CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
KOK KITA TIDUR BARENG?


__ADS_3

Mukti tersenyum bahagia melihat Ayya tetap ada dalam dekapannya.


‘Kapan kekasihku pakai baju ya?’ tatap Mukti bingung, karena gadis kecil yang ada dalam dekapannya sudah tak bertelan-jang dad4 seperti dirinya.


Mukti mengecup kening wanita pujaannya itu.


“Selamat pagi calon istri,” sapa Mkti lembut penuh cinta. Ayya merasakan sesuatu yang aneh. Dia membuka matanya pelan. Ternyata ada wajah Mukti yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


“Loh Mas, kok kita tidur bareng?” tanya Ayya bingung. Dia lupa kalau mereka memang sejak di Solo sudah janjian akan tidur bareng untuk menghilangkan trauma yang Ayya alami mengingat video Mukti sedang bergelut dengan Ellyandri.


“Kan kita memang sudah janjian mau tidur bareng. Lupa?” tanya Mukti lembut. Ayya menyurukkan kepalanya ke dad4 Mukti. Dia kecup tubuh bidang yang degupnya makin keras.


“Jangan pancing senapanku Yank, tanpa kamu kecup seperti itu saja senapan pasti bangun kalau pagi-pagi. Terlebih kamu kasih stimulus seperti itu,” keluh Mukti. Dia sangat tersiksa.


“Apa aku salah kalau aku bahagia bisa tidur sepanjang malam dalam dekapanmu?” ucap Ayya jujur.

__ADS_1


“Ya nggak salah lah. Memang kita seharusnya seperti itu,” jawab Mukti.


“Ayo bangun. Kita sudah terlalu terlambat untuk salat subuh,” kata Ayya. Mereka bangun tidak tanggung-tanggung jam 08.00 pagi!


Jam di dinding kamar itu menunjukkan angka seperti itu. Ayya pun mengambil ponselnya. Dilihatnya ada panggilan dari Adelia dan Ambar tadi pagi jam 06.00.


“Ya ampun Mas, mama dan kak Adel telepon lho tadi pagi. Coba lihat ponselmu,” Ayya memberitahu Mukti kalau mereka dicari Ambar.


Mukti pun bangkit mengambil ponselnya dan benar ada tiga panggilan dari Ambar dan dua dari panggilan dari Sonny.


“Mas saja yang lapor. Mas yang salah kok,” tolak Ayya.


“Kok Mas sih yang salah?” tanya Mukti.


“Waktu Mas tidur, aku keluar minum jahe lagi. Dan aku sekalian minum obat lagi. Jadi aku tidur lelap itu karena tambah obat lagi. Mas kenapa hayo?” tanya Ayya.

__ADS_1


“Mas tidur karena obat tidurnya ada dalam pelukan Mas,” jawab Mukti sambil tersenyum. Tentu saja Ayya tahu yang dimaksud obat tidur.


“Serius ya aku itu obat tidurmu. Jadi nanti kalau sudah nikah jangan sampai kamu melek. Tidur saja nggak boleh gangguin aku,” ancam Ayya.


“Ih itu beda Yank. Itu beda.” ralat Mukti. Tentu saja dia tidak mau kalau disuruh tidur ketika mereka sudah resmi akad nikah.


“Plin-plan kan? Ambigu kan?” ejek Ayya.


“Ya kan kita lagi bicara yang malam ini Yank. Apa kamu nggak bisa ngertiin,  bagaimana aku bisa merasa sangat bahagia bisa memeluk kamu yang selama ini cuma dalam bayanganku?” kata Mukti jujur.


“Aku tidur di kamar sebelah kamu tidur. Aku hanya bisa ngebayangin memeluk kamu. Terus malam ini impian itu kejadian. Ya sudah aku benar-benar terlena. Seakan dunia itu milik aku. Seriusan Yank,” ungkap Mukti. Ayya mengerti itu, tapi kan dia memang sengaja menggoda Mukti tentunya.


‘Untung semalam aku sudah taruh uang dan catatan belanja di meja dapur. Kalau belum bisa-bisa Menik terlambat ke sekolah karena ibunya nungguin aku ngasih daftar belanjaan dan uang,’ batin Ayya.  Ayya langsung ke kamar mandi membersihkan diri dan keluar kamar.


Bu Pinem malah sudah pulang pasar. Bubur sumsum sudah ada di meja lesehan untuk makan.

__ADS_1


Walaupun nanti Ayya sudah tinggal di sini, Ayya tak ingin mempunyai meja makan dengan kursi. Dia tetap ingin menggunakan meja lesehan ini dia tak mau merubah hal-hal khas seperti itu.


__ADS_2