
“Kalau untuk pesaing dalam bidang usaha aku nggak punya gambaran siapa yang benci aku, Pa, Ma, karena diusahaku itu nggak bisa main mau dijegal. Sebab yang kita jual adalah cita rasa di hati. Kalau makanan bisa Ma dijegal, karena cita rasanya ada di lidah. Orang bilang asin pasti semua akan bilang keasinan juga. Tapi kalau cita rasa di hati nggak bisa sama buat orang lain.”
“Ayya itu bisa saja nggak ada apa-apanya buat orang lain. Ayya itu mungkin dapat nilai 4 atau 6 atau 8 dari pria lain, tapi buat aku dia adalah perempuan paling sempurna!”
“Pahatan, lukisan atau lagu sekali pun sama seperti itu. Feel itu tidak bisa kita beli, jadi tidak bisa di jegal harus memilih punya kompetitor. Misal aku bilang pahatan yang ada di tangan aku misalnya, itu bagus. Super sempurna, tapi mungkin buat Made itu nilainya 4. Mungkin buat orang lain lagi menilainya 9, mungkin buat orang lagi misalnya 6. Itu yang aku maksudkan.”
“Jadi kalau untuk menjegal karena usaha yang aku lakukan, itu aku sulit cari kompetitorku. Sulit cari kalau untuk di dunia usahaku,” kata Mukti.
__ADS_1
“Aku enggak tahu kalau misalnya di urusan Ayu atau Ayya. Mungkin ada orang yang tidak suka Ayya jadi sekretarisku. Anak baru masuk tiba-tiba jadi sekretaris pribadiku lalu langsung jadi tunanganku. Itu mungkin saja terjadi.”
“Seperti kita tahu Ayya itu primadona di SMA. Sampai Arjun itu jungkir balik sejak SMA mencintai dia, lalu tiba-tiba ada aktor terkenal baru satu kali lihat, pertemuan kedua kalinya dia langsung menyatakan cinta atau ada juga sutradara terkenal dari Bandung pertama melihat Ayya dia langsung melamarnya menjadi bintang utama di filmnya. Bukan di sinetron tapi di filmnya pada saat pertemuan 6 bulan lalu di Solo. Jadi kita nggak bisa nutup mata mungkin pakai KTP Bali tapi bukan dari usaha aku,” kata Mukti.
“Bukan aku membela diri tapi kalau untuk dari usaha, aku yakin tidak ada,” jawab Mukti. Tentu saja mereka mengerti apa yang Mukti katakan itu.
“Benar juga ya, kalau dalam usahanya Mas Mukti memang nggak terlihat ada indikasi untuk penjegalan seperti itu. Lalu kira-kira siapa Mas yang nggak suka kalau Mas sama Mbak Ayu jadian?” kata Aksa.
__ADS_1
“Pegawaiku tak ada yang marah kalau Ayya aku angkat karena mayoritas pegawaiku itu aku pekerjakan karena aku menolong mereka. Jadi aku rasa tak mungkin mereka kesal pada penolongnya dan kalau yang perempuan semuanya sudah menikah saat aku pekerjakan. Satu orang yang aku angkat sebelum nikah ya hanya Ayya. Karena sejak ketemu di Jakarta memang niatnya aku yang ingin menikahi dia. Sejak pertama kali aku lihat dia menangis di cafe tempat dia kerja di Jakarta, itu memang niat aku. Aku menyukai dia kan dan aku ingin menikahi dia. Itu niatku sejak awal. Bukan baru-baru saja.”
“Bagaimana dengan penari yang waktu itu akan menjebakmu di sini? Kamu pernah cerita itu,” kata Ambar.
“Dan bagaimana dengan Saras?” tanya Angga.
“Nah dua orang itu bisa jadi kita masukkan ke referensi yang kita curigai,” kata Sonny.
__ADS_1
“Coba aku minta data dua orang tersebut kasih ke aku sekarang juga. Biar aku suruh orang yang cari info untuk segera melacak kedua nama ini,” kata Sonny langsung.
“Baik Mas. Aku segera cari datanya penari tersebut. Aku saja sampai lupa siapa namanya serta alamatnya. Sebentar aku cari ke Made atau Wayan karena waktu itu yang ikut ke Solo saat itu adalah Wayan.