
Sesuai dengan dugaan Mukti, Ambar menelepon ketika mereka telah tiba di rumah. Tepatnya di studio milik Mukti.
Malam ini malam pertama sejak mereka tiba di studio. Memang mereka rencananya tidur di kamar belakang karena dua kamar Mukti dan Ayya besok akan dibongkar. Mukti sudah memanggil tukang tentunya.
“Iya Ma, kami sudah di rumah kok,” kata Ayya menjawab pertanyaan calon mama mertuanya.
“Benar?” tanya Ambar mencoba meyakinkan diri sendiri.
“Benar Ma, ini Mas Mukti lagi bakar jahe mau bikinkan aku wedang jahe panas,” jawab Ayya.
“Iya Ma. Aku lagi bakar jahe.” jawab Mukti.
“Coba diganti saja ke video call biar Mama lihat kita,” saran Mukti.
Ayya pun menukar panggilan telepon menjadi video call dia perlihatkan Mukti yang sedang membakar jahe dan mengiris gula merah agar Ayya minum air jahe panas. Ayya dan Mukti tak mau membangunkan Bu Pinem yang sudah istirahat.
“Kamu nggak apa-apa Yu?” tanya Ambar. Dia lihat putrinya sudah pakai kaos panjang dan celana panjang tebal.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kok Ma. Cuma kaget saja dan seluruh tubuh dingin kan Ma. Lalu aku harus mandi di cafe, kalau nggak mandi kan lengket banget, namanya es krim seluruh badan. Jadi mendadak aku mandi di cafe tersebut.”
“Terus bajunya bagaimana?” tanya Ambar.
“Mas Mukti menyuruh orang untuk beli baju Ma. Tapi orang itu lupa nggak belikan aku pakaian dalam. Jadi ya nggak pakai pakaian dalam lah,” kata Ayya jujur.
“Wah maaf, Yank aku nggak kepikiran nyuruh dan orang itu juga pasti nggak kepikiran bahwa pakaian dalammu juga basah,” kata Mukti yang tak tahu kalau sejak di cafe, Ayya tersiksa karena tak mengenakan pakaian dalam atas bawah.
“Iya Mas untungnya baju yang dia beli lumayan tebal dan dia juga belikan kain pantai, sehingga tidak terlihat jelas bahwa aku tidak menggunakan pakaian dalam,” jawab Ayya.
“Untunglah Mukti berpikir cepat untuk beli baju kalau nggak kamu tetap basah-basah,” jawab Ambar.
“Ya aku kepikiran lah Ma. Pasti aku belikan. Biasanya kan di mobil selalu ada ganti pakaianku. Tapi waktu aku mau berangkat ke Solo mobil aku taruh di tempat rental mobil Mas Sonny. Jadi semua barang aku angkat termasuk baju-baju cadanganku. Sehingga tadi belum ada baju di mobilku. Kalau sudah ada bajuku, aku tentu aku kasih itu buat ganti walau celana panjangnya kebesaran sekalipun. Lebih baik daripada dia kedinginan bahasa kuyup.” balas Mukti.
“Untungnya toko souvenir di Bali itu 24 jam. Jadi mudah cari baju kalau saat urgent seperti itu,” kata Ambar.
“Iya Ma. Untungnya kami tadi makan di tempat yang banyak toko souvenir. Jadi banyak kaos dan celana juga kain pantai.”
__ADS_1
“Ya sudah habis minum jahe kamu istirahat ya. Jangan sampai kamu sakit,” Ambar tenang anak-anaknya telah tiba di rumah.
“Habis ini kami tidur kok,” jawab Ayya.
Ambar melihat bagaimana Mukti telaten merawat Ayya sampai dia sendiri yang turun tangan bikin air jahe tak mau membangunkan pembantu. Tentu saja Ambar sangat senang bahwa didikannya berhasil. Didikan dengan penuh cinta kasih pada semuanya. Bahkan saat dia tahu Mukti itu bukan anak kandung Abu sekalipun. Dia tak pernah berubah cinta kasihnya terhadap Mukti. Karena Mukti itu bayi yang tak berdosa.
“Ini Yank, aku bikinin air mendidihnya tadi kurang dari 3/4 gelas, lalu aku tambahin air dingin jadi ini bisa langsung kamu minum biar kamu cepat istirahat,” Mukti menyodorkan cangir besar berisi air jahe gula merah yang dia buat.
Sehabis dibakar jahe tadi digeprek oleh Mukti, lalu direbus dengan air gula merah sehingga rasanya benar-benar enak. Manis gula merah ditambah panasnya jahe. Baru selesai minum air jahe Ayyamulai bersin.
“Aduh Yank jangan sakit,” bisik Mukti ketika mengetahui Ayya sudah bersin 2 kali.
“Aku juga nggak ingin sakit Mas. siapa yang ingin sakit? K ita mau ke rumah papa lusa,” jawab Ayya.
“Ya sudah kamu minum obat penurun panas dulu, biar tidak tambah parah,” kata Mukti sambil berjalan menuju tempat obat.
Tanpa membantah Ayya pun menurut. Dia tidak mau sampai sakit. Dia langsung minum obat penurun panas walau saat itu dirinya belum demam.
__ADS_1