
“Mas itu teman Mas kan kata Ayya sambil berbisik dari belakang bahu Mukti. Mukti sedang mendorong trolly belanjaan, Ayya berdiri di belakangnya karena itu bisa berbisik di bahunya.
“Mana toh?” tanya Mukti sambil menoleh ke arah Ayya, sehingga otomatis tanpa sengaja dia mencium pipi tunangannya.
Lingga sosok yang sedang jadi pembicaraan melihat bagaimana di tempat umum Mukti berani mencium Komang.
“Mas kebiasaan deh,” bisik Ayya tentu sambil mencubit.
“Itu loh ada perempuan yang naksir kamu. Awas ya jangan sampai nanti kembali aku yang jadi sasaran tembaknya.”
“Siapa Honey?” tanya Mukti
“Lingga,” bisik Ayya di telinga Mukti. Dari arah sudut pandang Lingga, Ayya sedang balas mencium Mukti.
“Dia mencintai hartaku, bukan diriku. Aku sudah diberi tahu Made dan Wayan. Indra dan Ketut yang berhasil ngorek dia saat dia mabuk,” jawab Mukti.
“Mabuk? What ever, sisi mana pun dari kamu yang dia cintai. Tetap saja kan fokusnya adalah dirimu?” kata Ayya.
__ADS_1
“Sudahlah Yank, enam minggu lagi kita menikah, semoga saja sebelum waktu itu kita nggak pernah kena badai lagi,” ucap Mukti penuh harap.
“Kalau tadi aku malas menemani pasti akan ada badai ya Mas. Dia akan berkesempatan mepet dirimu yang sendirian,” ucap Ayya.
Tadi memang Ayya sudah malas berangkat, tapi Mukti memaksa saja padahal Ayya bilang Mukti belikan saja makanan dan belanjaan yang dia catat tapi Mukti tidak mau. Seandainya tadi Mukti meloloskan permintaan Ayya tentu dia sedang belanja sendirian dan Lingga bisa mepet dia di malam ini.
“Kan kak Adel bilang kita nggak boleh pisah, karena kayak begini yang terjadi di lapangan kalau pisah,” ucap Mukti.
“Untung kamu bukan orang kantoran seperti Mas Sonny ya Mas. Kalau seperti Mas Sonny, aku nggak mengerti deh apa yang akan terjadi. Nggak mungkin kan aku ngikutin kamu di kantor?” jawab Ayya sambil menggeleng membayangkan bila dia jadi ekornya Mukti ke kantor setiap hari.
“Sepertinya ini sudah kutukan takdirku,” jawab Mukti ringan tanpa beban.
“Iya benar, kamu kutukanku. Kamu harus selalu ada di sebelahku,” jawab Mukti santai.
“Mas tu nggak pernah serius deh. Aku ngomong serius lho,” protes Ayya. Dia terkecoh dengan jawaban calon imamnya itu.
“Kalau serius kamu pasti marah. Ngapain dibikin serius?” jawab Mukti tanpa sadar kembali mengecup pipi Ayya. Mukti gemas pada Ayya, dimana pun dia ingin selalu mencium kekasihnya.
__ADS_1
“Tapi nggak mungkin kan Mas selalu sama aku? Mas pasti harus punya waktu buat pergi sama teman-teman atau sama siapa pun di luaran sana.”
“Iya benar. Nggak mungkin selalu sama kamu. Tapi Mas nggak akan mungkin sendirian. Nggak akan. Mas sudah janji kalau pergi ke mana pun harus ada teman atau anak buah yang bisa menjadi saksi atau menjadi bemper atau menjadi backing atau apa lah sebutannya agar Mas terhindar dari bahaya,” kata Mukti. Dia menyadari tak mungkin dia pergi bersama Ayya saat besok mencari mahar buat gadis tersebut. Nggak jadi kejutan kalau maharnya ketahuan sama Ayya. Dia sendiri masih bingung mahar apa yang hendak dia berikan pada pujaan hatinya itu. Rumah Ayya tidak mau. Mobil benda bergerak seperti itu sebentar saja turun nilainya. Tanah buat apa, begitu yanag Ayya bilang. Itu membuat Mukti bingung apa yang hendak dia buat sebagai mahar buat kekasihnya tersebut.
Cincin perak kemarin juga bukan termasuk mahar, karena itu cincin nikah dia tidak mau disebut itu sebagai mahar. Mukti benar-benar bingung hendak memberikan mahar apa.
“Mbak Lingga,” sapa Ayya terhadap temannya Mukti yang sedang belanja dengan seorang perempuan sebaya.
“Hai Komang, sudah pulang dari Solo?” jawab Lingga.
“Tadi pagi kami sampai Mbak,” kata Ayya.
“Kemarin aku bertemu Made saat dia baru turun pesawat di bandara. Aku menjemput tanteku ini. Dia baru datang dari Sydney. Made bilang kalian masih di Solo,” kata Lingga.
“Kenalkan ini tanteku,” ujar Lingga. Ayya mengulurkan tangan dan mengucapkan namanya.
“Sekar Ayu,” perempuan cantik yang sebaya dengan Lingga, walau disebut tante juga menyebut namanya.
__ADS_1
Mukti tak peduli dia tidak mau ikut ngobrol, dia malah buang muka sambil pura-pura melihat barang yang ada di belakang Ayya sehingga memunggungi ketiga gadis itu.
“Ayo Mbak kami lanjut. Masih banyak yang harus kami cari. Maklum kami baru datang dan isi kulkas kosong semua,” Ayya langsung memeluk pinggang Mukti dan membawa tunangannya berjalan ke arah los daging.