CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
GARA-GARA KATA HAVE FUN


__ADS_3

Ayya langsung tidur begitu selesai membuat isian burger dia tak tahu ketika Ambar telah kembali ke rumah. Semalam Ayya tak bisa tidur dan lanjut sharing dengan Ambar. Itu membuat Ayya sangat mengantuk siang ini.


“Ayu-nya ke mana Eyang?” tanya Ambar pada Angga begitu tiba di rumah sore ini.


“Pulang belanja dia langsung bikin isian burger lalu sudah itu dia masuk kamar. Mungkin tidur,” kata Angga yang juga baru bangun.


“Baguslah kalau dia tidur. Aku yakin dia marah,” ucap Ambar.


“Marah kenapa?” tanya Angga.


“Aku baru tahu kalau Ayya itu paling benci jalan keliling ke mall tanpa tujuan seperti yang aku dan Vonny lakukan. Dia mau ke mall kalau tahu tujuannya mau beli apa. Habis itu sudah, tidak mau muter lagi. Jadi hanya cari yang dibutuhkan saja. Dia tak suka membuang waktu keliling-keliling.”


“Tadinya Ayu cuma mau keluar sendirian beli daging dan roti burger saja. Tapi aku bilang aku juga mau ke supermarket. Melihat aku mau pergi sama Ayu,  Vonny minta ikut, lalu ikutlah 4 orang keluarganya Vonny juga. Ternyata enggak jadi ke supermarket depan tapi ke mall Pa.”


“Di situlah Ayu tambah marah karena Vonny bilang belanja ke super marketnya belakangan setelah mereka selesai belanja baju tas dan sepatu. Vonny bilang kalau sudah bawa daging nanti dagingnya busuk kalau kelamaan.”


“Lalu Ayu ketemu sama Carlo dia memisahkan diri. Bilangnya mau ngobrol aja ternyata sama Carlo dia enggak ngobrol tapi belanja lalu pulang. Aku baru tahu saat Mukti menelpon aku karena Ayya langsung marah ke Mukti. Sebabnya Mukti bilang Have fun jalan-jalan di mall itu bikin Ayu langsung matikan teleponnya.”


“Ya ampun anak itu memang beda dengan perempuan lainnya. Aku yakin kalau cuma buat jajan duitnya cukup kok. Bukan tak mampu.” kata Angga.


“Bahkan kemarin dia dibelikan sepatu aja enggak mau Pa. Bukan karena dia enggak ada uang, di belanjain Mukti pun dia tetap enggak mau. Karena memang dia enggak suka. Dia bukan aji mumpung. Mumpung dibeliin sama laki-laki lalu dia ngambil semaunya tuh enggak. Bener-bener enggak,” kata Ambar.


“Mukti mengajak ke mall bilang mau beli sepatunya Farhan dan Fahri padahal Muktinya memang sengaja mau beli sepatu mereka berdua.”


Ambar dan Angga tambah suka dengan karakter Ayya calon cucu menantu atau menantu mereka.

__ADS_1


“Seharian aku di teror Mukti karena Ayu marah. Aku juga enggak tahu kejadiannya bakal seperti ini dan aku juga enggak tahu kalau Ayu enggak suka mall.”


“Ya sudah kamu jangan merasa bersalah, karena kan itu di luar ekspektasi kamu.”


“Iya Pa. Aku juga enggak tahu sih bahwa dia enggak suka ke mall.”


“Mukti juga telepon Papa terus-terusan, nanya Ayya sudah sampai di rumah atau belum,” jelas Angga.


“Iya Pa, Mukti jadi enggak konsen ngajakin adik-adiknya jalan.”


Mukti tiba di rumah sesaat sesudah Ambar,  Ayya sudah keluar kamarnya. Sudah rapi dengan baju bersih, maksudnya dia sudah mandi dan berganti pakaian bukan pakaian tadi saat dia pergi.


Sampai saat ini ponsel Ayya memang belum dinyalakan sudah dicas tapi dia malas menyalakannya.


“Kok ponselnya tetap enggak nyala?” tanya Mukti lembut.


“Kalau ngambeg makin cantik lho,” goda Mukti tetap sambil berbisik.


“Kalau begitu aku akan ngambeg terus aja,” balas Ayya.


Lalu Ayya pun segera beralih ke Farhan dan Fahri. “Halo jagoan gimana jalan-jalannya?”


“Seru tahu Mbak. Bagus bagus banget rumah adatnya,” jawab Fahri.


“Wah asyiiik dong. Pasti capek,” balas Ayya.

__ADS_1


“Capek banget sih,” kata Fahri.


“Mbak sudah bikinkan kalian puding busa. Kalian mau? Atau kalian mau puding lumut aja, karena Mbak juga bikin puding lumut,” ucap Ayya.


“Aku suka keduanya,” Kata Fahri antusias.


“Kalau puding busa, aku maunya yang banyak fla-nya,” kata Farhan.


“Kamu kayak Mas Mukti aja. Sukanya banyak fla-nya.  Ya sudah Mbak ambilkan ya,” kata Ayya. Ayya pun meracik puding. Dia taruh di nampan.


“Kalian mau yang mana. Silakan ambil ya,” Ayya meletakkan banyak puding di meja teras belakang.


“Eyang Angga dan Eyang Ono mau yang mana?” tanya Ayyu.


“Eyang  pastinya mau keduanya tapi banyakin puding lumutnya,” kata Angga.


“Eyang apa aja,” jawab Soetiono.


“Pakde mau yang mana?” tanya Ayya.


“Sudah kamu enggak usah siapin Pakde. Pakde akan ambil yang ada di meja aja,” kata Pram.


“Iya, Pakde Pras juga makan yang di meja aja. Enggak perlu kamu siapin karena semua Pakde suka,” jawab Pras.


“Wah ini apa lagi?” tanya Vonny yang baru selesai mandi.

__ADS_1


“Pokoknya selama ada Ayu, kita akan jadi gendut karena makan enak terus,” kata Pras, semua pun tertawa.


__ADS_2