CINTA TANPA SPASI

CINTA TANPA SPASI
TERDUGA PELAKU


__ADS_3

“Ma, aku minta bekal nasinya dua porsi ya Ma. Lauknya dipisah terus juga bawain aku roti beberapa tangkep. Ah nggak usah. Rotinya enggak usah Ma. Nanti rotinya aku beli saja yang isi daging atau isi bakso di bakery sambil aku ke pameran,” kata Mukti.


“Yang penting nasinya saja dua porsi. Karena aku takutnya makan siang dan makan sore atau makan malam hari di pameran. Ini kan persiapan untuk penutupan besok, jadi aku pasti sampai malam di sana,” ucap Mukti.


“Tapi kalau kamu belum mau makan, jangan dibawa ke mana-mana itu tempat nasi. Takutnya saat kamu tinggal bisa saja diberi sesuatu sama orang lain,” kata Angga. Dia masih takut cucunya kembali diberi sesuatu oleh orang lain.


“Iya Eyang. Akan aku taruh di mobil. Kalau di mobil dibuka kan pasti berisik. Alarmnya pasti bunyi. Aku nggak akan bawa ke ruangan pameran sebelum mau aku makan. Nanti malah bisa terkontaminasi oleh pemberian orang lain,” ujar Mukti yang lebih takut dari siap pun soal pemberian zat tak baik di makanannya. Dia trauma akan hal itu. Karena dengan adanya zat tak benar dalam makanannya dia kehilangan belahan jiwanya.


“Enggak ada juice Ma?” tanya Mukti. Dia sungguh kehilangan semua perlakuan Ayya yang sangat special. Tak ada kopi pagi, tak ada juice dan tak ada larangan tambah kopi.


“Kalau jus nggak ada. Kamu lebih baik beli minuman isotonik dengan botol super-super kecil jadi kamu taruh di sakumu saja. Botol kecil yang kemasan 200 ml atau 250 itu lebih aman. Karena takutnya kalau botol besar-besar tidak masuk di saku dan kalau air mineral gelas tidak bisa kamu masukin saku bila telah kamu minum sedikit. Lalu kalau botol agak besar nanti kamu geletakin sembarangan juga bahaya,” kata Ambar.


“Baik Ma. Nanti aku beli minuman isotonik saja kecil-kecil,” ucap Mukti.


“Ya, kamu beli itu sama roti saja. Biar nasinya Mama siapkan sehabis kita sarapan. Memangnya kamu mau berangkat jam berapa?” tanya Ambar.


“Tunggu Wayan dan Made Ma. Mereka akan datang ke sini untuk ikut sarapan. Aku suruh mereka sarapan di sini.”

__ADS_1


“Mereka mau dibawain nasi juga?” tanya Ambar.


“Jangan Ma. Biarin saja. Nggak enak kalau kita selalu supply nanti dikiranya kita mau atur mereka,” ucap Mukti.


“Kalau mereka mau, Mama bisa bawakan dengan tempat mika, kan nggak dikembalikan nggak apa-apa. Kalau hanya thin wall, mereka buang pun tak apa-apa koq,” ucap Ambar.


“Nanti aku tanya mereka dulu ya Ma. Jangan kita kasih nanti takutnya mereka merasa tersinggung.”


“Ya, nanti begitu mereka datang kamu tanya saja. Mereka mau atau tidak.” balas Ambar.


“Jadi Ma, orang ku sudah tanya kepada beberapa orang di Bali sana. Ternyata sekarang sedang marak penggunaan KTP orang yang sudah meninggal, tapi sedang dibuat akta kematian. Sehingga di DUKCAPIL data itu masih ada. Kalau sudah dibuat akta meninggal, NIK dan KTP-nya pasti langsung tidak terdata karena sudah terhapus sistem. Jadi tidak bisa buat daftar. Kalau baru dibikin akta kan masih ada namanya di DUKCAPIL. Nah mereka dapatkan data itu dari tempat pembuangan fotocopy. Jadi tidak bisa dilacak siapa pelakunya Ma.” ucap Sonny saat mereka sudah bicara selepas Mukti berangkat ke pameran bersama Made dan Wayan.


“Lalu apa yang kamu ingin bicarakan kok nggak boleh tahu Mukti?” kata Angga.


“Ternyata Saras dan Silvana itu kakak beradik kandung Eyang,” jawab Sonny.


“Maksud kamu bagaimana?” tanya Abu.

__ADS_1


“Mereka kakak adik kandung. Sejak kecil Silvana dirawat oleh kakak mamanya Saras, sehingga dia jadi penari sedangkan Saras dirawat sendiri oleh mamanya dan jadi pelukis,” ucap Sonny.


“Kalau Mukti tahu ini, dia pasti akan segera menghampiri Saras atau Silvana karena dia pasti curiga. Kan bahaya untuk program kerjanya Mukti. Sedang habis penutupan saja dia tak bisa langsung pulang ke Bali karena harus evaluasi dulu kan?”


Lalu mereka terus bicara masalah Silvana dan Saras.


“Bagaimana dengan pengacaranya Saras? Apa dia terlibat?”


“Pengacara Saras tentu tidak berani melakukan hal kotor seperti ini. Dia orang mengerti hukum. Sekarang saja jenjang karirnya sudah mulai menukik gara-gara dia salah ucap membela Saras mengatakan bahwa hasil visum dari dokter kecantikan itu tidak benar. Sehingga akhirnya banyak orang yang mundur dari kasusnya yang dibela dia,” jelas Sonny.


“Bagaimana dengan Carlo?” tanya Ambar.


“Carlo sudah hampir 3 minggu ini dia menetap di Solo. Itu sebabnya dia sering bolak-balik ke cafe tempat Mukti mendapat musibah. Tapi aku belum tahu apa kepentingan dia ke sana. Cuma semua orang tahu artis itu rajin datang ke cafe tersebut.”


“Berarti dia masih bisa kita jadikan kemungkinan terduga pelaku ya?” kata Angga.


“Iya Eyang. Masih bisa. Nanti kita lanjut lagi pencarian data tentang Carlo,” jawab Sonny.

__ADS_1



__ADS_2