Rasanya dia hanya minum kopi lalu langsung bangun sudah ada di rumahnya Abu.


Wayan diambil sampel darah dan urine nya untuk diperiksa di laboratorium.


“Sejauh ini tak ada kendala, mungkin hanya sedikit pusing karena efek obat tidur tadi dosisnya memang agak sedikit keras, begitu diminum langsung tak sadarkan diri,” kata si dokter.


“Saya rasa saya hanya beri obat hanya untuk sampai malam ini. Besok sudah tak perlu obat karena saya sudah suntik penawar tadi,” dokter langsung membereskan alat-alatnya.


Memang saat Abu menghubungi dokter dia memberi ancang-ancang pasien yang akan diperiksanya akibat apa, sehingga obat yang dibawa juga sudah diperkirakan.


“Baik Dokter. Terima kasih,” kata Abu.


“Saya tunggu hasil laboratoriumnya.”

__ADS_1


“Saya harap besok siang sudah selesai Pak. Semoga tak ada keterlambatan dari petugas laboratorium,” jawab dokter tersebut. Karena yang memeriksa tentu bukan dirinya melainkan petugas lab.


Buat Abu tentu dokter di sini adalah dokter baru. Tapi dokter yang Abu hubungi tentu saja sudah rekomendasi dari dokter yang biasa menangani dia di Bali maupun di Surabaya. Karena Abu memang meminta untuk diberi rekomendasi dokter yang bisa merawat dia dan keluarga di Solo ini. Terlebih eyang Angga butuh penanganan serius setiap saat sehingga memang harus punya dokter keluarga yang selalu stand by.


Pukul 17.00 Mukti dan Made sudah tiba di rumah Abu.


“Apa kerjaan nggak apa-apa kalau kalian tinggal?” tanya Ambar di teras menyambut putra tengahnya.


“Percuma juga kerjaan beres kalau kaminya yang hancur,” balas Mukti sambil memberi salim pada sang ibunda dan mencium pipinya.


“Kami juga nggak menyangka begini jadinya,” kata Made sambil memberi salim pada Ambar. Mereka masih di teras, belum sampai ke dalam rumah jadi belum bertemu dengan Wayan.


“Itu mobil siapa Ma?” tanya Mukti.


“Mobil dokter. Dia sedang memeriksa Wayan,” jawab Ambar.


__ADS_1


__ADS_2