
Makan siang telah usai tentu saja eyang Angga senang dia berhasil ketemu dengan makanan khas Jawa Timur, daerah tempat asalnya yaitu rujak cingur sebagai menu utama siang ini.
Sekarang mereka sekarang sedang menunggu kedatangan Adelia dan Sonny yang katanya akan datang sebentar lagi karena mereka berangkat sehabis salat Jumat dan hanya mampir ke pabrik coklat Monggo saja memenuhi pesanan Aksa. Kali ini Sonny sengaja naik mobil saja.
Agar tak membuat pasangan itu iri, Ayya sudah meminta Bu Parman membuat mata roda lagi untuk teman kopi atau teh sore hari.
“Assalamu’alaykum,” sapa Adelia begitu dia membuka pintu mobil. Belum turun sudah berteriak, itulah ciri khas Nona Ambon yang satu tersebut. Tentu saja mertuanya sudah tak aneh terlebih untuk Abu yang memang pernah tinggal di Ambon. Mertuanya tak bisa menuntut menantu yang lemah lembut seperti gadis Solo. Gadis Jawa Timur saja beda karakter dengan gadis Solo. Apalagi gadis Ambon.
“Sayank, turunnya pelan-pelan.” Sonny mengingatkan Adelia.
“Iya Mas, aku juga tahu,” jawab Adelia. Dia turun dari mobil pelan-pelan, sesudah itu dia berlari ke pelukan Ambar.
“Aduh percuma kan kamu turun pelan-pelan, tapi habis itu lari,” kata Sonny menggerutu. Dia membawa turun barang yang mereka bawa termasuk oleh-oleh yaitu coklat Monggo dan gudeg Jogja.
“Apa kabar Sayang?” tanya Ambar kepada menantunya itu.
“Baik Ma. Kangen banget sama Mama deh,” kata Adelia menciumi kedua pipi Ambar.
“Eyang apa kabar?” tanya Adelia. Dia pun mencium tangan Angga dan mencium pipi eyangnya tersebut.
__ADS_1
“Adik aku yang cantik,” teriak Adelia dia membentangkan tangannya, Ayya pun langsung memeluk calon kakak iparnya tersebut. Mereka berpelukan erat seakan tak mau pisah.
“Woi gantian sama aku woi!” kata Mukti melihat kedua perempuan muda itu tak juga melepas pelukan.
“Ha ha ha adek aku yang ganteng. Lupa aku,” tanpa sungkan Adelia langsung memeluk Mukti dan mencium pipinya. Itu sudah biasa buat adat Ambon. Jadi memang tak perlu dipermasalahkan kebiasaan adat.
“Papa belum pulang?” tanya Adelia.
“Mungkin sebentar lagi papa pulang. Aksa juga tadi sudah bilang dia akan pulang cepat khusus buat kalian.”
“Lihatkan, dulu jadi calon suami disayang-sayang. Sekarang setelah nikah jadi sopir!” kata Sonny menggoda istrinya karena bawa barang bawaannya banyak banget.
Sonny tersenyum saja.
“Aku sudah bikinkan kue mata roda loh Kak,” ucap Ayya.
“Wah kamu emang the best. Tahu aja aku besok mau minta bikinin kamu, tapi sudah dibikinkan ya sudah,” jawab Adelia. Dia langsung masuk ke ruang tamu tak lupa cuci tangan dulu di wastafel teras. Memang di rumah Abu disediakan wastafel di depan jadi tamu siapa pun memang cuci tangan dulu.
Adelia tanpa sungkan langsung mengambil mata roda dia memakannya satu potong, begitu habis satu potong diambil lagi baru dia mendatangi suaminya dan menyuapi.
__ADS_1
“Gigit aja sedikit nanti sisanya buat aku,” kata Adelia saat Sonny ingin mengambil semua kue yang di tangan istrinya.
“Ya Allah istri aku rakus banget. Kan aku bisa diambilkan satu lepek. Bisa 5 potong loh kalau kamu taruh di lepek.”
“Sudah gigit aja sepotong. Nanti aku ambilin lagi,” kata Adelia. Dia tak mau mengambilkan Sonny mata roda pakai lepek.
Angga hanya tersenyum memandang pasangan suami istri resmi itu, karena pasangan satunya juga sama bucinnya seperti itu. Tapi Mukti yang lebih terlihat memanjakan Ayya. Ayya-nya nggak malu tapi memang seperti itu.
“Pesananku ada kan?” Sonny bertanya pada Ayya.
“Pesanan apa Mas?” tanya Mukti.
“Aku kan kemarin sudah pesan sama Ayya minta dibuatkan gule kambing.”
“Oh gulai kambing mah sudah. Tenang aja. Mau makan sekarang?” tanya Ayya.
“Enggak sih, makannya nanti. Cuma aku takut aja nggak ada. Kalau nggak ada kan sekarang juga aku belikan daging kambingnya buat dimasak.”
“Ada kok. Aku tadi bikin banyak banget. Takutnya mau bawa pulang atau mau nambah. Aku bikin bisa untuk 2 kali makan dua keluarga kok,” jawab Ayya. Memang dia beli daging dan tulangan kambingnya tadi sangat banyak.
__ADS_1