
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Kenapa Yan?” tanya Mukti saaat menerima telepon masuk dari rekannya sesama seniman di Bali.
“Bisa ketemu enggak?” tanya Wayan, rekan Mukti
“Aku sedang di Solo. Ada urgent? Katakan saja garis besarnya lewat telepon,” pinta Mukti
”Ini ada edaran dari departemen, bilang ada penunjukan untuk kita berangkat ke Solo mengenai meeting reguler pameran seni di Solo. Nah kalau kamu sudah berada di Solo, jangan pulang dan kosongkan waktu 3 hari mulai lusa. Kamu yang mewakili pematung, Made sudah menunjuk kamu,” sebut Wayan.
“Surat penunjukannya gimana bahwa aku memang person yang ditunjuk oleh Departemen. Lalu kan juga ada SPJ, masa jalan dari Bali gratisan walau aku sudah lagi di Solo,” ucap Mukti. Bukan soal besar kecilnya uang. Tapi kalau tak diambil keenakan orang departemen yang pasti sudah menyunat dana perjalanan mereka dari jumlah yang seharusnya.
“Aaalaaah uang receh aja kamu pikirin. Denpasar Solo itu berapa sih? Enggak sebesar uang rokokmu satu hari.” kata Wayan.
“Iyalah enggak akan sebesar uang rokokku, wong aku enggak ngerokok,” jawab Mukti. Mereka lalu berdua tertawa terbahak-bahak karena memang Mukti itu aneh seniman tapi enggak ngerokok, hanya kopinya yang super kuat.
“Ya sudah bagaimana?”
__ADS_1
“Oke masukkan semua pendanaanku dari Bali, aku lebih rela uang itu aku berikan pada yang membutuhkan daripada buat tikus kantor berdasi di departemen.”
“Delegasi harusnya berapa orang?” tanya Mukti lagi.
“Pertemuannya lusa, aku dan Silvana yang berangkat dari Bali jadi kita bertiga,” jawab Wayan.
“Silvana itu anak mana?” tanya Mukti karena dia baru dengar nama itu di lingkup seniman. Biasanya lintas seni tetap saling kenal walau hanya sekedar nama saja.
“Dia anak baru dari tari,” kata Wayan enteng. Tak peduli dengan masalah orang lain.
“Kok bisa ditarik Departemen buat delegasi provinsi? Punya kekuatan apa dia?” tanya Mukti bingung.
“Kalau namanya aja baru aku dengar, kayaknya enggak valid deh itu anak. Tapi ya silakan aja sih. Yang penting bukan dari dunia kita. Kan dia anak tari,” ucap Mukti lagi. Mukti paling tak suka asal tunjuk seperti ini. Karena akan berakibat buruk buat penggiat ditingkat bawah.
“Aku juga baru tahu, memang kayaknya teman-teman kita anak-anak tari yang lain juga enggak peduli sih dia yang dikirim. Tapi tetap ada kasak kusuk juga.”
“Aneh aja tiba-tiba nongol sosok baru yang jadi delegasi buat provinsi.” Mukti juga tak habis pikir, terlebih yang langsung ada didalam lingkup tari.
“Di tari juga pada ribut, tapi ya aku mana peduli. Yang penting kan dari lukis aku yang ambil, lalu dari pemahat Made bilang kamu aja karena dia lagi sibuk,” jawab Wayan.
__ADS_1
“Kenapa enggak nama lain sih? kayaknya Ni luh Sukma itu lebih bagus dari tari. Dia lebih punya nama. Atau Ni Ketut Suarni juga lebih bagus,” ujar Mukti masih geregetan mendengar nama baru yang tiba-tiba diutus buat mewakili propinsi.
“Entahlah aku enggak masalah tari. Pokoknya kita ketemu lusa ya,” jawab Wayan.
“Ya siapkan juga hotel karena aku enggak mau tinggal di rumah orang tuaku kalau untuk urusan delegasi.” jawab Mukti, akhirnya Mukti tidak jadi kembali ke Bali.
“Kenapa enggak jadi pulang?” tanya Sonny. Dia sudah akan kembali ke Solo.
“Aku malah harus pindah ke hotel karena lusa aku ada meeting urusan delegasi dari provinsi,” kata Mukti
”Oh gitu,” kata Sonny sambil beres-beres ransum yang disiapkan Ambar buat dia bawa ke Jogja. Laksmi dan keluarga Sjahrir sudah pulang ke kota masing-masing.
“Ya aku akan berurusan dengan birokrasi departemen di sini,” jawab Mukti bersiap untuk menyiapkan baju bersih. Karena dia tak bawa banyak baju buat liburan ini. Sekarang dia baru menyesal mengapa kemarin saat Adelia bilang dia mau nitip apa dia enggak titip kemeja batik buat kegiatan ini. Mukti akan minta Aksa menemani dia hunting baju dan celana untuk kegiatan lusa.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok
__ADS_1