
Ayya sengaja sembunyi dulu di belakang Carlo, dia tak ingin Lukas bangun dan kaget melihat dirinya.
“Ada apa dengan Komang?” kata Lukas saat dia sudah mulai bangun.
“Nggak apa-apa. Dia nggak marah kok sama kamu. Dia tahu bukan kamu pelakunya,” ucap Carlo.
“Komang, Komang, Komang,” kata Lukas berulang kali dengan alis mengernyit. Ayya pun akhirnya mendekat pada Lukas.
“Hallo,” kata Ayya lembut. Dia mengusap lengan Lukas lembut.
Lukas memandang Ayya tanpa berkedip dia tak percaya, kalau Ayya memang benar-benar ada di situ.
“Nggak Komang, nggak. Bukan aku. Bukan aku,” kata Lukas. Dia mulai menggelengkan kepala dan setengah badannya juga ikut tergoncang.
“Hei tenang. Tenang. Aku nggak marah sama kamu. Dan aku tahu itu bukan kamu. Karena itu juga bukan aku. Jadi kamu tenang,” kata Ayya.
“Itu bukan kamu. Kamu nggak ngapa-ngapain. Tenang ya, tenang,” kata Ayya.
Ayya minta segelas air putih pada Carlo, ternyata di sana tak ada air putih. Di meja ada air teh yang sudah mulai agak dingin Carlo memberikan itu pada Ayya.
“Ini kamu minum dulu, aku teman kamu kok. Aku nggak marah. Kita teman,” bujuk Ayya.
“Minum ya, minum sedikit biar kamu tenang,” kata Ayya lagi.
Lukas mau minum air teh yang Ayya berikan. Dia menarik napas panjang.
__ADS_1
“Sudah tenang ya. Kita bisa ngobrol?” tanya Ayya, Lukas hanya mengangguk.
“Dengerin aku ya. Dengerin aku,” ucap Ayya.
“Aku sahabat kamu. Aku tahu kamu nggak akan berbuat buruk sama aku. Kita sahabatan kan? Sama Carlo juga. Jadi kamu tenang ya,” kata Ayya berupaya memancing Lukas.
“Selain sama aku dan tim aku seperti pak Made. Waktu di Bali kamu kenalan sama siapa saja?” tanya Ayya. Ayya mengarah bila orang yang ada di Bali yang mengirim rekaman tersebut pada Lukas. Tak mungkin orang di Solo. Itu mengacu pelaku penyembunyi rekaman video CCTV yang hilang kabur ke Bali dari Solo. Makanya susah ditemukan. Ayya menduga tentu ada seseorang di Bali yang menyuruh orang tersebut langsung lari setelah kejadian di cafe.
“Waktu di Bali pertama kali aku ketemu pelukis Bali di pasar seni. Aku kenalan,” kata Lukas pelan. Bicaranya jadi sangat lambat bukan pelan dalam arti volumenya, tapi pelan dalam pengucapannya. Jadi sangat lambat seperti orang mengeja. Kalimat keluar dari mulutnya ada jeda di setiap katanya.
“Pelukis Bali? Masih muda atau sudah tua?” tanya Ayya. Dia nanti akan tanya Ketut atau teman Mukti yang berprofesi sebagai pelukis.
“Masih muda, dia cantik,” jawab Lukas.
“Kami ngobrol lama. Aku bilang aku nggak bisa nemenin dia karena sore kami ada acara ke galerinya pak Made. Aku kenalan sebelum aku dan Carlo makan malam di rumahmu bersama Mbak Hanum waktu itu. Dia kenal sama pak Made katanya.”
“Kamu waktu itu sendirian?” tanya Carlo.
“Iya aku ke pasar seni sendirian, mau beli oleh-oleh buat mamiku,” jelas Lukas.
“Apa kamu tukeran nomor telepon?” pancing Ayya.
“Awalnya dia nggak percaya aku kenal sama pak Made. Lalu aku kasih lihat bahwa kita pernah sama-sama di Jakarta. Aku kasih lihat foto waktu aku sama Carlo makan siang denganmu, pertama kita kenalan di Jakarta dulu. Baru dia percaya bahwa aku kenal pak Made. Karena kamu adalah sekretarisnya pak Made,” kata Lukas.
“Terima kasih infonya. Aku bisa menduga siapa yang kirim video itu ke kamu,” kata Ayya. Dia tak bisa meminta nama dan nomor orang itu karena ponsel Lukas di Carlo. Dia mau tanya siapa namanya takut Lukas terbawa emosi.
__ADS_1
“Yang penting sekarang aku mau pamit pulang ya. Aku bilang sama kamu, kamu nggak usah pikirin apa pun. Aku dan Carlo percaya itu bukan video kita. Jadi kamu tenang. Aku akan lapor polisi untuk masalah video ini.” “Nanti kalau suatu saat kamu jadi saksi, kamu tenang. Kita dukung kamu. Tapi aku yakin masalah ini mungkin tidak akan di sidangkan. Jadi kamu tenang saja. Aku nggak akan bikin kamu sulit. Aku minta kamu cepat sembuh,” ucap Ayya.
“Nggak! Aku nggak mau. Itu bukan aku. Itu bukan aku,” Lukas kembali panik. Dia sangat takut.
“Sudah tenang, tenang,” bujuk Carlo.
Carlo langsung memencet bel untuk memanggil perawat karena Lukas sudah kembali panik seperti biasa,
“Wah untung tadi aku masih sempat bicara saat dia normal,” kata Ayya.
“Kadang seperti itu, dia bisa diajak bicara. Tapi kadang dia nggak sempat. Dia dihantui oleh traumanya,” jelas Carlo.
“Kamu bilang saja sama dokter kejiwaannya, bahwa aku sudah datang dan aku tidak akan menuntut dia. Karena bukan dia pelakunya. Atau apa ya? Aku bingung. Pokoknya itu bukan foto atau video aku dan Lukas. Kasih tahu itu saja ke dokter jiwanya. Karena enggak mungkin lah satu kali diberitahu bahwa itu bukan aku dan dia, Lukas langsung bisa sembuh,” kata Ayya.
“Baik nanti aku akan beritahu sama dokter jiwanya bahwa kamu sudah memberi kepastian itu bukan kamu dan Lukas.”
“Ya aku rasa itu saja sih. Aku pamit ya,” ucap Ayya. Dia matikan panggilan ke group keluarga Lukito.
“Nggak perlu aku antar?”
“Nggak usah lah. Aku kan ada sopir dan mungkin nanti Mas Mukti jemput aku kalau aku pulang lama. Jadi sebelum mas Mukti jemput, lebih baik aku pulang sama sopir saja,” kata Ayya lagi.
“Oke, terima kasih ya. Salamku buat pak Mukti dan mohon maaf kalau selama ini aku ganggu dengan telepon. Karena saat itu aku benar-benar sangat ketakutan dengan kondisi Lukas.”
“Nggak apa-apa. Setelah pameran selesai aku pakai nomor lamaku kok. Jadi kapan saja kalian menghubungi aku, aku sudah stand by. Kan aku sudah tidak sibuk dengan pameran lagi,” jawab Ayya.
__ADS_1